Zonasi, Era Sulit Sekolah Favorit

Kualitas Input Merosot Akibat Sistem Zonasi

MALANG KOTA – Sejumlah SMPN favorit di Kota Malang merasakan imbas pemberlakuan kuota 60 persen sistem zonasi (wilayah). Pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2018 misalnya, passing grade (standar nilai yang diterima) di sekolah favorit merosot jika dibandingkan tahun sebelumnya. Apakah ini tanda era sulit sekolah favorit?

Merosotnya kualitas pendaftar itu terlihat di tiga sekolah yang selama ini dikenal favorit. Yakni SMPN 1, SMPN 3, dan SMPN 5. Berdasarkan data pendaftar PPDB 2018 di website Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, pendaftar dengan nilai ujian nasional (NUN) 50,4 bisa diterima di SMPN 1 Kota Malang. Padahal pada PPDB 2017 lalu, NUN terendah yang lolos seleksi di SMPN 1 adalah 58,28.

Demikian juga di SMPN 3 Kota Malang. Pada PPDB 2018 ini, pendaftar dengan NUN 50,5 juga bisa lolos. Sementara pada tahun sebelumnya, 2017, passing grade terendah di sekolah itu adalah 64,58. Kondisi pendaftar di sekolah favorit itu kontras dengan sekolah pinggiran atau yang tidak berlokasi di pusat kota. Misalnya SMPN 22, passing grade pendaftar pada PPDB 2018 ini meningkat jika dibanding tahun sebelumnya. Tahun ini, pendaftar NUN terendah 43,3. Sedangkan PPDB tahun 2017 masih menerima NUN 42,17 (selengkapnya baca grafis).

Kepala SMPN 1 Kota Malang Lilik Ermawati MPd merasakan kemerosotan passing grade di sekolahnya. Bahkan, dia memperkirakan sekitar 45 persen yang mendaftar di sekolahnya mempunyai NUN rendah.

”Saat ini, modal kartu keluarga (KK) saja bisa masuk sekolah terbaik (favorit). Lalu, buat apa ada ujian kalau masuk sekolah terlalu mudah,” keluh Lilik, kemarin (16/7).

Lilik yakin, keluhan itu tidak hanya dirasakan sendiri. Para kasek yang memimpin sekolah favorit diduga juga merasakan kemerosotan input. Menurut Lilik, biang merosotnya input siswa karena pemberlakuan kuota 60 persen PPDB jalur wilayah.

Sebenarnya, Lilik tidak mempersoalkan adanya penambahan kuota jalur wilayah dari 40 persen menjadi 60 persen. Namun, kualifikasinya tidak hanya berdasarkan jarak domisili calon siswa dengan sekolah. Melainkan ada kriteria tambahan. Misalnya mempertimbangkan nilai rata-rata rapor dan NUN calon siswa.

Menurut Lilik, sistem zonasi bisa mengadaptasi sistem lawas. Yakni menggunakan NUN atau rata-rata rapor untuk menyeleksi siswa.

”Sekolah itu tujuannya untuk menantang siswa menjadi lebih baik. Jika sistem awalnya sudah tidak menantang, ke depan mereka jadi manja dan tidak mau susah,” kata dia.

Seperti diberitakan, penambahan kuota 60 persen sistem zonasi merupakan kebijakan baru Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (Mendikbud) RI Muhadjir Effendy. Dengan sistem ini, siswa ber-NUN rendah yang tinggal di sekitar sekolah favorit diuntungkan. Jika selama ini mereka kesulitan masuk sekolah karena kalah bersaing dengan pendaftar lain yang berdomisili di pinggiran kota, kini peluang mereka terbuka lebar. Sebab, di jalur zonasi ini, standar penilaiannya tidak didasarkan pada NUN tinggi. Tapi jarak domisili. Yakni domisili kurang dari 200 meter dari sekolah yang dituju.

Lilik bersama para kasek lain sudah menemui Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Malang Sutiaji pada 1 Juli lalu. Dalam pertemuan di SMKN 2 Kota Malang itu, para kasek meminta Sutiaji memperjuangkan agar Muhadjir mempertimbangkan kebijakannya tersebut. Setidaknya, tahun depan ada perubahan sistem.

Pewarta: Sandra Desi
Penyunting: Mahmudan
Foto: Bayu Eka