Yuyun Sofiyah Karlina, Perajin Keramik Berprestasi

Tak banyak perempuan muda di Malang Raya yang seperti Yuyun Sofiyah Karlina. Di usianya yang masih 25 tahun, dia mengambil pilihan hidup tak biasa: Menjadi seniman patung. Tak sembarang menjadi seniman, Yuyun bahkan pernah mendapatkan kesempatan mengajar di luar negeri.

PASSION: Yuyun Sofiyah Karlina, perajin keramik berprestasi asal Kota Batu, yang karyanya didominasi mengenalkan karakter Malang hingga ke Tokyo Jepang. foto - Dokumen Pribadi

Keramik beraneka bentuk tertata rapi di sebuah rumah yang beralamat di Jalan Bromo RT 03/RW 10, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, Kota Batu. Mulai dari keramik berbentuk perempuan Jawa yang tengah bersolek hingga piring bergambar cake.

Keramik-keramik yang dipajang di ruangan itu seluruhnya merupakan buah kreasi Yuyun Sofiyah Karlina. Saat ini, Yuyun tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Seni pada Program Studi Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI).

Saat ini, bisa dibilang tak banyak anak muda yang mau menekuni kerajinan keramik. Tapi, Yuyun sudah membuktikan bahwa lewat keramik, dia bisa meraih prestasi. Dia juga bisa melihat dunia lebih luas.

Antara 2011-2016, Yuyun aktif mengikuti pameran. Di antaraya pameran bertajuk Eksposisis yang digelar di Galeri Nasional Jakarta pada 2013 Lalu, dia juga pernah menjadi peserta pameran Vaccum di Bentara Budaya Jogjakarta pada.

“Tak mudah untuk ikut pameran-pameran speerti itu. Sebelumnya, saya dan seniman lain harus melalui proses kurasi. Jadi, barang seni yang mau kita pamerkan harus dilihat, apakah sesuai dengan tema atau tidak. Apakah sudah memenuhi syarat atau tidak,” jelas dia.

Kesempatan langka didapat oleh lajang yang berulang tahun tiap 19 Mei itu pada 2013 lalu. Yakni saat dia mendapatkan kesempatan untuk studi banding di Tokyo University of Arts. “Saya ditunjuk oleh kampus. Sebelumnya, ada seleksi internal yang digelar di kampus,” ujar dia.

Di Jepang, Yuyun mendapatkan waktu dua hari untuk belajar keramik di Tokyo University of Arts.  “Saya melihat Jepang pintar dalam menjaga budayanya. Terutama kerajinan keramik. Mereka benar-benar total,” kata gadis kelahiran 1992 ini.

Satu hal yang membuatnya tertarik adalah, seniman Jepang sangat memperhatikan detail dan hasil akhir yang halus. “Mereka juga tak pakai warna macam-macam (terlalu banyak warna) pada patung keramik buatannya. Keramik mereka sulit untuk ditiru,” ujar dia.

Tak hanya sekadar belajar dari para seniman Jepang, Yuyun juga mengenalkan keramik khas Malang kepada mahasiswa Tokyo University of Arts. “Saya mengajar teknik pembuatan patung tradisional loro-blonyo (pengantin adat Jawa). Ternyata, mereka sangat menghargai budaya kita,” katanya.

Selain itu, di Jepang, Yuyun juga memperkenalkan konsep kit.pot atau kitchen pottery. Arah konsepnya lebih ke produk tableware (peralatan makan dan minum), tap dengan desain yang tidak mainstream. “Karakter merupakan hal yang penting dalam penciptaan karya. Itulah yang saya kejar,” kata alumni SMAN 01 Batu ini.

Selalu ada kepuasan yang dirasakan Yuyun tiap kali bergulat dengan keramik. Aktivitas ini sudah intens ia lakukan sejak 2010 lalu, atau selepas menyelesaikan studinya di SMAN 01 Batu. “Waktu SMA, saya tertarik dengan seni menggambar. Suka bikin-bikin sketsa. Tapi setelah lulus, saya malah suka dengan keramik,” ujar dia.

Dia teringat dengan masa kecilnya, ketika tangannya menyentuh tanah liat dan membentuknya. “Dulu waktu kecil, ibu sering sekali belikan malam atau lilin,” ujar dia.

Dari sekian banyak bentuk yang pernah ia buat, Yuyun lebih suka figure manusia. Namun dalam bentuk surealis dan dekoratif.

Di antaranya, Yuyun pernah membuat figur dirinya sendiri, tapi dalam ukuran dan model seperti kurcaci. Lalu, ada pula wujud seorang laki-laki yang duduk di kursi, sementara disampingnya terdapat gitar klasik.

Soal karakter, Yuyun mengaku masih terus berproses. Dia juga berharap, apa yang ia lakukan ini memberi manfaat bagi dunia seni, khususnya keramik di tanah air. “Saya sedang dalam  penelitian masalah atau fenomena seni yang terkait objek keramik di Indonesia,” kata dia.

Penelitiannya itu didasari fenomena industri keramik di berbagai daerah, tak terkecuali di Malang yang kian hari makin susut. Banyak pengrajin yang memilih gulung tikar, karena tak sanggup bersaing dengan keramik-keramik asal Tiongkok. Harga keramik impor biasanya malah lebih murah.

Tapi bukan hanya soal harga saja yang membuat keramik lokal kalah. Dia menduga, keramik lokal belum memiliki ciri khas yang kuat. Atau mungkin lupa dengan ciri khasnya. “Karena itu, perlu diteliti lagi terkait industry, budaya, dan seperti apa karakter keramik yang ideal untuk mewakili potensi daerah,” pungkasnya. (*/c2/muf)

 

Judul Sambungan :

Teliti soal Pudarnya Pamor Keramik Lokal