Yudi Latief Sebut RI Hadapi Ancaman Disrupsi Kebangsaan

JawaPos.com – Pemerhati kebangsaan Yudi Latief menjadi pemateri dalam Seminar Nasional Kebudayaan (SNK) II di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur (Jatim), Rabu (7/11). Pada kesempatan ini, dia menyebutkan bahwa Indonesia tengah menunjukkan tanda menghadapi ancaman disrupsi kebangsaan.

Konektivitas fisik mengalami kemajuan. Ini ditandai dengan pembangunan infrastruktur perhubungan dan penggunaan sosial media yang sangat intens. Namun konektivitas mental dan kejiwaan mengalami kemunduran.

Mantan Kepala Unit Kerja Presiden Pembina Ideologi Pancasila itu menjabarkan, dulu dunia persekolahan dan media menjadi jendela keterbukaan bagi pergaulan lintas kultural dan pertukaran pikiran. Namun sekarang mengalami gejala pengerdilan.



“Pelemahan minat baca, penyempitan daya jelejah pemahaman, menumpulkan sikap empati terhadap yang berbeda. Gejala eksklusivitas meluas dengan tumbuhnya pusat-pusat pemukiman, sekolah dan dunia kerja dengan kesenjangan sosial yang curam,” papar Yudi.

Komunitas moral bersama mengalami retakan karena memudarnya komitmen untuk menetapkan dan memelihara moral publik. Basis moral organisasi-organisasi sosial politik pun tidak begitu jelas.

Dari enam nilai dalam matriks moral publik, satu-satunya yang relatif terus diagungkan adalah nilai kebebasan (liberty). Selebihnya, tidak tampak keseriusan mempedulikan apa yang mengancam keselamatan bersama. “Sulit menemukan basis sosial yang gigih memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum,” kata Yudi.

Menurutnya, juga terjadi peluluhan loyalitas terhadap institusi-institusi dan tradisi kebangsaan. Penghormatan terhadap otoritas hukum dan kepemimpinan merosot. Untuk menjawab tantangan bangsa, harus lebih banyak usaha semacam saat Asian Games. Yakni menumbukan similaritas dan keterpaduan dari keragaman Indonesia.

Kompetisii dengan bangsa-bangsa lain bukan saja bisa memacu prestasi. Tapi juga bisa menransformasikan konflik-konflik persaingan internal menuju kontestasi dengan lawan bersama dari luar.

“Persepsi tentang kepentingan bersama memang tidak hanya bisa ditumbuhkan lewat nasionalisme negatif defensif (melawan musuh dari luar). Bisa juga dihidupkan lewat nasionalisme positif progresif (membangun agenda kemajuan, keunggulan dan persemakmuran bersama),” imbuhnya.

Selain itu, Yudi menyarankan harus lebih banyak ruang-ruang perjumpaan yang memungkinkan warga bisa melintasi batas-batas identitas. Institusi-institusi demokrasi harus ditata ulang dalam kerangka memperkuat persatuan dan keadilan.

(tik/JPC)