Yolanda, Peserta Audisi Miss Indonesia yang Jago Karate




JawaPos.com– Audisi Miss Indonesia 2019 digelar di Hotel Wyndham, Surabaya, Minggu (16/9). Sebanyak 34 peserta dari berbagai provinsi mengikuti ajang kecantikan tersebut.



Tidak hanya bermodal paras ayu, para peserta juga punya beragam bakat. Salah satunya adalah Yolanda Luciana Tuasela. Dia punya latar belakang sebagai atlet karate.




Yolanda mengaku, berkecimpung dengan karate sejak kelas 3 SD. Olahraga itu terus digelutinya hingga bangku kuliah. kuliah di Universitas Pelita Harapan. “Aktivitas karate masih jalan selama kuliah. Saya bisa kuliah karena beasiswa karate,” ujar mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Pelita Harapan, Surabaya, tersebut.



Namun, Yolanda memutuskan untuk berhenti dari dunia karate sejak Jumat kemarin (14/9). Alasannya, dia mulai tertarik dengan dunia make up artist (MUA). Ditambah lagi, dia harus bersiap mengikuti ajang Miss Indonesia.





Yolanda mengaku hanya melakukan beberapa persiapan kecil. Misalnya, belajar berlenggak-lenggok ala model dengan memakai sepatu high heels. Tidak terlalu sulit. Yolanda mengaku hanya butuh waktu seminggu untuk mempelajarinya.



Selain itu, dia juga menjaga pola makan. Gadis berusia 21 tahun itu ingin mempunyai postur tubuh yang ideal seperti model pada umumnya. “Bukan diet. Tapi hanya menghindari makan pada jam malam. Kalau nggak makan saat malam, berat badanku pasti turun,” kata Yolanda. 



Tak hanya persiapan fisik. Yolanda juga punya visi dan misi. Dia punya cita-cita yang ingin dicapai melalui ajang Miss Indonesia itu.



Yolanda ingin menjadi contoh dan memotivasi semua perempuan Indonesia. Terutama, gadis yang kerap berpenampilan tomboi.



Menurutnya, cewek tomboi masih punya identitas dan jati diri sebagai perempuan. Dia percaya, apapun tampilannya, perempuan masih terlihat feminim, cantik, anggun, dan menjaga norma kesopanan.



Selain itu, dia juga ingin menjadi inspirasi bagi anak-anak yang kehilangan sosok orang tuanya. Menurutnya, seseorang jangan sampai menjadi pribadi yang patah semangat. Meskipun, dalam keadaan yang tidak mendukung sekalipun. 



 



“Aku juga suka anak-anak. Aku ingin ngajarin anak-anak yang kehilangan figur orang tua tentang value hidup,” imbuh peraih emas pada Bassel Open Masters International Championship di Swiss lima tahun lalu itu.



(HDR/JPC)