Yogi Suprayitno Hadi, Penggagas Bioplant Energy dari Kelurahan Blimbing

Diprotes Istri karena Habiskan Pot, Ajak Anak Penelitian Bareng

Yogi Suprayitno Hadi foto bersama tanaman hias yang memakai energi ramah lingkungan.

Dia adalah sarjana akuntansi. Tapi, hobinya di bidang energi ramah lingkungan menghasilkan karya yang canggih. Melalui inovasi bernama Bioplant Energy ini, lampu hias di taman tak lagi menggunakan listrik PLN. Tapi, cukup dari tanaman yang ada di pot. Inovasi ini menjadi salah satu penyebab Kelurahan Blimbing juara di Otonomi Award 2018.

Beberapa pot bunga yang tak biasa, tertata rapi di depan balai RW 1, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Blimbing, Selasa lalu (12/7). Disebut tak biasa, karena pada akar tanaman di pot itu tampak dua jenis kabel, yakni kabel warna hitam dan merah. Kabel itu ada yang berdaya positif dan ada yang berdaya negatif.

Di sela-sela daun tanaman juga tampak lampu light emitting diode (LED) menyala warna-warni. Indah saat malam tiba. Tapi, yang membuat banyak orang takjub, bukan keindahan itu. Melainkan, karena lampu ini hidup tanpa dialiri listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Lampu itu hidup dari dua kabel yang tertanam dalam pot tersebut.

Seperti itulah inovasi ramah lingkungan karya warga Kelurahan Blimbing, Yogi Suprayitno Hadi. Inovasi inilah yang menjadi salah satu penyebab Kelurahan Blimbing menjadi yang terbaik di Otonomi Award 2018 yang diadakan oleh Pemkot Malang. Setelah meraih juara itu, Selasa lalu (12/7), inovasi ini dipamerkan kepada tim juri dalam Lomba Antar Kelurahan/Desa Tingkat Jatim. Inovasi itu diberi nama Bioplant Energy.

”Sudah empat tahun ini risetnya. Sekitar tahun 2013–2014 lalu mulainya,” kata Yogi kepada Jawa Pos Radar Malang di sela-sela menjelaskan cara kerja sistem Bioplant Energy kepada tim juri, Selasa (12/7).



Pria kelahiran 20 Mei 1970 ini mengaku, sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP), dia sudah menyukai dunia elektro. Namun, hobi tersebut tidak bisa berjalan hingga dia menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Hal itu karena Yogi diterima di Jurusan Akuntansi Universitas Brawijaya (UB).

”Hobi otak-atik kelistrikan sejak SMP. Tapi kuliahnya akuntansi,” ungkap bapak satu anak ini.

Meski menjadi sarjana akuntansi, hobi tersebut terus dikembangkan, terutama saat sang buah hati menginjak pendidikan di SMA. Salah satu tujuannya adalah mengenalkan dunia riset kepada sang buah hati, Aulia Anissa Wardhani. Bahkan, halaman rumahnya juga dijadikan laboratorium, di mana laboratorium ini menjadi tempat riset bersama sang buah hati.

”Kebetulan anak suka ilmu pengetahuan alam (IPA), sekalian kolaborasi,” terangnya.

Pengembangan Bioplant Energy bermula dari keisengan Yogi membaca sebuah artikel dari salah satu universitas di Amerika Serikat, Howard University. Namun, cara kerja dan formulanya tidak dijelaskan di dalam artikel tersebut alias disembunyikan oleh pembuat artikel.

Hal ini yang membuat Yogi makin penasaran dengan artikel tersebut. Sehingga, Yogi berkolaborasi dengan sang buah hati untuk memecahkan rasa penasarannya.

”Kalau ada kendala, bisa ditanyakan ke guru fisika dan kimia anak saya di sekolah. Kebetulan dia suka dengan dua pelajaran ini,” ungkap suami Ana Wahyu Handayani ini.

Uji cobanya bersama sang buah hati tak selalu berjalan mulus. Bahkan, bisa dibilang sering gagal. Sehingga, kondisi ini membuat sang istri, Ana Wahyu Handayani, protes. Karena pot di rumah habis digunakan untuk uji coba Yogi dan putrinya.

”Sering diprotes istri, karena potnya dipakai penelitian,” terangnya.

Singkat cerita, uji coba tersebut membuahkan hasil. Artinya, lampu LED yang dihubungkan dengan formula khusus di dalam akar pohon dapat menyala.

”Pokoknya harus ada tembaga dan seng. Ini yang memecah listrik positif dan negatifnya,” imbuh mantan karyawan Jawa Timur Park Group ini.

Sederhananya, energi tersebut sisa dari proses fotosintesis tanaman saat siang hari. Persentasenya 70 persen untuk keperluan tanaman dan sisanya 30 persen untuk cadangan. Cadangan ini dimanfaatkan untuk mengaliri lampu LED.

”Semua tanaman ada kandungan listriknya, tapi harus ada isolatornya. Isolatornya kami pakai pot tadi,” ujarnya.

Daya listrik tersebut juga sangat mungkin untuk terus dikembangkan, sehingga menghasilkan energi lebih. Namun, untuk sementara, Yogi masih menggunakan pot. Salah satu alasannya adalah untuk hiasan ramah lingkungan pada malam hari.

”Konsep ini bisa untuk hiasan di tempat belanja. Jadi bisa mengurangi penggunaan listrik,” ungkap mantan pegawai D’topeng Kingdom Batu ini.

Tak hanya itu, ide tersebut juga sudah pernah diikutkan putrinya dalam lomba karya ilmiah remaja (KIR) tingkat nasional di salah satu perguruan tinggi. Hasilnya, putrinya meraih juara II pada lomba tersebut. Kondisi ini membuat Yogi terus terpacu untuk mengembangkan dan mematenkan karya tersebut.

Saat ada event Lomba Antar Kelurahan/Desa Tingkat Jatim, Lurah Blimbing Roni Kuncoro menawari Yogi untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Sehingga, dia juga melatih warga setempat untuk membuat inovasi ramah lingkungan.

”Kebetulan, kartu tanda penduduk (KTP) kami juga masih Blimbing,” kata dia.

Ke depan, Yogi akan terus mengembangkan risetnya agar lebih sempurna. Sehingga, bisa dimanfaatkan masyarakat secara lebih luas. ”Saya terus lakukan penyempurnaan agar warga mudah memanfaatkan,” harap Yogi.

Sementara itu, Heru Suseno, sekretaris panitia Lomba Antar Kelurahan/Desa Tingkat Jatim menyatakan, inovasi tersebut terbilang baru. Karena pada ajang sebelumnya, tidak ada daerah yang menyajikan inovasi ramah lingkungan.

Pihaknya sangat berharap, inovasi tersebut terus dikembangkan. Sehingga, bisa menjadi solusi bagi daerah yang belum dialiri energi listrik dari PLN.

”Inovasi ini baru, kalau dikembangkan bisa menolong daerah yang belum ada listrik,” ungkap pria yang tinggal di Surabaya ini.

Pewarta: Imam Nasrodin
Penyunting: Irham Thoriq
Foto: Imam Nasrodin