Yang Menangguk Untung pada Idul Fitri: Omzet Naik Hingga 150 Persen

Momen Lebaran tidak hanya berkaitan dengan religius. Tetapi, juga memberikan efek ekonomi bagi sejumlah pelakunya. Banyaknya restoran yang tutup dan tingginya jumlah orang yang tidak mudik adalah celah ekonomi yang layak untuk disasar. Jika cermat, Lebaran bisa menjadi waktu untuk menangguk untung.

SUDAH seminggu ini Food Festival East Coast Center (ECC) kebanjiran pengunjung. Nyaris tidak ada meja yang lowong lama di tempat kuliner berkonsep outdoor itu. Pengunjung yang membawa anak-anak bisa sekaligus bermain di wahana permainan yang disediakan di area tempat makan tersebut.

Mulai carousel, mobil hias, kuda, becak sepeda, trampolin, kereta kelinci, go-kart, hingga balon air. “Cari tempat makan sekaligus tempat refreshing yang bisa nemenin anak-anak main,” ujar Nuning Lastuti, salah seorang pengunjung dari Gresik yang datang bersama keluarganya.



Andy Darmawan, salah satu pemilik resto di Food Festival, mengatakan selama libur Lebaran selalu kebanjiran pengunjung. Bahkan, banyaknya pengunjung terlihat sejak Ramadan. “Ini tahun ketiga saya jualan di sini. Setiap tahun trennya hampir sama. Lonjakan paling banyak itu di H-1 Lebaran sampai H+7 nanti. Banyak tempat makan dan pasar yang masih tutup. Asisten rumah tangga juga belum kembali dari mudik,” ujar pemilik owner Grill 168 itu.

Andy menambahkan, ramainya pengunjung diperkirakan berlanjut hingga libur sekolah selesai. Karen itu, untuk memenuhi kebutuhan pasar, stok makanan yang dijual ditambah hingga dua kali lipat. “Normalnya 100 porsi. Kalau momen begini, ditambah jadi 150-200 porsi. Omzetnya sendiri meningkat hampir 30-40 persen,” imbuh lelaki 30 tahun itu.

Harianto, tim promosi Food Festival, menuturkan bahwa selama libur Lebaran, peningkatan pengunjung hampir dua kali lipat. Yakni, 3.500 pengunjung setiap hari. “Didominasi oleh mereka yang sudah berkeluarga,” ujarnya.

Tidak hanya tempat kuliner, momen libur Lebaran juga dimanfaatkan para pedagang online. Khususnya, mereka yang menjual makanan ringan hingga kue-kue kering.

Fransisca Wijaya, pemilik Pastel Abon Oeynakkk, mengatakan bahwa Ramadan hingga Lebaran memang membawa rezeki baginya. Bahkan, penjualan pastel abon buatannya bisa meningkat hingga 150 persen daripada hari biasanya. “Puncaknya H-7 hingga hari H Lebaran, banyak pesanan dari customer,” katanya.

Bahkan, pemesan tidak hanya berasal dari area Surabaya, tetapi juga luar kota. Mulai Garut, Jakarta, Bandung, Kalimantan, hingga Sulawesi. Mayoritas pemesanan dilakukan secara online melalui marketplace. “Saya manfaatkan promosi lewat online. Selain media sosial, marketplace, juga lewat aplikasi ojek online,” ujarnya.

Fransisca menyatakan, hanya dalam kurun waktu dua minggu, omzet bisa mencapai Rp 9 juta. Banyak costumer yang memesan pastel abon untuk dikonsumsi sendiri, oleh-oleh, hingga sajian Lebaran. “Trennya dari tahun ke tahun selalu meningkat. Apalagi menjelang Lebaran,” imbuhnya.

Momen libur Lebaran juga dimanfaatkan para ojek online (ojol) untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Dwi Heri Santoso, salah seorang driver ojol, mengatakan saat Hari Raya Lebaran justru kebanjiran order. “Saya mulai sejak November 2017. Biasanya, keuntungannya meningkat,” kata pria asal Kedung Sroko, Pacar Kembang, itu.

Dwi menceritakan, berdasar pengalaman libur Lebaran pada 2017, keuntungan yang dihasilkan bisa mencapai Rp 150 ribu per hari. Pada 2018, dia meraup Rp 200 ribu per hari. “Kalau hari biasa hanya Rp 100 ribu,” tutur pria 34 tahun tersebut.

Sementara itu, Humas Perhimpunan Driver Online Indonesia (PDOI) Cabang Jawa Timur Daniel Lukas Rorong mengatakan, keuntungan para driver diprediksi turun pada 2019. Itu terjadi karena mulai menumpuknya driver. “Otomatis ini memengaruhi jumlah pesanan dan pendapatan rekan-rekan driver,” ujarnya.

Meski demikian, driver harus tetap bersyukur. “Mereka malah makin giat,” katanya. Sebab, penyedia jasa ojol memberikan beragam reward kepada driver. Di antaranya, smartphone dan uang tunai. “Itu bagi mereka yang mendapatkan order terbanyak,” kata Daniel.

Lebaran memang tidak hanya menjadi puncak spiritualitas Ramadan. Lebaran juga bisa menjadi pembangkit ekonomi dan menyejahterakan umat.

RS Hewan Unair Juga Banjir Order

SALAH satu hal yang memusingkan para pemudik yang mempunyai hewan peliharaan adalah bagaimana nasib hewan peliharaannya? Mau dibawa ribet. Tidak dibawa, hewan tidak terurus. Itulah yang kemudian membuat sejumlah tempat penitipan hewan ramai. Bahkan, RS Hewan Pendidikan Unair kebanjiran permintaan.

Sejak H-7 Lebaran, RS Hewan Pendidikan Unair ramai pengunjung yang ingin menitipkan hewan kesayangannya. Mulai kucing, anjing, kelinci, hingga sugar glider. Total hewan yang dititipkan mencapai 60 ekor.

Direktur RS Hewan Pendidikan Unair Prof drh Kusnoto Supranianondo mengatakan, salah satu layanan yang disediakan di RSH Pendidikan Unair adalah titip sehat.

Sejak dibuka tahun lalu, peminat layanan titip sehat terus meningkat. Khususnya saat libur panjang Lebaran. “Tahun ini meningkat cukup banyak dibandingkan hari biasanya,” katanya.

Prof Kusnoto menjelaskan, yang menitipkan hewan ke RSH Pendidikan Unair rata-rata sudah langganan. Tidak sedikit yang booking terlebih dahulu seminggu sebelum Lebaran untuk bisa mendapatkan layanan titip sehat. “Ada juga yang datang langsung ke RSH,” ujarnya.

Jenis hewan yang dititipkan beragam. Namun, kucing dan anjing paling banyak. Hewan-hewan yang akan dititipkan harus melalui seleksi yang ketat. Statusnya harus sehat. Dengan jaminan, ketika masuk dalam kondisi sehat, hewan tidak akan sakit saat diambil pemiliknya. “Jadi, kami jaga agar hewan yang dititipkan tidak sakit apa pun. Itulah yang dinamakan program layanan titip sehat,” kata Kusnoto.

Kusnoto menambahkan, hewan yang masuk harus divaksin terlebih dahulu. Sebelum hewan masuk, petugas kesehatan hewan akan memeriksa status dalam buku vaksin hewan itu. Vaksinasi hewan minimal satu minggu sebelum dititipkan. “Kalau belum divaksin, tidak kami terima. Sebab, divaksin saat masuk sama saja bohong. Sekali vaksin, efeknya baru berlaku satu minggu kemudian,” jelasnya.

Selain harus sudah divaksin, hewan harus bebas kutu. Karena itu, ada pemeriksaan hewan ketika datang. “Hewan itu punya tingkat stres. Kalau hewan yang dititipkan ternyata sakit, hewan-hewan lainnya akan tertular,” ujarnya.

Kusnoto mengatakan, setiap ruang penitipan hewan memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Kandang-kandang yang disediakan juga memenuhi standar sekaligus disterilkan terlebih dahulu. “Jika ada yang titip hewan dengan kandangnya, kandang juga harus disterilkan terlebih dahulu,” jelasnya.

Selama libur Lebaran, ada satu dokter hewan yang bertugas untuk mengecek hewan-hewan yang dititipkan. Ada pula koas (ko-asisten) dokter hewan yang bertugas. “Selain titip sehat, di RSH Pendidikan Unair juga ada yang opname. Sementara, total ada 10 ekor hewan yang diopname,” katanya.

Selain itu, RSH Pendidikan Unair memberikan fasilitas grooming. Biasanya, para pemilik hewan menambah layanan grooming untuk memanjakan hewan-hewan kesayangan selama dititipkan. “Untuk pelayanan grooming ini, ada tambahan biaya,” ujarnya.