Wuhan Diisolasi, 12 Mahasiswa Unesa Menangis Tidak Bisa Pulang

JawaPos.com – Kebijakan pemerintah Tiongkok mengisolasi Wuhan berimbas pada 12 mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang belajar di Central China Normal University (CCNU). Kampus itu berada di Luonan Subdistrict, Hongshan District, Wuhan.

Rektor Unesa Prof Nurhasan menyatakan, 12 mahasiswa itu menerima beasiswa belajar di CCNU. Sembilan di antara mereka adalah penerima beasiswa Pusat Bahasa Mandarin Unesa (Confucius Institute). Tiga lainnya mendapat beasiswa dari pemerintah Tiongkok. ’’Semua di sana baik-baik saja,’’ ujar Nurhasan kemarin.

Jawa Pos menghubungi Dian Aprillia Mahardini, mahasiswi Unesa yang berada di Wuhan, melalui sambungan telepon tadi malam. Saat dihubungi, Dian mengaku sedang bersama teman-teman sesama mahasiswa Unesa. Mereka berkumpul untuk saling menguatkan. ’’Kami kadang belajar bersama atau masak bersama untuk mengisi waktu. Agar tidak pusing dan sedih,’’ ungkapnya.

Penutupan akses Wuhan membuat Dian dan teman-temannya hidup dalam keterbatasan. Perempuan 22 tahun asal Krian, Sidoarjo, tersebut menceritakan, empat temannya yang ikut program belajar satu semester sebenarnya sudah menyelesaikan studi. Empat orang itu adalah Faizzatus Sukriyah, Fitra Suryaning Wulan, Pramesti Ardita Cahyani, dan Husniah. Mereka berencana pulang pada 1 Februari mendatang. Tiket pesawat bahkan sudah dibeli sejak jauh hari. Namun, rencana kepulangan tersebut terancam batal karena akses keluar-masuk Wuhan ditutup. ’’Teman-teman menangis. Takut nggak bisa pulang,’’ ujarnya.

Dia membenarkan bahwa pemerintah setempat mengimbau semua orang untuk tidak beraktivitas di luar rumah. Karena itu, Dian dan teman-teman lebih sering tinggal di dalam asrama. Mereka juga mematuhi imbauan pemerintah untuk memeriksa suhu tubuh setiap hari sebelum pukul 12 malam. Saat terpaksa keluar asrama, Dian dan teman-teman harus memakai masker. ’’Nah, masker antivirus itu sekarang jadi barang langka,’’ katanya. Sebab, banyak toko yang tutup.

Dampak lain, harga barang-barang kebutuhan pokok melonjak drastis, terutama sayuran. ’’Pas beli sayur, kami kaget. Ternyata harganya naik dua kali lipat,’’ ujarnya.

Mereka juga terus berkoordinasi dengan KBRI dan sesama mahasiswa Indonesia di Tiongkok untuk meng-update informasi. Sebab, belakangan marak beredar hoaks tentang virus korona. ’’Misalnya, ada berita bahwa semua dilarang keluar rumah. Itu tidak benar. Kami tetap boleh keluar selama memakai masker,’’ tegasnya.

Dian dan teman-temannya kini berharap wabah virus korona tersebut segera teratasi. Dengan begitu, mereka bisa kembali ke tanah air dengan tenang. Dia juga berharap ada bantuan logistik serta masker antivirus dari pemerintah Indonesia. ’’Karena di sini langka dan harganya jadi mahal,’’ lanjut mahasiswi semester VII Prodi Bahasa Mandarin Unesa itu.

Plt Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Teuku Faizasyah memastikan, tidak ada WNI di Tiongkok yang terpapar virus korona. Baik yang bermukim di Wuhan maupun Beijing. ”Bagi WNI yang hendak ke Tiongkok, wilayah terdampak harus dihindari. Juga mengikuti perkembangan informasi mengenai virus tersebut,” tuturnya.

Faiza –sapaan Teuku Faizasyah– mengimbau untuk menghindari kontak fisik dengan orang yang sedang dalam kondisi batuk, demam, dan sesak napas. Serta tidak mengunjungi pasar ikan atau unggas dan tak mengonsumsi daging mentah atau kurang matang.

Faiza meminta WNI di Tiongkok selalu memperhatikan kesehatan masing-masing. Khususnya yang bermukim di Wuhan. Segera lakukan konsultasi medis jika merasa tidak sehat. Terutama dengan gejala demam, batuk, hingga sulit bernapas.

”Menggunakan masker bila perlu,” tuturnya.

KBRI di Beijing, lanjut Faiza, sudah membuka hotline bagi WNI yang membutuhkan bantuan. Selain melalui hotline yang telah diinformasikan, WNI dapat menggunakan tombol darurat di aplikasi Safe Travel untuk menghubungi KBRI Beijing.