Wisatawan Merasa Terganggu Pengemis-Pengamen

KOTA BATU – Rahmawati, 32, wisatawan asal Solo yang berwisata di Kota Batu tampak sewot. Dia kesal karena merasa terganggu dengan hadirnya pengemis dan pengamen. Setiap kali makan di salah satu warung makan, dia selalu didatangi pengemis atau pengamen. Sehingga dia yang berwisata bersama keluarganya merasa tak nyaman saja. Dia menyesalkan kenapa tidak ada tindakan dari pemerintah untuk mengatur pengemis dan pengamen. Atau mereka diarahkan untuk menjadi pedagang apa pun yang lebih terhormat. ”Mending masih jualan cilok atau apa gitu. Lebih ketahuan semangatnya, daripada meminta-minta kepada orang lain,” ucap ibu dua anak itu.

Dia juga menyarankan agar meniru penataan tempat ruang publik di beberapa daerah, salah satunya seperti di Bali. Di setiap tempat wisata tidak ada pengemis. Karena mereka diberi tempat untuk berjualan sesuatu yang bermanfaat seperti suvenir atau makanan ringan. ”Malah, kalau jualan sesuatu itu kita lebih respek (peduli) daripada hanya meminta-minta,” tutupnya.

Keluhan Rahmawati ini juga dirasakan banyak wisatawan lain. Itu seperti yang diunggah di media sosial maupun yang diadukan ke pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu.

Wakil Ketua PHRI Kota Batu Titik S Ariyanto mengakui, banyak wisatawan yang tidak nyaman dengan keadaan tersebut. Bukan berarti tidak mau memberi uang, akan tetapi banyak yang risih karena mereka yang baru duduk di sebuah tempat makan langsung diminta uang. ”Bukan hanya satu dua. Tapi, banyak yang komplain di grup media sosial kami (PHRI Kota Batu),” ujarnya.

Titik juga menjelaskan, jumlah pengemis dan pengamen sudah di luar batas. Saking banyaknya, setiap kali wisatawan mau makan dan minum, ada saja yang meminta uang. Bahkan, satu orang yang makan bisa didatangi oleh beberapa pengemis dan pengamen. ”Apa enak setiap kali makan dimintai duit. Setiap kali datang dan duduk dimintai duit,” celetuknya.

Meski fenomena ini sudah lama terjadi, akan tetapi belum ada tindakan nyata dari Pemkot Batu. Sebab, tempat itu merupakan aset pemerintah yang seharusnya juga dijaga kenyamanan publiknya. ”Sebenarnya ini sudah lama dan sering terjadi pas seperti ini. Akan tetapi, tidak enak jika setiap tahun selalu ada masalah yang sama dan tidak ada jalan keluarnya,” tuturnya.

Dengan adanya hal tersebut, dirinya berharap Pemkot Batu menunjukkan keseriusannya menangani hal ini. Sebab, penting untuk mengelola keseimbangan antara mengembangkan destinasi pariwisata dan kenyamanan publik. ”Jangan dilihat dari sisi positif keuntungan banyaknya wisatawan, okupansi hotel, dan sebagainya. Tapi juga kenyamanan mereka yang berkunjung ke sini,” pungkasnya.

Pewarta : Moh. Badar
Copy editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntolib