22.1 C
Malang
Minggu, Februari 11, 2024

Mengulik Geliat Kampung Budaya setelah Pandemi

Masuk Polowijen, Reservasi Dulu

BERDIRI sejak 2017 lalu, Kampung Budaya Polowijen (KBP) langsung mencuri perhatian wisatawan. Kampung yang terletak di RT 3 RW 2 Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing itu tidak pernah sepi dari kunjungan.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen (KBP) Isa Wahyudi memaparkan, sepanjang 2022 lalu pihaknya menerima 50-80 wisatawan per minggu. Kunjungan makin ramai memasuki bulan September hingga Desember lalu.

Namun awal tahun ini pihaknya masih fokus menata jadwal kegiatan rutin di KBP, sehingga belum bisa menerima tamu. ”Tamu yang datang dan reservasi baru bisa berkunjung mulai Februari depan,” ujar Ki Demang, sapaan akrab Isa Wahyudi.

Dia memaparkan, reservasi diperlukan agar pengurus KBP bisa melayani wisatawan secara maksimal. Dalam reservasi itu, katanya, wisatawan bisa memilih antara dua paket, yakni paket keluarga (di bawah 10 orang) dan rombongan (di bawah 30 orang).

Baca Juga:  Tim Polinema Edukasi Perajin Bambu Tumpang

Jika paket keluarga, dia mengatakan, harganya sekitar Rp 600 ribu. Sedangkan untuk paket rombongan dibanderol Rp 1 juta. Pemasukan tersebut digunakan untuk operasional kampung, biaya tour guide, dan sebagainya. “Itu selain uang makan. Jika mereka (tamu) mau makan, harus menambah biaya Rp 20 ribu per orang,” imbuhnya.

Pihaknya juga menyediakan pemandu yang profesional di bidangnya. Sehingga, wisata mereka tidak hanya menumbuhkan kesenangan, tetapi juga memperoleh ilmu terkait jejak budaya Malang.

“Jika mereka datang sore hari, bisa mengikuti kegiatan anak-anak. Misalnya menggambar. Dilanjutkan kegiatan malam yang selesai pukul 21.00. Setelah itu kami ajak ke Situs Ken Dedes dengan membawa obor,” kata Ki Demang.

Baca Juga:  Tawur Kesanga, Ritual Lenyapkan Sifat Buruk dan Jahat Manusia

Pelayanan tersebut hanya diberlakukan bagi tamu yang telah reservasi. Sedangkan, untuk pengunjung biasa yang hanya ingin melihat-lihat dan mengikuti kegiatan, dia mengatakan, bisa masuk secara gratis.

Ki Demang menambahkan, sejauh ini mayoritas pengunjung dari kalangan mahasiswa atau pelajar. Tidak hanya dari Malang Raya, tapi luar kota seperti Jakarta atau Bali.

Guna menjaga agar tetap dilirik wisatawan, Ki Demang bersama pengurus KBP menggelar berbagai event rutin setiap akhir pekan. Jumat misalnya, digelar sinau tembang klangenan, dilanjutkan sinau jula-juli dan ludruk. Hari Sabtu ada sinau tari tradisional Malang. Kemudian Minggu ada seni rupa dan musik. (yun/dan)

BERDIRI sejak 2017 lalu, Kampung Budaya Polowijen (KBP) langsung mencuri perhatian wisatawan. Kampung yang terletak di RT 3 RW 2 Kelurahan Polowijen, Kecamatan Blimbing itu tidak pernah sepi dari kunjungan.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen (KBP) Isa Wahyudi memaparkan, sepanjang 2022 lalu pihaknya menerima 50-80 wisatawan per minggu. Kunjungan makin ramai memasuki bulan September hingga Desember lalu.

Namun awal tahun ini pihaknya masih fokus menata jadwal kegiatan rutin di KBP, sehingga belum bisa menerima tamu. ”Tamu yang datang dan reservasi baru bisa berkunjung mulai Februari depan,” ujar Ki Demang, sapaan akrab Isa Wahyudi.

Dia memaparkan, reservasi diperlukan agar pengurus KBP bisa melayani wisatawan secara maksimal. Dalam reservasi itu, katanya, wisatawan bisa memilih antara dua paket, yakni paket keluarga (di bawah 10 orang) dan rombongan (di bawah 30 orang).

Baca Juga:  PKM Darurat, 22 Kampung Tematik Kota Malang Lockdown

Jika paket keluarga, dia mengatakan, harganya sekitar Rp 600 ribu. Sedangkan untuk paket rombongan dibanderol Rp 1 juta. Pemasukan tersebut digunakan untuk operasional kampung, biaya tour guide, dan sebagainya. “Itu selain uang makan. Jika mereka (tamu) mau makan, harus menambah biaya Rp 20 ribu per orang,” imbuhnya.

Pihaknya juga menyediakan pemandu yang profesional di bidangnya. Sehingga, wisata mereka tidak hanya menumbuhkan kesenangan, tetapi juga memperoleh ilmu terkait jejak budaya Malang.

“Jika mereka datang sore hari, bisa mengikuti kegiatan anak-anak. Misalnya menggambar. Dilanjutkan kegiatan malam yang selesai pukul 21.00. Setelah itu kami ajak ke Situs Ken Dedes dengan membawa obor,” kata Ki Demang.

Baca Juga:  Tawur Kesanga, Ritual Lenyapkan Sifat Buruk dan Jahat Manusia

Pelayanan tersebut hanya diberlakukan bagi tamu yang telah reservasi. Sedangkan, untuk pengunjung biasa yang hanya ingin melihat-lihat dan mengikuti kegiatan, dia mengatakan, bisa masuk secara gratis.

Ki Demang menambahkan, sejauh ini mayoritas pengunjung dari kalangan mahasiswa atau pelajar. Tidak hanya dari Malang Raya, tapi luar kota seperti Jakarta atau Bali.

Guna menjaga agar tetap dilirik wisatawan, Ki Demang bersama pengurus KBP menggelar berbagai event rutin setiap akhir pekan. Jumat misalnya, digelar sinau tembang klangenan, dilanjutkan sinau jula-juli dan ludruk. Hari Sabtu ada sinau tari tradisional Malang. Kemudian Minggu ada seni rupa dan musik. (yun/dan)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/