29.7 C
Malang
Jumat, Februari 9, 2024

Kampung Topeng Malangan Bersolek

MALANG KOTA – Pandemi Covid-19 sempat memukul sektor wisata selama lebih dari dua tahun. Hal itu juga dialami wisata tematik Kampung Topeng Malangan di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Kini, kampung yang berusaha menarik wisatawan dengan memajang topeng dalam berbagai ukuran itu bersolek untuk bangkit.

Kemarin (21/5), warga setempat bersama Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang melakukan peremajaan tempat wisata itu. Di antaranya dengan mewarnai topeng yang sudah pudar, pemasangan beberapa topeng baru, hingga melukis mural di beberapa spot. Terakhir kali, topeng-topeng Malangan tersebut dicat sekitar dua tahun lalu.

”Ke depan kita pastikan perawatan tiap satu tahun. Nanti juga akan ada bantuan dari kelurahan untuk sarana dan prasarana. Pihak dinas juga akan ikut membantu dalam bentuk event,” ujar Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang Ki Demang.

Baca Juga:  Unggul 2-0 Atas PSS Sleman, Rekor Arema FC Pun Terjaga

Kampung Topeng Malangan terlihat menarik dengan dua topeng raksasa setinggi 7,5 meter. Dua topeng itu menggambarkan figur Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Beberapa warga tampak mengecat kembali topeng yang dibangun untuk menyambut kedatangan wisatawan tersebut.

Kampung Topeng adalah tempat wisata yang awal mulanya tempat penampungan gelandangan dan pengemis. Sudah lebih dari 2 tahun vakum akibat pandemi Covid-19. Rumput liar bermunculan dan tidak terawat, warna topeng-topeng yang dipajang sudah pudar, beberapa topeng hilang, bahkan beberapa bangunan tampak yang rusak.

Selama dua tahun masa pandemi, masyarakat Kampung Topeng tidak bisa mengandalkan pemasukan dari kehadiran wisatawan, Berbagai upaya mereka lakukan untuk menyambung hidup. Sebagian bahkan terpaksa mencari pekerjaan di luar kampung. Seperti menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, merantau keluar kota, hingga menjadi ojek online.

Baca Juga:  Dishub Segera Tambah Titik Pemberhentian Macito di Kawasan Kajoetangan

Saat ini ada 33 KK yang masih menetap di kawasan Kampung Topeng. Mereka pula yang berusaha mempertahankan eksistensi kampung wisata itu selama pandemi, meski sangat kewalahan.  ”Dulu sudah kita lakukan perawatan seadanya dengan  gotong royong. Kita tidak bisa lakukan lebih karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang masih susah,” kata Mahmudi, Ketua RW setempat. (pri/fat)

MALANG KOTA – Pandemi Covid-19 sempat memukul sektor wisata selama lebih dari dua tahun. Hal itu juga dialami wisata tematik Kampung Topeng Malangan di Dusun Baran, Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang. Kini, kampung yang berusaha menarik wisatawan dengan memajang topeng dalam berbagai ukuran itu bersolek untuk bangkit.

Kemarin (21/5), warga setempat bersama Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis) Kota Malang melakukan peremajaan tempat wisata itu. Di antaranya dengan mewarnai topeng yang sudah pudar, pemasangan beberapa topeng baru, hingga melukis mural di beberapa spot. Terakhir kali, topeng-topeng Malangan tersebut dicat sekitar dua tahun lalu.

”Ke depan kita pastikan perawatan tiap satu tahun. Nanti juga akan ada bantuan dari kelurahan untuk sarana dan prasarana. Pihak dinas juga akan ikut membantu dalam bentuk event,” ujar Ketua Forkom Pokdarwis Kota Malang Ki Demang.

Baca Juga:  Sutiaji Sebut Jack Ma Akan Datang ke Malang

Kampung Topeng Malangan terlihat menarik dengan dua topeng raksasa setinggi 7,5 meter. Dua topeng itu menggambarkan figur Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji. Beberapa warga tampak mengecat kembali topeng yang dibangun untuk menyambut kedatangan wisatawan tersebut.

Kampung Topeng adalah tempat wisata yang awal mulanya tempat penampungan gelandangan dan pengemis. Sudah lebih dari 2 tahun vakum akibat pandemi Covid-19. Rumput liar bermunculan dan tidak terawat, warna topeng-topeng yang dipajang sudah pudar, beberapa topeng hilang, bahkan beberapa bangunan tampak yang rusak.

Selama dua tahun masa pandemi, masyarakat Kampung Topeng tidak bisa mengandalkan pemasukan dari kehadiran wisatawan, Berbagai upaya mereka lakukan untuk menyambung hidup. Sebagian bahkan terpaksa mencari pekerjaan di luar kampung. Seperti menjadi kuli bangunan, buruh pabrik, merantau keluar kota, hingga menjadi ojek online.

Baca Juga:  Dishub Segera Tambah Titik Pemberhentian Macito di Kawasan Kajoetangan

Saat ini ada 33 KK yang masih menetap di kawasan Kampung Topeng. Mereka pula yang berusaha mempertahankan eksistensi kampung wisata itu selama pandemi, meski sangat kewalahan.  ”Dulu sudah kita lakukan perawatan seadanya dengan  gotong royong. Kita tidak bisa lakukan lebih karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang masih susah,” kata Mahmudi, Ketua RW setempat. (pri/fat)

Artikel Terkait

Terpopuler

Artikel Terbaru

/