Wawan Klaim Ditagih Denda Rp 250 M Terkait Asetnya yang Disita KPK

Jakarta – Terdakwa kasus dugaan korupsi alat kesehatan Pemerintah Provinsi Banten dan Pemerintah Kota Tangerang Selatan, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan, mengaku kerap membayar denda atas piutang bunga sejumlah aset yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini diungkapkan Wawan di hadapan majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU) KPK.

Tim kuasa hukum Wawan, TB Sukatma menyampaikan, kewajiban kliennya membayarkan aset yang didenda senilai Rp 250 miliar. Menurutnya, hingga kini kewajiban itu terus ditagih meski aset tersebut telah disita KPK.

“Perbankan dan sebagainya dan sampai saat ini ditagih terus. Sehingga kami berharap yang mulia bisa memberikan solusi, KPK juga memberi solusi,” kata Sukatma di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (13/2).

Mendengar pernyataan ini, Jaksa KPK menegaskan, aset tersebut disita lantaran terkait proses pengusutan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang yang melilit Wawan. Hal ini tidak lain untuk mengembalikan uang yang telah digunakan.

“Berapa yang sudah dibayarkan kami menarik uang itu kendaraan buat leasing,” tegas Jaksa Roy Riady.

Kendati demikian, Wawan mengaku tak keberatan jika sejumlah aset yang disita KPK dijual untuk membayar kewajiban piutangnya. Bahkan, Wawan mengaku sudah membuat pernyataan kepada sejumlah pihak ketiga terkait hal tersebut.

“Sebenarnya saya sudah buat pernyataan kepada pihak ketiga ini, terutama terkait persoalan mobil-mobil ini, karena mobil-mobil ini harganya susut. Kemudian tagihan bunganya tambah naik, seperti sekarang ini pokok dari Rp 900 jadi Rp 4,7 miliar. Itu jadi sesuatu yang tidak masuk akal, sementara misal mobil harga Rp 2 miliar sekarang jadi Rp 800 juta, itu kan jadi nyusut,” jelas Wawan.

Dalam perkara ini, Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan didakwa melakukan korupsi proyek alat kesehatan, pengadaan tanah, dan proyek pembangunan RSUD Tangerang Selatan yang merugikan negara hingga Rp 94,3 miliar. Bahkan Wawan pun turut melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari hasil korupsinya.

Wawan juga didakwa melakukan pencucian uang sejak 2005 hingga 2013 dengan nilai sekitar Rp 579,776 miliar. Adik mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah itu diduga menyamarkan uang dalam periode 2010-2019 mencapai Rp 479.045.244.180 dalam mata uang rupiah dan mata uang asing.

Atas perbuatannya, Wawan didakwa Pasal 3 atau 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Selain itu Wawan juga didakwa melanggar Pasal 3 ayat (1) huruf a, c dan g Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Editor : Kuswandi

Reporter : Muhammad Ridwan