Waspadai Dehidrasi untuk Lebaran Sehat dan Silaturahmi Erat

Kegiatan saat momen Lebaran bisa menguras energi. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi saat perjalanan untuk silaturahmi ke sanak saudara. Tak hanya itu, dehidrasi juga harus diwaspadai saat momen arus balik.

MALANG KOTA Kegiatan saat momen Lebaran bisa menguras energi. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah dehidrasi saat perjalanan untuk silaturahmi ke sanak saudara. Tak hanya itu, dehidrasi juga harus diwaspadai saat momen arus balik.

Lalu, hal apa saja yang perlu dipersiapkan agar kita tidak mengalami dehidrasi? Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya dr Enny Sekarengganingati MM menyatakan, berlebaran dan mudik memang sudah menjadi agenda nasional.

Namun, ada sebagian orang yang tidak memperhatikan hal sepele yang bisa sajaberakibat fatal. ”Dehiderasi menjadi faktor penting yang bisa mempengaruhi perjalanan,” kata Enny kemarin (23/6).

Menurut dia, dehidrasi bisa merembet kepada gejala ngantuk. Untuk itu, pemudik harus melakukan persiapan matang untuk menjaga keselamatan perjalanan. Yang pertama, pengendara tidak boleh capek ketika hendak berangkat.

Maksudnya, pemudik harus memiliki stamina segar saat akan berangkat mudik. ”Sebelum berangkat mudik, yang pertama harus istirahat yang cukup,” imbuhnya.

Selain istirahat, pemudik harus minum yang cukup. Menurutnya, dehidrasi dapat menyebabkan gangguan seperti pusing, mulut dan mata kering, serta ganguan konsentrasi. Untuk itu, perlu asupan air yang cukup bagi tubuh sebelum memulai perjalanan mudik, balik, dan silaturahmi. ”Orang bekerja normal setiap hari butuh 2 liter air. Kalau mudik harusnya lebih dari itu,” imbuhnya.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam memilih minuman, pemudik diimbau agar  menghindari minuman perangsang dan aktifan. Yaitu, minuman yang mengandung kafein agar menghilangkan rasa kantuk atau cairan penambah stamina lainnya. Lanjut Enny, jika tubuh yang butuh istirahat dipaksakan dengan rangsangan untuk tetap segar, maka perlahan hal itu akan merusak sistem tubuh.

”Kalau capek, mending istirahat dulu, jangan dipaksakan dengan minuman penambah stamina,” tegasnya. Berbeda dengan minuman elektrolit, minuman tersebut memang dibutuhkan untuk pemudik selain air. Sebab, minuman elektrolit akan mengganti cairan tubuh yang hilang.

Selain itu, sebaiknya pemudik memperhatikan makanan yang dikonsumsi sebelum berangkat. Mudik biasanya identik dengan perjalanan jauh. Untuk itu, makanan pemudik harus bergizi seimbang. Makanan tersebut untuk menjaga keseimbangan tubuh selain air.

Enny menyarankan, perjalanan sebaiknya dilakukan pada siang hari. Jika cuaca mendung memang tidak butuh banyak asupan yang disebutkan. Namun jika terik, sedianya memperhatikan gizi makanan dan cairan.

Alasan perjalanan di siang hari, karena menurutnya, sudah sangat wajar bagi seseorang yang terbiasa melakukan aktifitas di siang hari. Sedangkan saat malam hari, sebaiknya digunakan untuk istirahat. ”Orang biasa berbeda jam kerjanya dengan sopir. Kalau sopir sudah terbiasa perjalanan malam dengan berbagai alasan,” pungkasnya. (jaf/c1/riq)