Waspada Tuberkulosis, Harapkan Kesadaran Warga

KOTA BATU – Pada tahun 2018 lalu, tercatat ada 5 pasien tuberkulosis (TB) yang meninggal dunia. Beranjak dari data itu, kini Pemerintah Kota (Pemkot) Batu mulai memberikan perhatian khusus. Terlebih, saat ini rekapitulasi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat peningkatan pengidap TB tiap tahun. Pada 2017 lalu, tercatat ada 148 penderita. Sementara tahun lalu, jumlahnya meningkat menjadi 214 orang.

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr Yuni Astuti mengaku bila peningkatan memiliki sisi baik. ”Semakin banyak yang teridentifikasi, semakin mudah kami memodifikasi pencegahan penyakit ini,” terang Yuni beberapa waktu lalu. Pasalnya, TB termasuk penyakit yang sukar untuk diobati.

TB sendiri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Identifikasi paling mudah untuk penyakit ini bisa dilihat dari keluhan batuk berdahak. ”Kalau batuk sudah lebih dari dua pekan, lebih baik periksa. Karena sudah masuk ke indikasi TB,” sambung Yuni. Hingga saat ini, dia menyebut bila penyakit TB menjadi pembunuh terbesar ketiga di Indonesia. Alasan itulah yang melatarbelakangi perlunya penanganan khusus.

Dia menambahkan, saat sudah terlambat ditangani, penyembuhan TB bisa memakan waktu yang cukup lama. Berlangsung antara 6 hingga 8 bulan. Bahkan bisa mencapai waktu 2 tahun. Agar kondisi itu tidak terjadi, Dinkes Kota Batu memberikan fasilitas gratis untuk pemeriksaan TB. Teknis pemeriksaannya dimulai dari sampel dahak penderita batuk.

”Dahak pertama yang diperiksa berasal dari pagi hari setelah bangun tidur dan belum mengonsumsi apa pun,” terangnya.



Dahak yang kedua sewaktu datang ke fasilitas kesehatan. ”Di Kota Batu biasanya pemeriksaan ada di RS Karsa Husada,” tambahnya. Selain batuk berdahak, gejala lainnya yang bisa dilihat berupa demam dan meriang berkepanjangan. ”Ada juga yang berkeringat tanpa sebab di sore dan malam hari atau berat badan menurun drastis dan kurus,” papar Yuni.

”Setiap tahun, dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI terus ditarget untuk mendapat banyak penderita penyakit menular ini. Tujuannya agar bisa disembuhkan,” tambah alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB) Malang ini. Tahun lalu, berdasarkan perhitungan Kemenkes RI, Dinkes Kota Batu diberi target untuk menemukan 457 penderita TB. Sayangnya target itu tak terpenuhi.

”Tujuannya untuk penanganan sedini mungkin dengan kami beri obat dan diusahakan untuk sembuh, sehingga semakin minim penularannya,” tambah Yuni. Terpisah, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menjelaskan bila pasien yang meninggal tahun lalu sudah tergolong resisten terhadap obat. Oleh karenanya, dia mengimbau warga segera melapor ke tenaga medis saat merasakan sejumlah gejala.

”Masyarakat jangan malu atau takut jika terindikasi TB dan jangan menganggap remeh,” terang Dewanti. Menurut dia, apa yang dilakukan oleh pemkot, khususnya dinkes, bermuara untuk kepentingan para pengidap TB. ”Dinkes saat ini terus berupaya men-screening warga untuk menggali informasi mana dan siapa saja yang terkena tuberkulosis,” tambahnya.

Dia mengakui bila itu bukanlah tugas mudah. ”Kebanyakan masyarakat belum sadar bahkan meremehkan bahayanya penyakit ini dan enggan melapor,” sambung Dewanti. Pemkot sendiri mengalokasikan dana Rp 195 juta untuk sosialisasi dan gerakan pencegahan sejumlah penyakit, salah satunya TB.

Pewarta : Mochamad Sadheli
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya