Waspada, Kegemukan Jadi Pangkal Masalah Gangguan Fungsi Tulang | JawaPos.com

Waspada, Kegemukan Jadi Pangkal Masalah Gangguan Fungsi Tulang | JawaPos.com

JawaPos.com – Pernahkah Anda melihat seseorang yang sudah mulai kesulitan berjalan karena tubuhnya yang gemuk? Tak hanya usia lansia, akan tetapi tren seperti itu sudah bergeser ke usia muda. Salah satu masalahnya adalah karena kegemukan obesitas.

Catatan Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT penyakit-penyakit tulang saat ini paling banyak dihadapi oleh lansia, atau pasien usia 50 tahun ke atas. Akan tetapi, penyakit-penyakit tulang saat ini mulai bergeser ke usia muda.

“Jangankan usia 40-an, saya ketemu pasien 30-an sudah Osteoarthritis masuk grade 3-4, karena kegemukan,” kata pria yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI) itu saat berbincang dengan JawaPos.com baru-baru ini.

Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT menjelaskan berbagai penyakit dan gangguan fungsi tulang. (IDI)

Osteoarthritis adalah suatu kondisi yang menyebabkan sendi-sendi terasa sakit, kaku, dan bengkak. Sendi yang paling sering mengalami kondisi ini meliputi tangan, lutut, pinggul, dan tulang punggung. Adib menjelaskan, dokter saat ini tak hanya mengobati pasien dengan tindakan, tetapi juga dengan edukasi seputar gaya hidup yang salah. Sebab masalah tulang juga bisa melibatkan lintas spesialis para dokter.

“Edukasi menurukan berat badan. Sebab konteksnya nanti kita berkepentingan dengan penyakit yang lain. Seperti kolesterolnya harus turun atau bagaimana kontrol gulanya kalau dia ada diabet. Hal-hal itu, jika bicara soal pelayanan. Pasti ada lintas profesi lain, bisa dokter spesialis lain,” jelas pria kelahiran Lamongan 28 Juni 1974 itu

Misalnya saja penanganan pasien juga akan melibatkan fisioterapi atau rehabilitasi medik serta bagian keperawatan. “Ini semuasaling terkait, namanya interprofessional collaboration sebagai target penyembuhan pasien,” kata Adib.

Adib mencontohkan, pasien yang mengalami diabetes dan luka pada tubuhnya akan membutuhkan spesialis ortopedi ketika sudah mengalami infeksi tulang. Atau ketika pasien harus diamputasi.

“Kalau sudah ada infeksi tulang saat diabetes. Saat harus diamputasi, saat menyelamatkan tindakan tulangnya. Itu ranah di ortopedi,” jelasnya.

Maka dari itu, Adib menegaskan pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Jika memang memiliki risiko seperti obesitas dan penyakit degeneratif lainnya, Adib berpesan agar masyarakat mengubah pola hidupnya.

“Pertama, gaya hidup diubah seperti olahraga. Lalu pada lansia senam, jalan, dan berat badan harus turun. Ditambah lagi jangan sampai ada penyakit-penyakit lain. Kolesterol, diabetes, dan pola makan harus dijaga,” tandasnya.

(ika/JPC)