Warnipah Curhat Tidak Ingin 'Ditinggal' Jokowi

JawaPos.com – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo bersilaturahmi bersama ribuan Tenaga Harian Lepas-Tenaga Bantu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) di GOR Jatidiri, Kota Semarang, Minggu (3/2). Pada acara itu, eks Wali Kota Solo itu dicurhati oleh salah satu THL-TBPP.

Salah satu isu yang dibahas pada acara silaturahmi itu adalah soal pengangkatan 17 ribu THL-TBPP. Tak sedikit dari mereka yang sudah mengabdi bertahun-tahun namun statusnya sampai saat ini belum jelas.

Presiden yang karib disapa Jokowi itu pun membeberkan bahwa saat ini dibutuhkan sekitar 40 ribu penyuluh pertanian. Sehingga ada kesempatan bagi para THL-TBPP untuk diangkat sebagai penyuluh melalui Perpres.

Presiden yang karib disapa Jokowi itu pun membeberkan bahwa saat ini dibutuhkan sekitar 40 ribu penyuluh pertanian. Sehingga ada kesempatan bagi para THL-TBPP untuk diangkat sebagai penyuluh. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Sebagaimana diketahui Presiden Jokowi telah mengeluarkan Perpres soal Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Berdasarkan Undang-Undang No. 5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), ASN terdiri dari dua, yakni pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).



Pada acara itu, Jokowi kemudian mengundang dua dari ribuan tenaga harian lepas untuk naik ke panggung dan menanyakan langsung masalah ini kepadanya. Salah satunya adalah Warnipah, seorang THL-TBPP asal Kabupaten Brebes.

“Yang mau saya tanyakan kan tenaga penyuluh kan sangat dibutuhkan. Butuh 40 ribu ya, sementara jumlah THL kan 17 ribu ya. Saya khawatirkan malahan yang 17 ribu itu nggak kepilih,” keluhnya.

Pasalnya, Warnipah cemas ada aturan soal ASN yang membatasi usia pendaftaran maksimal 35 tahun. “Saya juga tidak mau dilahirkan terlebih dahulu pak,” katanya disambut tawa hadirin.

“Kalau mungkin THL perempuan disuruh lomba nandur (nanam) cepet, itu yang (diterima jadi) PNS, itu saya rela pak. Tapi kalau umur, saya harus gimana pak? Jadi lebih jelasnya yang 17 ribu ini tolong diperhartikan, jangan lupa pak,” katanya.

Merespons pertanyaan Warnipah, Jokowi berujar besok akan mengkomunikasikannya dengan Menpan-RB. Sekali lagi Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menegaskan, dengan diangkatnya 17 ribu THL-TBPP, posisi 40 ribu penyuluh pertanian pun masih kurang.

“Tapi senengnya (yang diterima) yang kinyis-kinyis eh pak, yang baru lulus. Kita sudah blepotan dengan lumpur,” keluh Warnipah lagi diikuti riuh hadirin.

Jokowi pun lantas menjawab sesuai penilaiannya sendiri. “Kalau saya senang yang berpengalaman, kinyis-kinyis kan belum tentu berpengalaman. Nggih mboten?” ujarnya.

Tapi sekali lagi, Jokowi menyampaikan, usai dikonsultasikan bersama MenPan-RB nanti dan saat Perpres dirancang, harus ditinjau lagi agar tak membentur aturan undang-undang. “Jangan dipaksa saya nabrak undang-undang,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang ikut hadir dalam acara itu berujar, saat ini THL TBPP di Jateng sebanyak 3980, di mana 700 telah diangkat sebagai CPNS. Ia mengatakan keberadaan THL TBPP tersebut sangat efektif dalam pengelolaan sistem pertanian baik daerah maupun nasional.

“Teman-teman ini membuat saya bangga, mereka adalah pejuang sejati pertanian. Teman-teman penyuluh, i love you full,” katanya.

Ganjar mengatakan, 3280 THL-TBPP tersebut mendampingi petani yang menggarap total lahan baku sawah pertanian yang mencapai 980 ribu hektare. Dengan total lahan tersebut, Jateng masih memerlukan tenaga penyuluh pertanian mencapai 3.700. Namun masih ada pekerjaan rumah yang mesti digarap bersama, yakni pembenahan sistem pertanian.

“Data Pertanian kita makin terdata dengan baik, menggunakan teknologi informasi berapa lahan yang kita miliki, tanam apa, kapan sampai panen di Jateng kita sudah tahu. Nanti penyuluh akan sedikit ada kerjaan tambahan dengan memperhatikan sisi ekonomi. Karena harus mengetahui, kapan, kemana dan berapa harus menjual komoditas,” katanya.

Editor           : Sari Hardiyanto

Reporter      : Tunggul Kumoro