Warisan Produk Gerabah dari Pagelaran

Maryana setiap hari memproduksi gerabah di kediamannya.

PAGELARAN – Beberapa warga di Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, tetap mempertahankan keterampilan lamanya, yakni memproduksi berbagai jenis kerajinan gerabah. Maryana salah satunya. Perempuan yang kini berusia 55 tahun itu mengaku sudah jadi pengrajin gerabah sejak usianya 12 tahun.

”Ada banyak bentuknya, seperti maron, wajan, gentong, cowek, layah, dan keluwengan,” kata dia.

Dari pemaparannya, keterampilannya itu diturunkan dari neneknya. Dia mengaku bisa menghasilkan puluhan gerabah setiap harinya. ”Rata-rata ya 30 biji tiap hari,” paparnya.

Hasil produksinya biasa diambil distributor gerabah. ”Katanya dikirim ke luar Malang juga,” ujar Maryana. Sistem pemasaran seperti itu terpaksa dia lakukan, karena pengrajin di Desa Pagelaran umumnya kesulitan mencari pelanggan sendiri.

Dari rutinitas menghasilkan kerajinan gerabah itu Maryana bisa membuat dapurnya tetap mengepul. Harga yang dibanderolnya pun beragam, disesuaikan dengan ukuran dan bentuk.

Untuk kerajinan maron yang belum melalui proses pembakaran, dia membanderolnya dengan Rp 6 ribu per biji. Yang paling mahal yakni gentong, yang dibanderol Rp 10 ribu per biji.

Pewarta: NR4
Penyunting: Bayu Mulya
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Rubianto