Warga Terisolasi Tak Sabar Tunggu Jembatan Kalimetro

Penggarapan Sekitar 60 Persen, Dana Kurang Rp 300 Juta

Fondasi jembatan Kalimetro sudah kokoh. Pembangunan berjalan lagi setelah ada dana dari masyarakat.

MALANG KOTA – Proses pembangunan jembatan swadaya hasil kerja sama Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) dengan Jawa Pos Radar Malang terus berjalan.

Pengerjaan jembatan yang melintas di atas Kalimetro, Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, itu sudah lebih dari 60 persen. Sejumlah warga yang tinggal di sisi barat sungai (Joyo Suko Metro) sudah tidak sabar menunggu terwujudnya jembatan tersebut.

Selama bertahun-tahun, mereka benar-benar terisolasi. Untuk melintas ke kampung timur sungai, mereka harus melewati jembatan darurat dari bambu. Itu pun hanya bisa dilintasi 1 motor. Bahkan, saat musim hujan, sungai meluap dan akses jalan tertutup.

Jadi, 12 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kampung tersebut tidak bisa keluar kampung. ”Kami sangat berharap jembatan itu segera jadi. Kami sudah lama menunggu,” tandas M. Mas’ud Hasan, warga Joyo Suko Metro, Merjosari.

Dia menambahkan, kondisi di kampungnya sangat merana. Selain akses jalan yang susah, listrik pun belum lama ini menyala. Sebelumnya tidak ada PLN.

”Di sini sepi sekali. Anak sekolah (dari Joyo Suko Agung ke Joyo Suko Metro) pasti takut lewat jembatan karena licin,” bebernya.

Dia menyebut, jika jembatan sudah difungsikan, perekonomian di sana akan mengalami peningkatan. Bahkan, sejumlah tanah di pinggiran Jalan Joyo Suko Agung sudah banyak dilirik untuk didirikan tempat usaha. Dia tahu karena sejumlah orang ingin menyewa tanah di depan gubuknya itu.

”Ada yang sudah mau bikin warung kopi. Ya, karena mendengar jembatan mau dibangun,” sambungnya.

Sementara Rifki, 14, siswa SMP yang setiap hari melintas di jembatan itu senang dengan pembangunan tersebut. ”Kalau musim hujan kemarin, ya takut. Lewat bawah ya takut, lewat atas (jembatan pring, Red) ya takut,” ucapnya.

Dia menyatakan, jembatan ini memang dia idam-idamkan. Karena saat ada keperluan keluar kampung, dia biasanya lewat jalur barat di Dieng. Kecuali jika cuaca mendukung, dia memilih lewat Jembatan Kalimetro.

”Ya, harapannya cepat jadi, biar ramai nanti. Katanya kalau sudah ada jembatan nanti pasti ramai,” cetusnya.

Untuk diketahui, jembatan tersebut ditarget selesai dalam waktu 4 bulan atau Mei ini. Konstruksinya sendiri dari beton dan baja. Lebar jembatan 3 meter dan panjangnya 20 meter. Ketinggian lantai jembatan dari dasar sungai, yaitu 5,6 meter dan kedalaman fondasinya 2 meter. Hanya, hingga saat ini dana masih kurang sekitar Rp 300 juta.

Sementara untuk memuluskan proses pembangunan Jembatan Kalimetro itu, kemarin tim dari FT UB dan Jawa Pos Radar Malang melakukan evaluasi di gedung Rektorat UB.

Hasilnya, pembangunan sempat molor hingga dua bulan. Penyebabnya karena masalah pendanaan. Padahal, sesuai target, pada Mei 2018 ini, jembatan tersebut sudah bisa diresmikan.

Menurut Dekan Fakultas Teknik UB Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT, sejauh ini pembangunan jembatan tersebut telah menelan biaya Rp 656 juta. Hingga saat ini dana yang sudah terserap Rp 325 juta sehingga masih kurang Rp 331 jutaan. Inilah yang sekarang sedang dipikirkan panitia. Selama ini, dia melanjutkan, dana yang sudah masuk dari pembaca Jawa Pos Radar Malang sebesar Rp 200 juta, dan selebihnya dari kampus UB.

Menanggapi masalah ini, Rektor UB Prof Dr Ir M. Bisri MS akan mencari cara agar pembangunan jembatan bisa segera tuntas. Namun demikian, panitia pembangunan juga tetap mengharapkan partisipasi masyarakat.

”Harapan kami jembatan bisa segera diresmikan setelah Lebaran nanti,” ujar Bisri yang juga hadir dalam evaluasi tersebut.

Sementara itu, dari pihak Radar Malang juga membuka donasi untuk membantu menggalang dana pembangunan Jembatan Kalimetro. Masyarakat yang ingin menyumbang bisa mengirimkan ke rekening BCA 123 22 0000 1 atas nama Radar Peduli.

”Kami persilakan masyarakat yang ingin membantu bisa mengirimkan ke rekening Radar Peduli,” kata Pemred Radar Malang Abdul Muntholib.

Pewarta: Fajrus Shiddiq & Kholid Amrullah
Penyunting: Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto