SUMBERPUCUNG – Kondisi tektonik selatan Pulau Jawa termasuk Malang Selatan berpotensi mengalami banyak kejadian gempa dengan skala yang cukup besar.

“Potensi gempa itu ada, tetapi kapan terjadinya itu kita tidak tahu,” ujar Kepala BMKG Karangkates, Kabupaten Malang, Musripan.

Jika gempa di Kota Palu, disebabkan pergeseran atau pelepasan energi pada sesar Palu Koro. Maka, di selatan Pulau Jawa terdapat sumber gempa bumi yang berasal dari zona subduksi.

Zona subduksi di selatan Jawa ini adalah akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Keduanya, saling menyusup ke bawah lempeng Eurasia.

Menurut Musripan, penyusupan ini yang nantinya akan menimbulkan terkumpulnya energi akibat gesekan. Menurutnya, lempeng bumi mengalami pergerakan 6 – 7 cm per tahun.

Yang jika diakumulatifkan. Gesekan keduanya akan mengakibatkan tiga hal. Yakni mendorong, merenggang dan mengunci atau tidak bergerak. “Kalau pecah akan keluar energi. Dan kalau meledak karena salah satu lempengmya tidak kuat. Ledakan itu akan menimbulkan patahan yang cukup besar,” imbuhnya

Lempeng tersebut, memanjang dari Aceh hingga Indonesia bagian timur. Pertemuan dua lempeng itu lebih dangkal dibandingkan yang berada pada sisi utara Pulau Jawa. “Di utara itu lebih dalam, biasanya 3.000 meter di bawah. Jadi tidak begitu terasa. Yang berbahaya, justru dibagian selatan,” imbuhnya.

Apalagi, BMKG Karangkates, Kabupaten Malang ini sudah mencatat sebanyak 544 gempa di tahun 2017 dan 330 kali gempa hingga Oktober 2018 dalam skala yang signifikan. Sehingga, Musripan hanya mengimbau kepada masyarakat, khususnya di bagian selatan agar senantiasa waspada. Termasuk selalu memperhatikan informasi dari BMKG.

Pewarta : Feni Yusnia
Penyunting: Kholid Amrullah