Warga Dusun Pariopo Situbondo Minta Hujan lewat Ritual Pojhian Hodo

KEKERINGAN tengah melanda beberapa daerah. Tapi, masyarakat Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus, Situbondo, pada saat seperti sekarang bisa melakukan ritual meminta hujan.

Dampak musim kemarau 2019 cukup dirasakan masyarakat Situbondo. Sejumlah desa di Kota Santri mengalami kekeringan.

Namun, tidak semua desa mengandalkan bantuan air dari pemerintah untuk melawan kekeringan. Ada satu desa yang mempunyai ritual sakral pemanggil hujan. Ritual itu disebut Pojhian Hodo. Biasanya dilakukan masyarakat Dusun Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus.



Absu, salah seorang pengurus komunitas adat Pariopo, mengatakan bahwa upacara Hodo adalah rangkaian tarian dan bunyi-bunyian. Tak hanya diyakini dapat memanggil hujan, upacara tersebut juga bisa menolak bala.

”Rangkaian upacara adat meliputi persembahan sesaji di beberapa tempat. Dibarengi pembacaan doa. Baru kemudian dilanjutkan dengan kidung disertai musik mulut,” paparnya.

Menurut Absu, Pojhian Hodo telah menjadi budaya di Pariopo sejak bertahun-tahun silam. ”Sudah ada sejak Ju’ Modhi’ (pembabat Pariopo, Red) beserta kawan-kawan membuka hutan di sini,” ucapnya.

Sementara itu, menurut Nyi Maddih, sesepuh Pariopo, ritual Pojhian Hodo melibatkan bisikan-bisikan gaib. Terutama untuk menentukan titik-titik yang akan dijadikan lokasi upacara adat.

”Di Pariopo memang ada sejumlah tempat yang dikeramatkan. Biasanya di titik-titik itulah digelar upacara adat secara bergiliran. Di antaranya ya di Gunung Masali dan sombher mata aing (sumber mata air, Red). Lalu dilanjut ke rumah saya. Selain itu, selamatan dilaksanakan di Ghunong Bhata, Ghunong Cangkreng, dan Tapa’ Dangdang,” jelasnya.