Warek UIN Bongkar Penyebab Masyarakat Gaduh Pasca Pemilu

KOTA MALANG- Paska Pemilu dan kerusuhan 22 Mei kemarin membuat Indonesia berada dalam suasana yang keruh dan jauh dari kata damai. Pemimpin bangsa ini saling berseteru karena kepentingan politik masing-masing.

Padahal, perseteruan mereka sangat berefek ke tatanan paling bawah dalam sistem pemerintahan, yaitu masyarakat. Pasalnya, bangsa Indonesia bertipe paternialistik.

Hal itu dikatakan oleh Wakil Rektor I UIN Malang, Dr. H. M. Zaenuddin, M.A. ke radarmalang.id, Kamis (12/6).

“Jadi masyrakat kita itu cenderung mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya atau yang dituakan dalam kelompok. masih paternialistik,” tuturnya.

Ia juga menambahkan, mengutip teori sosiolog muslim, Ibn Kholdun, secara general, manusia itu cenderung mengikuti perilaku pemimpinnya. Jika, lanjut pria yang rajin menulis buku itu, pemimpinnya menebarkan kedamaian dan saling pengertian, itu juga akan diikuti oleh masyarakatnya.



“Dan apa yang dikatakan Ibn Kholdun itu cocok dengan realitas masyrakat kita saat ini. Termasuk dalam konteks pasca pemilu,” tuturnya.

Namun, hal itu akan berbeda tentunya, kata Zaenuddin, jika masyarakat Indonesia itu seperti Amerika atau Eropa. “Di sana kan udah liberal ya. Individu sangat kuat di sana, dan sosok pemimpin kurang kuat di sana,” imbuh bapak tiga anak ini.

Untuk itu, ia mengharapkan, para pemimpin bangsa saat ini segera melakukan rekonsiliasi atau islah demi kepentingan bangsa Indonesia dan keutuhan NKRI.

“Apalagi ini kita memasuki bulan Syawal yang artinya meningkat dan masih terasa makna fitrah, kembali suci, pada lebaran kemarin,” tuturnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander