Wajah Bopeng Jalan Ijen

Andai Herman Thomas Karsten masih hidup, barangkali dia akan menangis ketika melihat kawasan Jalan Ijen saat ini. Sebab, kawasan yang dia rancang pada 1935 silam tersebut kini sudah banyak berubah bentuk dan fungsinya.

Sebanyak 18 warga Belanda terlihat sedang memotret sejumlah bangunan di kawasan Jalan Ijen beberapa minggu yang lalu. Sembari membuka buku yang dibawa, mereka tampak mencocokkan foto yang ada di bukunya dengan bangunan yang sedang dilihat. Rupanya, salah satu tujuan mereka sengaja datang ke Kota Malang karena ingin napak tilas sejarah nenek moyangnya yang pernah tinggal di Jalan Ijen saat masa penjajahan dulu.

”Kami datang ke sini karena dapat cerita dari buyut tentang Kota Malang yang indah dan sejuk. Rumahnya dulu di sekitar sini. Setelah menabung, kami baru bisa tamasya ke sini,” kata pria yang mengaku bernama Henrick Berg tersebut.

Dia merasa senang karena salah satu foto rumah yang ada di dalam bukunya ternyata masih ada. Bentuknya juga tidak banyak berubah meski sudah dimiliki orang lain. Hanya, dia menyayangkan ada sejumlah bangunan kuno yang dibangun di zaman Belanda sudah dipugar dan diganti dengan model baru.

”Kenapa kok tidak dipertahankan,” tanya Henrick singkat.



Keluhan Henrick dan rombongan itu cukup wajar. Sebab, mereka jauh-jauh dari Negeri Kincir Angin hanya ingin melihat orisinalitas bangunan kawasan Ijen seperti di zaman buyutnya dulu. Namun ternyata, ada sejumlah bangunan yang dulunya masuk cagar budaya (desain ala era Kolonial Belanda) telah dirombak dengan konsep modern. Padahal, Jalan Ijen merupakan ikon Kota Malang yang selama ini menjadi kawasan cagar budaya (heritage) berdasarkan UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Berdasar hasil hitungan Jawa Pos Radar Malang, dari 102 bangunan yang ada di sepanjang kawasan Ijen (mulai ujung Jalan Bandung hingga Jalan Simpang Bareng), tercatat ada 27 titik yang model bangunannya berubah total. Juga ada empat bangunan yang sedang dalam proses renovasi.

Sekilas, bangunan itu juga merombak model lama. Selain itu, fungsi kawasan tersebut sebagai hunian juga sudah banyak berubah menjadi tempat bisnis yang permanen. Di antaranya Richeese Factory, Ijen Computer, Alfamidi, Toko Karpet, Joglo Dau, Amarta Hills, Warung Ijen, dan beberapa bangunan lainnya. (Selengkapnya baca grafis).

Dwi Cahyono, budayawan sekaligus sejarawan, ini menyayangkan kondisi Jalan Ijen saat ini. Sebab, model bangunan di kawasan tersebut pelan-pelan sudah berubah menjadi bangunan modern. Nilai artistik dan heritage-nya sudah mulai luntur. ”Padahal, nilai sejarah di kawasan itu yang sangat mahal. Tidak semua kota memiliki kawasan sebagus dan seindah di Jalan Ijen,” ungkap Dwi Cahyono kemarin (8/6).

Pemilik Yayasan Inggil ini menyebut, pemerintah daerah harus serius untuk mempertahankan kawasan tersebut. Kalaupun sudah ada bangunan yang berubah, harus dibuat regulasinya. Sebab kalau dibiarkan terus-menerus, bangunan kuno akan semakin habis. ”Tinggal menunggu waktu saja,” tegas Dwi.

Sebenarnya, imbuh Dwi, kawasan heritage yang harus dijaga tidak cukup di sepanjang Jalan Ijen. Sebab, dalam peraturan daerah yang pernah dibuat pada tahun 1990-an, kawasan heritage itu juga di kawasan Ijen dan sekitarnya. Artinya, di Jalan Buring dan Jalan Wilis itu juga termasuk kawasan Jalan Ijen.

”Ini bergantung kepedulian semuanya. Saya kira saat ini masih ada kesempatan untuk menjaganya,” tandas dia.

Pewarta: Daviq Umar & Nurlayla Ratri
Penyunting: Abdul Muntholib
Foto: Bayu Eka