Vannesa Ayu Setiawan, Siswi SMAN 1 Sumberpucung, Peraih Juara II Lomba Esai Nasional

Beber Pengalaman Jadi Korban Bully, Ungguli 283 Peserta Lain

Vannesa Ayu Setiawan menunjukkan piala yang baru saja disabetnya.

Vannesa Ayu Setiawan sukses meluapkan kekesalannya menjadi korban bully melalui karya tulis. Dia menjadi juara II nasional lomba esai, mengungguli 283 pelajar lainnya. Itu menjadi pukulan telak untuk yang pernah mem-bully-nya.

Vannesa Ayu Setiawan sudah duduk manis di ruang bimbingan konseling (BK) SMAN 1 Sumberpucung saat koran ini datang ke sana. Jadwal wawancara memang sengaja disusun sebelumnya, usai Vanes–sapaan akrabnya– sukses berjaya di lomba esai tingkat nasional. Acara itu diselenggarakan di Pusat Studi Agama dan Demokrasi (Pusad) Yayasan Wakaf Paramadina, Jakarta, akhir November 2017.

Pengumuman lomba yang disampaikan pada 17 Januari 2018 itu mencatut namanya. Vanes keluar sebagai juara II. Mengungguli 283 peserta lainnya. Pembawaannya yang kalem dan terkesan pendiam menyembunyikan potensinya dalam menulis.

”Ini hasil karya saya yang baru saja mendapatkan juara. Ceritanya tentang pengalaman pribadi karena saya pernah di-bully,” katanya sambil menunjukkan buku kumpulan esai.

Dia mengaku tak menduga jika tulisan yang dikirim pada akhir 2017 lalu itu bisa mendapat penghargaan. ”Sempat pesimistis karena tak diumumkan juga,” ungkap bungsu dari dua bersaudara tersebut.

Prestasi itu pun menjawab rasa penasarannya yang selalu gagal ketika mengikuti lomba menulis. Dia yang memang gemar membaca tak lantas menyerah dengan keadaan itu.

Berbagai informasi lomba menulis terus dia gali. Nah, di lomba yang sukses dia juarai, tema khususnya memang ditentukan panitia. Yakni tentang dampak kekerasan. Dia juga langsung mendapat ide menulis dari pengalaman pribadinya.

”Saya punya pengalaman di-bully, itu jadi salah satu trauma hingga sekarang. Awalnya memang hanya untuk curhat, walaupun sesuai dengan tema lomba,” kata pelajar kelahiran 17 Januari 2000 tersebut.

Di dalam tulisan sepanjang 13 halaman yang berjudul ”Jatuh, Bangkit, Terus Tumbuh” itu, Vanes bercerita panjang tentang pengalamannya menjadi korban bully sejak SD hingga SMA.

”Sengaja saya ceritakan karena menjadi korban bully itu tidak enak. Saya bahkan sampai pernah mengalami depresi karena merasa sendiri dan tidak punya teman,” ungkapnya sembari terlihat berkaca-kaca.

Vanes mengaku jika perasaan itu tidak pernah dia ceritakan kepada keluarganya secara langsung. Ayah dan ibunya baru tahu jika dia mempunyai perasaan tersebut setelah karyanya menjadi juara II. Vanes mengaku sengaja melakukan itu karena dia tak ingin dipandang lemah.

”Papa dan Mama baru tahu setelah saya dapat juara, ya mereka seperti merasa bersalah. Saya sendiri juga seperti itu, karena tidak mau bercerita,” kata putri pasangan Darmono Setiawan dan Endang Sri Wahyuni tersebut.

Kini, setelah karyanya mendapat pengakuan, dia merasa lebih lega. Dia mengaku bakal terus bangkit dan membagikan cerita pahitnya kepada orang lain.

”Banyak juga kan korban bully yang akhirnya dendam dan melampiaskannya. Saya tidak ingin seperti itu meski berat memang untuk melawannya,” jelasnya.

Dia sengaja menempuh jalan menyampaikan curhatan melalui tulisan, karena dia percaya lewat tulisan semua orang bisa mendapat informasi tersebut. Bahasa tulis juga tak pernah lekang oleh waktu.

”Saya ingin terjun ke masyarakat dan menceritakan pengalaman saya. Jangan terpuruk dengan keadaan karena kalau mau pasti bisa bangkit dan terus tumbuh,” tegas dia.

Pewarta: Hafis Iqbal
Penyunting: Bayu Mulya
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Hafis Iqbal