Valentine Day, Harga Mawar Makin ”Harum”

GUNUNGSARI – Momen Valentine Day seperti sekarang ini (14/2) menjadi berkah bagi para petani mawar di Kota Batu. Sebab, permintaan bunga dengan tangkai berduri ini meningkat cukup signifikan. Tidak hanya itu, harga bunga mawar juga makin ”harum” atau naik dari biasanya.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mawar Mutiara Alam Kota Batu Nur Aziz mengatakan, pada momen tertentu penjualan bunga mawar memang mengalami peningkatan. Seperti momen Valentine, hari guru, dan bulan-bulan musim pernikahan.

”Tetapi pada bulan pernikahan meningkatnya tidak signifikan karena biasanya harga mawar hanya naik 10 persen dari biasanya,” ungkap Aziz–sapaan akrabnya. Berbeda dengan momen Valentine seperti sekarang.

Aziz mengakui, pada momen yang dikenal hari kasih sayang itu harga bunga mawar bisa naik 3 kali lipat dan permintaan melimpah ruah. Dari biasanya, harga per tangkai mawar kisaran Rp 700–Rp 1.000, bisa menjadi Rp 2.500–3.000 per tangkai.

Laki-laki asal Desa Gunungsari itu menambahkan, untuk momen Valentine ini peningkatan penjualan sudah mulai 11 Februari lalu. ”Contohnya pada Selasa (11/2) sekitar 300 ribu kuntum (tangkai) siap dikirim ke luar kota,” beber ayah dari 2 anak itu.

Meski begitu, musim hujan biasanya menjadi kendala bagi petani bunga mawar lantaran biaya operasional. Karena harus memberi obat fungisida agar daunnya tidak mudah rontok. ”Tetapi hal ini bisa ter-cover dengan harga yang meningkat di momen Valentine ini,” tandas dia.

Sementara Kepala Desa Gunungsari Kota Batu Andi Susilo mengatakan, perkembangan mawar di Desa Gunungsari sudah sejak 10–15 tahun lalu. Petani mulai beralih dari pertanian sayur ke mawar karena harga lebih menjanjikan.

”Karena kalau sayur pendapatannya fluktuatif meski tanamannya bagus, tapi kadang harganya rendah. Beda dengan mawar, yang lebih stabil dan justru meningkat pada momen tertentu,” ungkapnya.

Mawar memang mendominasi pertanian di Desa Gunungsari. Menurut Andi, hal ini disebabkan iklim dan tanah di Desa Gunungsari cocok untuk mawar. ”(Geografis Desa Gunungsari) tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah sehingga hasil produksinya lebih bagus,” ucap Andi.

Selain itu juga didorong dengan kemampuan para petani yang sudah mengerti seluk-beluk mawar. Selain dijual ke luar, saat ini wisata petik mawar terus digalakkan. ”Dengan begitu, bisa mendukung program desa wisata dari dinas pariwisata,” pungkasnya.

Pewarta : Ulfa Afrian
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Aris Dwi Kuncoro