Usul Harga MRT Rp 10 Ribu, DPRD DKI: Sisanya Disubsidi






JawaPos.com – Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi berkesempatan untuk merasakan menaiki kereta Mass Rapid Transit (MRT) dari Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Menurutnya, perlu ada harga yang cocok untuk akses masyarakat.





Pria yang akrab disapa Pras ini menyatakan, harga tidak boleh membebankan masyarakat. Namun, harga juga harus sesuai dengan fasilitas yang didapatkan misalnya tersambung dengan moda angkutan lain.







“Kalau Rp 10 ribu saja saya kira layak, kan bisa terintegrasi kemana-mana pakai TJ (Transjakarta). Jadi semua bisa nyambung, saya rasa nggak ada masalah. Masyarakat Jakarta bisa on time, orang nggak bakal risih (naik MRT),” tuturnya di Stasiun Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Rabu (31/10).





Senada dengan Pras, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M Taufik pun meminta agar tarif MRT harus murah, jika perlu harus dibebankan ke APBD DKI 2019 melalui subsidi. Taufik tidak ingin karena harga mahal, penumpang MRT hanya sedikit.





“Diharapkan harus murah. Sudahlah kalau perlu ada Public Service Obligation (PSO), kami subsidi besar nggak ada masalah. DKI punya uang kok,” ungkap Taufik.





Usulan Rp 10.800 menjadi cocok menurutnya untuk kondisi aman dan nyaman yang ditawarkan oleh MRT. Terlebih pembangunan dan teknologi sangat canggih, maka tarif sebesar itu menurutnya pas di kantong warga.






“Ya mungkin Rp 10.800 oke itu ya, janganlah kalau Rp 20 ribu. Kasihan masyarakat karena gini ya saya bangga juga ada MRT kalau lihat terowongannya bagus, teknologinya canggih, keretanya nyaman. Sudah top banget,” tandasnya.






(rgm/JPC)