Usia Setahun Usus Muntir, Buang Hajat lewat Perut

Derita Teguh Imam Rofi’i ini berlipat. Sejak usia setahun, ususnya muntir. Beranjak remaja, kedua orang tuanya meninggal dunia. Kini dia hidup bersama pamannya yang sangat sederhana.

IMRON HAQIQI

Sepintas wajah Teguh Imam Rofi’i seperti anak-anak. Baby face. Padahal, usianya sudah 17 tahun. Tubuhnya terlihat kering. Namun, dia selalu ceria. Warga Pujiharjo, RT 29, RW 26, Kecamatan Tirtoyudo, ini menderita penyakit yang cukup langka. Entah karena apa, ketika usia setahun, ususnya didiagnosis muntir (tak beraturan).

Sehingga mengganggu pembuangan kotoran lewat (maaf) anus. Untuk memperlancar buang hajat, dokter yang menangani dulu membuat terobosan. Usus pembuangan kotoran digantung di perut. Saat wartawan koran ini melihat, di balik bajunya menyembul usus yang dibungkus kresek warna merah.

Di situlah kotorannya keluar dan langsung ditampung kresek. ”Nggih mulai alit nek buang hajat dugi meriko. Nggih mboten keroso ngoten, moro pun kebak hajati pun (Sejak kecil kalau buang hajat ke kresek itu. Tidak terasa, tahu-tahu kreseknya penuh kotoran),” ujar Waginem, tante yang merawat Teguh Imam.



Meski kondisi seperti itu, Waginem menjelaskan, keponakannya itu dalam keseharian cukup lincah. Layaknya anak-anak yang lain.  Hanya karakternya pemalu. Dia juga hanya sekolah sampai kelas II SD. Sebab, saat itu kondisinya tidak mungkin melanjutkan sekolah.

”Ya, meskipun mempunyai kelainan, tapi sehari-harinya dia normal kok, Mas,” papar Waginem. Kadang, dia melanjutkan, bermain di luar rumah bersama teman-teman sebayanya. ”Tapi, kalau main yang sampai lari-lari dia pasti tidak ikut. Sudah mengerti dengan kondisinya sendiri,” sambung istri Prasto ini.

Derita keponakannya itu bertambah ketika ditinggal kedua orang tuanya, Sri Astuti dan Slamet, meninggal dunia di tahun yang sama pada 2018 lalu. Orang tua anak kelahiran 2002 itu meninggal di Tarakan, Kalimantan Utara. ”Sejak ditinggal kedua orang tuanya itulah lantas anak ini saya bawa ke Malang untuk saya rawat,” ujarnya.

Beberapa tahun lalu, ketika kedua orang tuanya masih hidup dan pulang ke Malang. Teguh sempat dirawat di RS Saiful Anwar. Upaya mengembalikan ususnya agar normal   gak berhasil. ”Tapi beberapa waktu, ternyata tetap saja, tidak bisa buang hajat, serta anaknya juga lemas lunglai,” katanya.

Saat dikonsultasikan kembali ke salah satu dokter di RSSA, dokter pun menyarankan agar ususnya itu tidak dikembalikan sebagaimana semula. ”Akhirnya kami pun membiarkan kondisinya seperti sekarang. Yang penting tetap sehat,” katanya.

Memang, meski terlihat kurus kering, tapi anak berambut ikal itu terlihat sehat seperti orang biasanya. Saat ini perempuan berusia 68 tahun itu secara rutin mengantarkan Teguh kontrol ke Puskesmas Pujiharjo. Tiap seminggu sekali harus beli kresek 1 pak dan tisu. Seperti anak bayi yang dibelikan pampers.  ”Tidak apa-apa, yang penting anak ini masih terlihat sehat,” katanya.

Kehidupan ekonomi Waginem sebenarnya kurang bagus. Menurut dia, tiap hari penghasilannya Rp 30 ribu sebagai buruh tani. Padahal untuk sekali periksa, biasanya dia mengeluarkan dana Rp 100 ribu.  Namun, dia merasa ikhlas melakukannya.

Teguh  saat ditanya soal kondisinya, dia merasa tidak merasakan sakit apa-apa. Biasa-biasa saja. Hanya, dia harus rutin mengganti kresek yang ada di perutnya ketika sudah penuh.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib