Usia Bertambah Tua, NATO Makin Ringkih

JawaPos.com – Sebanyak 29 anggota North Atlantic Treaty Organization (NATO) berkumpul di ibu kota Inggris untuk merayakan hari jadi ke-70. Namun, tak ada agenda besar yang dihelat. Situasi itu menggambarkan seberapa tegang dan renggang aliansi negara Eropa dan Amerika tersebut.

Sejak persiapan, pihak NATO tegas menolak melabeli pertemuan kali ini sebagai konferensi tingkat tinggi (KTT). Menurut mereka, KTT sudah diadakan tahun lalu dan tak perlu diadakan lagi. Otomatis, tak ada pernyataan bersama atau pengumuman rencana ke depan.

’’Perdana Menteri (Boris Johnson) akan menekankan bahwa semua anggota NATO harus bersatu,’’ ujar jubir pemerintah Inggris kepada BBC.

Banyak faktor yang membuat suasana perayaan ulang tahun aliansi pertahanan itu jadi tak meriah. Salah satunya, isu pertempuran Syria yang kembali terjadi beberapa bulan terakhir. Keputusan AS untuk menarik tentara dari Syria dan Turki yang melakukan invasi banyak diprotes anggota aliansi.

Presiden Prancis Emmanuel Macron merupakan tokoh yang paling vokal. Bulan lalu dia menyebut NATO sudah mati otak. Dia meminta anggota tak lagi sibuk membahas anggaran, tetapi lebih fokus dalam mekanisme koordinasi dan strategi militer.

Tentu saja, kepala negara AS dan Turki naik darah. ’’Pernyataan itu sangat amat menjijikkan dan tak sopan,’’ ungkap Presiden AS Donald Trump kepada Agence France-Presse.

Reaksi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan lebih keras. Dia menyatakan bakal menghalangi rencana pertahanan Baltik NATO. Rencana terbaru NATO tersebut diusulkan untuk melindungi negara yang berbatasan langsung dengan Rusia, musuh utama aliansi. Di antaranya, Polandia, Estonia, Lithuania, dan Latvia.

Sayang, rencana itu butuh persetujuan semua anggota. Hanya satu cara yang membuat Turki menyetujui proposal tersebut. Yakni, NATO mengumumkan organisasi YPG alias People’s Protection Units sebagai kelompok teroris. Organisasi militan etnis Kurdi itu merupakan sekutu AS di Syria selama perang melawan ISIS.
’’Jika permintaan kami tidak dipenuhi, kami akan menghalangi semua rencana (NATO),’’ ungkap Erdogan.

Pakar pertahanan asal Inggris Michael Clarke menyatakan, perkembangan NATO, baik dari sisi jumlah anggota maupun anggaran, tak berbanding lurus dengan kekuatan aliansi. ’’Dengan anggota saat ini, kekuatan NATO hanya setengah dari saat mereka dibentuk,’’ ucapnya.

Hal tersebut tentu menguntungkan Rusia. Saat ini Rusia sudah mencoba untuk memperluas pengaruhnya secara internasional. Bahkan ke anggota NATO seperti Turki. Baru saja, pemerintah Ankara membeli misil pertahanan S-400 dari Rusia. ’’Kesulitan anggota NATO untuk mencapai konsensus akan memudahkan Putin memperluas pengaruh,’’ terang Clarke

Saat ini Rusia memang belum memegang banyak pengaruh politik. Putin hanya bisa mengulurkan tangan ke sesama negara komunis seperti Tiongkok. Namun, beberapa negara yang terdesak lambat laun pasti akan tergoda. Misalnya, Syria yang kini mulai jatuh di tangan Iran dan Rusia.

’’Dalam sepuluh atau 20 tahun ke depan, Rusia bakal menjadi gangguan besar bagi NATO. Jika dibiarkan, mereka akan mengambil peran besar dalam keamanan Eropa,’’ imbuhnya.