Usai Ketemu Presiden, Nyak Sandang Akhirnya Lakukan Pengobatan Katarak

Usai Ketemu Presiden, Nyak Sandang Akhirnya Lakukan Pengobatan Katarak

Nyak Sandang saat hendak melakukan pemeriksaan mata di RSPAD, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (22/3).
(Dery Ridwansah/Jawa Pos)

RADAR MALANG ONLINE – Harapan dan cita salah satu penyumbang dana pembelian pesawat pertama di Indonesia akhirnya satu-persatu terwujud. Setelah bertemu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi), Nyak Sandang diperiksa matanya pagi ini, di RSPAD Gatot Subroto, Kartika Paviliun, Jakarta.

Relawan ACT, Maturidi, 50, yang aktif menerjemahkan bahasa Aceh yang disampaikan Nyak Sandang saat wawancara mengatakan, kondisi lelaki berumur 91 tahun ini sempat drop.

“Ya, kelelahan namanya sudah usia ya. Dia mengeluh capek jam 2 dini hari itu. Lalu, pukul 6.30 WIB kami pun membawanya ke sini (RSPAD Gatot Subroto) untuk cek kesehatan dan pengobatan untuk matanya,” ujar Maturidi saat ditemui RADAR MALANG ONLINE, Kamis (22/3).

Nyak Sandang datang menggunakan kursi roda ditemani anaknya, Khaidar dan Maturidi. Di rumah sakit yang terletak di Jakarta Pusat itu, Nyak Sandang dirawat untuk selanjutnya menjalani pengobatan mata yang diduga katarak.

Kondisi kesehatan Nyak Sandang dinyatakan stabil. Akan tetapi, usai pemeriksaan kesehatan pertama, dokter mendiagnosis Nyak Sandang positif mengalami gangguan prostat atau sulit buang air kecil.

Nyak Sandang, pemilik bukti obligasi sumbangan pembelian pesawat Dakota RI-001 saat ditemui Presiden Jokowi di Istana.
(dok. Biro Pers Setpres)

Maturidi mengatakan memang sebelumnya Nyak Sandang kerap mengeluhkan persoalan ini.

“Hari ini dokter bilang positif prostat. Dan untuk mata Ayah Sandang, nanti mereka akan segera bersihkan. Akan diambil tindakan radiologi juga,” jelas Maturidi.

Selama berbincang dengan RADAR MALANG ONLINE, Nyak Sandang sempat mengangkat tangan kanannya ke atas seperti ingin melihat ke arah dinding. Anak lelakinya Khaidar pun menjelaskan, ayahnya tidak pernah menyangka dia akan bisa melihat lagi.

“Tuh lihat, itu dia mau melihat langit-langit. Sempat bilang, mimpi rasanya kalau bisa melihat lagi, tapi bisa akan nyata,” ungkap Khaidar dengan haru.

Khaidar sadar ini jalan dari Tuhan untuk ayahnya, akhirnya pengorbanan dan cinta kasihnya pada negara dapat diakui pemerintah setelah sekian lama. Bahkan, selama ini keluarganya tidak pernah menuntut apapun kepada pemerintah.

Dirinya merasa inilah jawaban dari Allah karena ketabahan hati Nyak Sandang selama ini.

“Iya, sedih berpisah sama Ibu si Ayah. Sebelum kesini, keluarga pesan kalau Bapak hanya main kesana tidak usahlah. Tapi kalau kedatangan bapak bermanfaat untuk untuk banyak orang tidak apa-apa,” tegas Khaidar.

Mengenakan baju pasien warna ungu, Nyak Sandang pun menyambut RADAR MALANG ONLINE dengan hangat. Bahkan, doa dan rasa terimakasih dikeluarkan dari bibir rentanya.

“Saya senang, terimakasih. Cepat sehat saja, hati-hati terimakasih,” ucapnya sambil tersenyum.

Pagi ini, Nyak Sandang diperiksa oleh tujuh dokter. Beberapa diantaranya adalah dokter spesialis ahli mata, radiologi, dan prostat. Turut hadir menyambutnya Kepala RSPAD Gatot Subroto, Kepala Kartika Paviliun RSPAD Gatot Subroto.

“Sudah layaknya para menteri saja Ayah ini. Terimakasih untuk pak Jokowi sudah memberikan fasilitas dan pelayanan yang total,” tuturnya diakhiri dengan gelak tawa. Pengobatan Nyak Sandang ini ditanggung langsung oleh pemerintah.

Seperti diketahui, Nyak Sandang, salah seorang yang ikut andil menyumbangkan harta kekayaannya untuk membeli pesawat pertama Indonesia.

Hal ini berawal dari tahun 1948 saat Presiden Sukarno berkunjung ke tanah Aceh guna mencari dana. Nyak Sandang yang kala itu berusia 23 tahun, menjual sepetak tanah dan 10 gram emas bersama orang tuanya.

Hartanya yang dihargai Rp 100 pun diserahkan kepada negara. Presiden Sukarno pun menerima sumbangan dari masyarakat Aceh sebanyak SGD 120 ribu dan 20 kg emas murni untuk membeli dua pesawat terbang yang diberi nama Seulawah R-001 dan Seulawah R-002. Dua pesawat tersebut merupakan cikal bakal maskapai Garuda Indonesia Airways.


(rgm/JPC)