Untuk Produk Gadget dan Elektronik, Kongsi Korea-Tiongkok Rajai Malang

Masyarakat makin punya banyak pilihan saat hendak membeli gadget dan alat elektronik. Brand asal Tiongkok, Korea, Taiwan, dan Jepang berlomba melempar produk teranyarnya dengan segala kecanggihan dan inovasi yang dibenamkan di dalamnya. Persaingan sengit untuk menjadi yang terlaris juga berlangsung di Malang. Siapa pemenangnya?

Brand terkenal masih jadi prioritas utama dalam memilih produk gadget dan elektronik oleh sebagian besar konsumen di Kota Malang. Mulai dari produk berupa handphone, notebook, tablet, televisi, hingga lemari es. Namun, munculnya brand-brand baru yang agresif menggempur pasar dengan produk teranyarnya juga ikut memengaruhi selera pasar.

Untuk produk smartphone, misalnya. Saat ini, persaingan sengit beberapa vendor asal Tiongkok, Korea, dan Taiwan kian agresif menyisir pasar konsumen di Malang. Sebut saja, Samsung (Korea), Xiaomi (Tiongkok), Oppo (Tiongkok), Lenovo (Tiongkok), Asus (Taiwan), Huawei (Tiongkok), juga Vivo (Tiongkok).

Di sejumlah toko ponsel di Malang, Samsung dan Oppo masih merajai penjualan. Produk Samsung, brand terkenal asal Korea, paling laris di antara brand-brand lain.

”Setiap hari, penjualan Samsung mencapai 40 persen. Diikuti Xiaomi, Oppo, Lenovo, Asus, Huawei, dan lainnya,” ujar Jimmy Etmada, owner Indocell Malang. Dia menerangkan, handphone merek Samsung rata-rata terjual antara 45–50 unit per hari.

Produk handphone paling laris selanjutnya adalah Xiaomi, brand asal Tiongkok. Per harinya, Xiaomi terjual rata-rata 20 unit. Rata-rata penjualan Xiaomi itu serupa dengan penjualan Oppo, yang juga diproduksi brand asal Tiongkok. Rata-rata, penjualan Oppo per harinya juga mencapai 20 unit.

Sementara itu, di Sentral Handphone, produk Samsung dan Oppo paling banyak dibeli konsumen. ”Hingga saat ini, di Sentral Grup, Oppo dan Samsung yang merajai pasaran,” ujar Irfan Trijatmiko, event promo marketing Sentral Grup.

Selain produk asal Korea yang sedang menguasai pasar gadget, Tiongkok kini menyusul dengan dua brand papan atasanya, Xiaomi dan Oppo. Meskipun produk Xiaomi di Indonesia masih sedikit, namum kehadirannya berhasil menyedot minat para pengguna gadget.

”Xiomi peminatnya banyak, tetapi jenis tipe yang masuk ke Indonesia masih terbatas,” kata Musallam, purchasing dan gudang Sentral Grup. Ia menjelaskan, jika dipersentasekan, penjualan produk Oppo berada di kisaran 26 persen, Samsung 24 persen, dan disusul Xiaomi dengan 12 persen.

Musallam lantas mencontohkan, pada penjualan akhir pekan kemarin (21/1) saja, produk merek Samsung masih bisa menembus angka 73 unit. Sedangkan, penjualan Oppo mencapai 42 unit, dan produk Xiaomi mencapai 35 unit.

”Memang angkanya bisa berubah setiap harinya. Namun, Oppo dan Samsung tetap paling laris,” bebernya.

Tentang merek Xiaomi, Jimmy punya keyakinan bahwa brand ini bakal diterima pasar jika menambah varian produknya. Itu berkaca dari yang ada saat ini, dengan hanya meluncurkan 4 tipenya secara resmi, Xiaomi sudah merebut banyak konsumen. Jika varian produk Xiaomi ada 10 tipe saja, Jimmy yakin merek asal Tiongkok itu bisa sejajar dengan Samsung. Untuk diketahui, saat ini tipe Samsung jumlahnya sekitar 15 tipe.

”Tidak perlu 15 tipe, kalau saja Xiaomi menambah tipe menjadi 10 saja, dia akan mampu sejajar dengan Samsung. Selama ini, banyaknya tipe-tipe Xiaomi kan BM (black market),” katanya. Menurutnya, keunggulan Xiaomi adalah spesifikasinya yang tinggi dan dibanderol dengan harga yang terjangkau.

Sementara, tentang Oppo, beberapa waktu yang lalu terjadi pergeseran visi. Sebelumnya, harga Oppo termasuk tinggi dengan spesifikasi yang masih kalah dengan brand-brand lain yang harganya lebih murah. Kini, Oppo mulai menurunkan harga dan meningkatkan spesifikasinya.

”Kalau dulu, Oppo RAM 4 bisa sampai Rp 7 juta. Saat ini Rp 3.900.000 sudah dapat,” ujar Jimmy.

Oppo sendiri merupakan brand yang gencar melakukan ekspansi pasar. Saat ini saja sudah banyak selebritis terkenal di Indonesia yang menjadi brand ambassador mereka. Di antaranya, Chelsea Islan, Raline Shah, Raisa, Isyana Sarasvati, Reza Rahardian, Deddy Corbuzier, dan lain-lain.

Brand lain yang juga menggandeng artis sebagai brand ambassador adalah Vivo. Mereka menggandeng Gal Gadot dan Agnez Mo untuk menarik konsumen. Sementara, Asus menggunakan jasa Joe Taslim untuk mengenalkan produk mereka. Mengenai berpengaruhnya ekspansi pasar ini, menurut Jimmy, itu tergantung lama barunya brand.

”Kalau berpengaruhnya terhadap penjualan, bisa iya, bisa tidak. Brand baru bisa lebih cepat terkenal. Kalau brand lama jarang,” terang Jimmy.

Bagaimana dengan gadget asal Jepang? Untuk diketahui, produk gadget asal Jepang adalah Sony. Sony sendiri memang termasuk brand yang terkenal. Namun, menurut Jimmy, saat ini Sony sudah tidak lagi masuk ke Indonesia secara resmi.

”Sony sudah tidak ada distributor resminya lagi. Sony dikonsumsi oleh rakyat Jepang sendiri,” imbuhnya.

Bagaimana dengan produk elektronik? Rupanya, merek Samsung tak bisa dianggap remeh. Brand ini masih berada di papan atas untuk produk-produk elektronik seperti televisi, kulkas, dan lainnya. Brand terkenal asal Korea tersebut menjadi brand yang paling laris, terutama untuk produk televisi. Per harinya, televisi keluaran Samsung terjual rata-rata 30–50 unit di Toko Elektronik Hartono Malang.

LG juga menempati posisi yang sama dengan Samsung dalam hal penjualan televisi. Produk yang juga asal Korea itu bisa terjual antara 30–50 unit per harinya. Sedangkan di posisi ketiga adalah Sharp. Brand asal Jepang ini menjual produk berupa televisi rata-rata 30 unit per hari.

”Kalau TV, rata-rata masih dominan di brand Korea seperti LG dan Samsung. Mindset orang memang lebih banyak ke Korea. Yang kedua yaitu Jepang, seperti Sony, Toshiba, Sharp, dan Panasonic. Kalau produk Tiongkok lebih dominan ke AC (air conditioner) sama mesin cuci,” terang Agus Iskandar, store manager Toko Elektronik Hartono Malang.

Untuk produk elektronik dari Tiongkok, konsumen memang lebih banyak memilih produk berupa AC. Sementara, brand yang paling gencar melakukan ekspansi pasar, menurut Iskandar, adalah Samsung dan LG, diikuti brand asal Jepang, Sharp, kemudian Midea dari Tiongkok.

”Samsung dan LG merupakan dua brand yang teknologinya paling awal, paling terbaru,” ujarnya.

Seperti produk berupa televisi saja, Samsung dan LG selalu menciptakan teknologi-teknologi terbaru yang inovatif. Sementara, Sharp lebih condong pada tampilan warna yang dihasilkan.

”Kalau brand asal Jepang (Sharp) lebih condong ke tampilan warna yang lebih natural. Sedangkan untuk brand Korea (contoh: Samsung, LG) lebih banyak update fitur-fiturnya,” terang Agus.

Sementara itu, sengitnya persiangan produk gadget dan elektronik dari pabrikan Tiongkok, Korea, Taiwan, dan Jepang ini dianggap sebagai hal yang wajar. Menurut pakar ekonomi dari Universitas Negeri Malang (UM) Prof Dr H Heri Pratikto MSi, perang produk tak bisa dihindari di era serbadigital sekarang ini.

”Yang akan unggul dalam persaingan adalah brand yang bisa membangun loyalitas konsumen,” ujar dia.

Dosen kelahiran Trenggalek itu menjelaskan, konsumen yang merasa puas kepada satu produk belum jadi jaminan loyalitasnya kepada produk itu sendiri. ”Apalagi, jika konsumen itu sampai tidak puas,” terang kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Bidang Ekonomi Bisnis dan Kewirausahaan LP2M UM itu.

Menurutnya, orang yang membeli gadget merek tertentu belum tentu dia tidak berniat membeli produk dari merek lain. Tetapi, jika seorang konsumen sudah loyal dengan satu produk, jelas Heri, sulit bagi konsumen tersebut berpindah ke produk lain.

”Yang puas dengan satu merek belum tentu loyal, apalagi yang tidak puas,” kata mantan PD 1 Dekan FE UM itu.

Di lain pihak, pengamat ekonomi Prof Drs Djathi Koesoemo BSc punya perspektif lain. Dia mengatakan, saat ini sedang berlaku hukum break event point, yaitu adanya pertemuan antara produk dan permintaan.

”Saat ini konsumen sudah mempunyai banyak pilihan. Maka, fitur yang memenuhi permintaan konsumen akan menjadi pilihan,” kata alumnus FE UB itu.

Brand yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen dengan teknologi terkini dan juga dengan harga terjangkau bakal menggerus brand yang miskin inovasi. Hanya, kata Djathi, memang ada produk dari merek tertentu tidak laku di pasar negara kelas menengah ke bawah, tapi laris manis di negara maju.

Pewarta: NR4, NR5 & Fajrus Shiddiq
Penyunting: Achmad Yani
Copy editor: Arief Rohman
Foto: Falahi Mubarok