Untuk Emak-Emak, Menawan Siapkan Rp 25 Juta

Pasangan calon wali Kota Malang dan calon wakil wali Kota Malang nomor urut 1 Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi tidak hanya mendekati para pedagang, tapi istri pedagang juga mereka dekati.

MALANG KOTA – Pasangan calon wali Kota Malang dan calon wakil wali Kota Malang nomor urut 1 Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi tidak hanya mendekati para pedagang, tapi istri pedagang juga mereka dekati.

Bagaimana caranya? Ibu dua anak ini menyatakan, kalau terpilih, dia akan memberikan dana stimulus Rp 25 juta untuk setiap RW di Kota Malang. Program ini sama Nanda–sapaan akrabnya–disebut Empowering Emak-Emak atau penguatan Emak-Emak. ”Power Emak-Emak ini harus bisa lebih bermanfaat,” kata  Nanda.

Menurut dia, hal itu bisa diwujudkan dengan membuatkan koperasi yang ada di setiap RW (rukun warga) seluruh Kota Malang. Hal tersebut diharapkan bisa membuat ibu-ibu lebih berdaya. Menurut dia, hal ini sudah disampaikan saat bertemu dengan masyarakat di Kecamatan Blimbing.

Program tersebut memang cukup menarik perhatian warga. Nanda menerangkan jika program itu sesuai dengan slogan Menawan yang selama ini diusungnya. Jadi, stimulus itu akan menggerakan perekonomian lokal berbasis UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah).

Menurut dia, bantuan dana hibah itu sebagai stimulus. Jadi, bisa mengembangkan usaha yang dirintis RW. ”Ibu-ibu di sini kan bisa mengembangkan jualannya di rumah kalau punya koperasi sendiri di RW,” terang Nanda.

Selain kampanye di sana, perempuan ini pun mampir ke Pasar Krempyeng, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing. Seperti yang disampaikan Supiah, 36, pemilik kios. Dia menyampaikan jika seharusnya untuk retribusi kios Rp 500 per meter setiap hari. Sebab, kiosnya sepanjang enam meter, maka seharusnya dia membayar Rp 3.000. ”Tapi, kenyataannya saya ditarik dua kali lipat,” kata Supiah. Dia mengaku, setiap hari membayar Rp 6.500.

Keluhan tersebut ditanggapi Nanda dengan tenang. Nanda menilai jika seharusnya ada kesepakatan terlebih dahulu soal penarikan uang retribusi pasar antara pedagang dan petugas. Jadi, ada kejelasan dan tidak sembarangan dalam mematok harga. ”Memang hal-hal kecil seperti ini perlu untuk adanya regulasi dan ditata lagi ya Ibu-Ibu. Makanya bersama saya, Ayo Noto Malang,” kata dia sembari memekikkan jargonnya.

Pewarta : NR1
Penyunting : Irham Thoriq
Copy Editor : Dwi Lindawati