Unjuk Rasa Jadi Reformasi, Sebanyak 800 Orang Ditangkap di Tunisia

Unjuk Rasa Jadi Reformasi, Sebanyak 800 Orang Ditangkap di Tunisia

Protes pecah menjelang peringatan tujuh hari atas penggulingan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Pemerintah mengadakan pertemuan darurat sebagai tanggapan atas unjuk rasa yang membuat 800 orang ditangkap.

Pejabat setempat mengatakan, rencana untuk mereformasi perawatan medis, perumahan, dan meningkatkan bantuan untuk orang miskin telah diajukan ke parlemen.

Unjuk rasa tersebut dimulai awal bulan Januari ini setelah pemerintah mengumumkan pajak tahun baru dan kenaikan harga dalam anggaran 2018. Pada bulan Desember, International Monetary Fund (IMF) mengatakan kepada Tunisia bahwa pihaknya perlu mengambil tindakan mendesak untuk mengurangi defisit anggarannya.

Pemerintah Tunisia gagal menyelesaikan pengangguran nasional dan kemiskinan. Industri pariwisata berjuang untuk membangun kembali ekonomi setelah serangan teror pada tahun 2015.

Perdana Menteri Tunisia Yousef Chahed mencoba meyakinkan orang-orang Tunisia bahwa 2018 akan menjadi tahun sulit terakhir di negara itu.



“803 orang telah ditangkap sepanjang minggu karena dicurigai melakukan kekerasan, pencurian dan penjarahan selama unjuk rasa,” kata Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Khlifa Chibani seperti dilansir BBC, Minggu, (14/1).

Dia juga mengatakan, 97 anggota pasukan keamanan terluka dalam kerusuhan tersebut. Namun ia tidak mengatakan berapa banyak pengunjuk rasa yang telah terluka.

Kantor HAM PBB menyatakan keprihatinannya Sebab banyak pengunjuk rasa ditahan. Tapi Presiden Beji Caid Essebsi menuduh media asing memperkuat kerusuhan dan merusak citra negara tersebut melalui berita.


(iml/JPC)