Unisma dan Komunitas Perempuan Pantau Ibu Hamil

MALANG KOTA – Universitas Islam Malang (Unisma) dan perkumpulan Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KoPPI) sepakat untuk memberdayakan para perempuan hamil dan tidak mampu di Malang Raya. Kesepakatan itu kemarin ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dua lembaga tersebut.

Rektor Unisma Prof Dr Masykuri Bakri MSi menjelaskan, saat ini pihaknya tinggal membuat teknis tentang pemberdayaan kepada para ibu hamil. Ajang kerja sama kali ini juga sangat tepat bagi para mahasiswa fakultas kedokteran. Para mahasiswa akan dituntut untuk praktik secara langsung. Jadi ke depannya, tidak hanya ruang laboratorium yang akan dijadikan praktik bagi mereka. Namun, tanggung jawab untuk memantau kesehatan ibu hamil yang ada di masyarakat menjadi prioritas utama. Mulai dari mengecek detak jantung janin, kesehatan janin, dan keadaan ibu yang mengandung tersebut.

Hal ini tidak hanya dilakukan secara sepintas, tetapi dikontrol secara terus-menerus. Jumlah mahasiswa yang akan diterjunkan secara langsung kepada masyarakat akan disesuaikan dengan kebutuhan. Namun hingga saat ini, sudah ada sekitar 500 ibu hamil yang sudah didata.

”Sedangkan, target yang diharapkan ialah 1.000 ibu hamil yang berasal dari seluruh Malang Raya,” pungkasnya.


Ketua KoPPI Ya’qud Ananda Gudban menyatakan, selama ini komunitas yang bergerak di bidang sosial ini, fokus melakukan pendataan kepada para kaum perempuan. Khususnya bagi mereka yang kurang mampu. Data dari hasil lapangan yang didapatkan menunjukkan, jumlah ibu hamil di Malang Raya memang sangat minim perhatian dari beberapa pihak. Kebanyakan dari ibu hamil tersebut tidak memprioritaskan kesehatan janin yang ada dalam kandungannya.

”Bagaimana mau memperhatikan kesehatan janin, mikir buat makan saja susah,” beber Nanda, sapaan akrab Ya’qud Ananda Gudban yang juga anggota DPRD Kota Malang ini.

Dia menyatakan, sudah saatnya Malang Raya menjadi daerah yang tidak memiliki masalah soal kehamilan. Oleh karena itu, target dari kerja sama ini akan memantau terus selama 1.000 hari. Maksudnya, mulai dari awal kehamilan hingga persalinan. Target tersebut akan terasa percuma jika hanya menjadi sebuah rencana. Itu sebabnya yang membuat KoPPI menggandeng Unisma.

Selama ini, Unisma dianggap mampu untuk merealisasikan rencana yang digagas oleh KoPPI. Sebab, selain dibekali dengan ilmu akademik, Unisma juga dirasa cukup memberikan pemahaman akan spiritual (keagamaan).

”Hingga saat ini, Unisma menjadi universitas pertama yang bekerja sama dengan KoPPI. Semoga, makin banyak lagi kampus yang mendukung kegiatan seperti ini,” kata Nanda ketika ditemui di ruang rektorat Unisma kemarin (17/6).

Pewarta: Ashaq Lupito
Penyunting: Kholid Amrullah
Copy Editor: Indah Setyowati
Foto: Radar Malang