Unik, Guru Inovatif ini Bikin Monopoli Panjat Pinang

Unik, Guru Inovatif ini Bikin Monopoli Panjat Pinang

Gerimis turun perlahan. Namun, tidak sampai terjadi hujan. Halaman sekolah tampak sepi. Semua siswa tengah melakukan pembelajaran di kelas.

Ninik Wijiningsih terlihat masih sibuk dengan para siswa. Tak lama kemudian, bel bunyi. Tanda proses belajar dan mengajar selesai. ”Maaf menunggu,” ucapnya.

Ninik adalah guru kelas V di sekolah ini. Dibanding guru lainnya, dia adalah yang memiliki pendidikan paling tinggi, yaitu strata-2 (S2). Selain itu, dia terbilang guru yang kreatif dan inovatif.

Baru-baru ini dia berhasil menyabet juara pertama lomba media pembelajaran tingkat kabupaten.

Sebuah ajang bergengsi bagi guru yang diselenggarakan Pusat Belajar Guru (PBG).”Alhamdulillah kemarin berhasil menjadi juara pertama,” ungkap wanita 34 tahun itu.

Ninik berhasil menyabet juara pertama berkat kreativitasnya menciptakan media pembelajaran yang dia beri nama Panik. Panik kepanjangan dari panjat pinang unik.

Sebuah papan permainan yang diaplikasikan menjadi sebuah media pembelajaran yang unik dan asyik. ”Permainannya mirip dengan monopoli.

Tapi saya berikan panjat pinang supaya lebih menarik,” ungkap wanita asli Kecamatan Padangan itu.Penggunaan media pembelajaran itu cukup mudah. Siswa hanya cukup melemparkan dadu.

Siswa akan melangkah di papan permainan sesuai jumlah dadu. Ada tiga pilihan yang akan didapatkan siswa, yaitu materi soal, materi ilmu, dan bonus. Jika mendapatkan soal, maka siswa harus bisa menjawabnya.

”Jika medapatkan ilmu siswa harus menjelaskan materi yang tersedia. Kalau dapat bonus, bisa naik pohon pinang yang ada hadiahnya,” terangnya.

Dengan media pembelajaran itu, siswa jadi lebih mudah mengerti. Selain itu, siswa juga merasa enjoy. Sebab, pembelajaran dilakukan seperti permainan.

Dia mengungkapkan, pembuatan media pembelajaran Panik itu terinspirasi permainan monopoli. Dia kemudian, berpikir untuk membuatnya menjadi sebuah media pembelajaran yang unik.

”Saya tambahi panjat pinang biar ada sisi tradisionalnya,” ujarnya.Media pembelajaran Panik itu bisa digunakan untuk semua materi pelajaran. Tinggal mengganti soal dan materi pembelajarannya.

Misalnya, untuk Matematika ya soalnya dibuatkan Matematika. ”Teknik permainannya sama,” jelasnya.Menurut dia, media pembelajaran Panik tersebut lebih simpel. Semua jenjang kelas bisa menggunakannya.

Namun, jangan setiap hari menggunakan media pembelajaran itu. ”Ya lama-lama siswa bisa bosan. Jadi, harus variatif,” jelas alumnus Universitas Negeri Malang itu.

Dia menjelaskan, guru memang memiliki tantangan tersendiri. Sebab, harus membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Sehingga, pembelajaran di kelas tidak membosankan.

Media pembelajaran karyanya tersebut diikutkan lomba tingkat kabupaten. Hasilnya, dia berhasil menyabet juara pertama. Sebuah prestasi yang membanggakan tentunya.

Sebab, sebelumnya dia belum pernah mendapatkan juara dalam lomba serupa. ”Saya tidak menyangka akan menang juara pertama,” pungkasnya. 

(bj/zim/nas/bet/ch/JPR)