UMM Bangun Kampung Warna-Warni Jilid 2

MALANG KOTA – Kampung Warna-Warni nantinya tidak hanya di Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Di Kota Batu pun juga bakal ada. Tepatnya di Dusun Krajan Sae, Desa Beji, Kota Batu. Saat ini masih dalam proses pengerjaan. Dan inisiatornya sama: mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Boleh dibilang, kampung ini nantinya menjadi Kampung Warna-Warni jilid 2.

Bedanya, di Batu, tembok-tembok rumah warga bergambar T-Rex, Brontosaurus, dan Tyronosaurus. Gambar-gambar makhluk aneh itu seolah berkeliaran di gang. Itu merupakan mural hasil karya 28 peserta dari 10 kelompok yang tergabung di ajang The Tempenosaurus Mural Art Competition. Kemarin (14/1) hingga tiga hari ke depan saja, para pelukis dari berbagai daerah seperti Semarang, Surabaya, Mojokerto, serta Lamongan ini mencoba menghadirkan dunia dinosaurus sesuai imajinasi mereka. Aksi para pelukis ini digawangi oleh kelompok Praktikum Public Relations (PR) ”Prospero” Program Studi Ilmu Komunikasi UMM.

Ketua kelompok Prospero, Sherly Amalia Arif, menyatakan, sebenarnya, melukis tembok bagian dari launching Kampung Hijau. ”Sekitar Februari nanti ada launching Kampung Hijau. Tetapi agar menarik, gang di kampung ini didesain dengan dua hal. Purbakala dan bunga matahari,” ujar Sherly.

Alasannya sederhana, mencoba menghadirkan sisi edukasi bagi pengunjung. Biar para penikmat lukisan tembok bisa tahu aneka jenis dinosaurus yang pernah hidup ratusan tahun lalu.


”Kalau bunga matahari sih dipilih agar ada kontras warna yang saling bertabrakan,” jelas Sherly. Karena, Kampung Hijau didesain dengan warna hijau yang mendominasi, otomatis harus ada warna lain yang bisa menyeimbangkan si hijau ini.

Peserta juga dibebaskan melukis dinosaurus yang tinggal di darat, laut maupun yang bisa terbang. Asal, benar-benar sesuai referensi yang ada. Apakah ada tour guide yang menjelaskan aneka macam dinosaurus di dinding ini? ”Belum tahu, bisa jadi ada. Kalau warganya mau,” singkatnya.

Mural di Dusun Krajan ini sebenarnya juga untuk meningkatkan ekonomi warga setempat. Minimal, warga bisa membuka warung kecil-kecilan. Apalagi, Dusun Beji terkenal sebagai sentra pengolahan tempe.

Pewarta              : Sandra, Mochamad Sadheli
Copy Editor         : Amalia Safitri
Penyunting         :  Abdul Muntholib
Fotografi             : Sadeli