UIN Malang Bantah Pernyataan Matan Rektor Prof Dr Mudjia Raharjo di Acara ILC

Prof Dr Mudjia Raharjo saat menyampaikan pendapatnya di acara ILC

KOTA MALANG – Pernyataan mantan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang Prof. Dr. Mudjia Rahardjo di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) di TV One pada Selasa (19/3) menuai polemik. Karena dia menyebut proses pemilihan Rektor UIN Malang 2017 lalu diduga tidak fair dan ada indikasi suap. Hal ini membuat pihak UIN Malang angkat bicara.

Para pimpinan kampus di Jalan Gajayana itu membantah adanya dugaan ketidakberesan. Bahkan UIN siap jika KPK melakukan penyelidikan.

Dr. In’am Esa yang waktu itu menjadi ketua penjaringan pemilihan rektor UIN Malang menyampaikan, bahwa apa yang disampaikan Prof Mudjia merupakan asumsi pribadi. Dikatakan In’am, anggota senat hanya memberikan pertimbangan secara kualitatif (sangat baik, baik, cukup baik) pada semua calon.

Untuk diketahui ada tiga calon yang berlaga dalam pilrek UIN Malang 2017. Mereka adalah Prof Dr Mudjia Rahardjo dari UIN Malang, Prof Dr Abdul Haris dari UIN Surabaya dan Prof Dr Moh Khusnurridlo dari IAIN Jember. Setelah proses yang panjang yang dipilih menteri agama adalah Prof Dr Abdul Haris. “Jadi proses penjaringan calon rektor waktu itu sudah sesuai dengan peraturan,” ujarnya.


Hal ini juga dikuatkan oleh anggota senat UIN Malang, Dr. Agus Maimun, menurut dia tidak benar jika dikatakan bahwa senat tidak bisa memberikan penilaian maksimal pada calon dari luar UIN Malang seperti yang disampaikan oleh Prof Mudjia di acara ILC. Karena dua calon lainya bukan orang asing yang sama sekali tidak dikenal. Prof Dr Moh Khusnurridlo, calon dari IAIN Jember adalah alumni UIN Malang dan pernah menjabat sebagai Ketua STAIN Jember 2 periode.

Sehingga track recordnya jelas. Sedangkan Prof Dr Abdul Haris, calon dari UIN Surabaya adalah alumni UIN Malang yang dulu bernama Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang. Selain itu Prof Haris pernah mengajar di IAIN Malang tahun 1989-1992. Dia juga menjadi pengajar di pasca sarjana sebelum menjadi rektor UIN Malang.

Anggota senat lainya, Dr. Zainudin menuturkan bahwa pertimbangam senat untuk ketiga calon bersifat kualitatif dan tertutup. Jadi tidak ada yang tahu isi dari masing-masing pertimbngan seluruh anggota senat. Begitu pula dengan fit and propertest, hanya menentukan 3 besar yang akan dibawa ke menteri. Bukan merekomendasikan salah satu calon terbaik.

“Dan terpilihya Rektor UIN Malang menjadi kewenangan menteri agama, tentu saja beliau mempunyai pertimbangan baik secara akademik maupun non akademik terhadap calon terbaik,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UIN Malang Dr. Hj Ilfi Nur Diana MSi juga berharap agar UIN tidak dikaitkan dengan kasus lainnya. Karena pilrek UIN kata dia, tidak ada kaitan dengan isu jual beli jabatan atau pun suap-menyuap. Pilrek menurutnya dilakukan dengan jujur dan terbuka. Maka jika KPK akan melakukan penyelidikan, terkait kasus yang disebut-sebut berkaitan dengan menag, pihaknya membuka pintu selebar-lebarnya.

”Kami di sini menjaga marwah UIN. Kami sangat mendukung KPK,” kata Ilfi.

Pewarta : Fajrus Shiddiq
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto : Youtube