Udang dan Cumi Jadi Primadona Ekspor di Jateng

Udang dan Cumi Jadi Primadona Ekspor di Jateng

Kepala Balai Karantina Ikan dan Pengembangan Mutu (BKIPM) Semarang Gatot Perdana menuturkan, kedua komoditi itu memang selalu menjadi idola ekspor produk perikanan Jateng. Sebab, keduanya amat digemari sebagai konsumsi masyarakat luar negeri.

“Ekspor hasil perikanan di Jateng terus alami kenaikan. Namun kami belum mengetahui secara pasti berapa kenaikan eskpor ikan. Karena masih dalam proses penghitungan, yang jelas udang dan cumi masih mendominasi,” kata Gatot saat ditemui di kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Selasa (20/3).

Diterangkannya, bahwa Jateng sendiri memiliki pangsa ekspor untuk komoditas produk laut ke 20 negara. Dimana selama bulan Februari lalu tercatat 1.823 ton produk ikan senilai Rp 165 miliar diekspor. Jumlah ini cukup banyak meskipun selama bulan itu mayoritas nelayan tidak melaut akibat cuaca buruk.

Dari 20 negara tujuan ekspor, Amerika Serikat, Jepang dan Tiongkok kata Gatot, hingga kini masih menjadi target utama mereka. Ekspor udang dan cumi juga mengalir deras ke tiga negara di atas.

“Amerika Serikat, Jepang dan China masih jadi tujuan ekspor kami. Karena kebanyakan dari mereka menyukai udang dan cumi Indonesia untuk dijadikan beberapa olahan makanan,” tambahnya.



Dirinya menerangkan bahwa, banyak udang dan cumi-cumi bersumber dari beberapa nelayan Pantura Jateng dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Khusus untuk KTI, kebanyakan nelayan disana mengirim udang dan cumi-cumi ke Semarang untuk di ekspor ke luar negeri.

“Permintaan yang banyak dari dalam maupun luar negeri itu juga menjadi penyebab naiknya nilai jual udang dan cumi-cumi,” imbuhnya.

Tak hanya memantau kegiatan ekspor-impor, Gatot mengaku, BKIPM Semarang turut mengawal pelaksanaan regulasi Permen KP 56/Permen-KP/2016 tentang Larangan dan Pengeluaran Lobster, Kepiting dan Rajungan dari Wilayah NKRI yang ditetapkan pada tanggal 23 Desember 2016 melalui pengawasan di pintu pengeluaran dan pintu pemasukan.

“Kami terus mengawal perdagangan kepiting agar tidak terjadi penyelundupan kepiting. Sehingga pengawalan ketat terus dilakukan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan,” pungkasnya.


(gul/JPC)