Tunda Rencana Kenaikan Sejumlah Tarif untuk Angkat Daya Beli

Kata kolumnis AS Sydney J. Harris, resesi terjadi ketika tetanggamu kehilangan pekerjaan; depresi terjadi ketika dirimu yang kehilangan pekerjaan. Ekonom dari berbagai negara pun memperkirakan resesi terjadi pada beberapa waktu ke depan. Bagaimana Indonesia?

RESESI ekonomi terjadi jika produk domestik bruto (PDB) terkontraksi atau ketika pertumbuhan ekonomi mengarah negatif selama dua kuartal berturut-turut. Negara-negara seperti AS, Italia, dan Tiongkok disebut-sebut menunjukkan gejala resesi.

Singapura yang pertumbuhan ekonominya hanya 0,1 persen juga berpeluang mengalami tekanan karena pertumbuhannya mendekati minus. Turki, Venezuela, dan Argentina lebih dulu mengalami krisis sejak dua tahun terakhir.

Ekonom BCA David Sumual mengatakan, di AS salah satu sinyal resesi ditandai kurva US treasury yang bergerak terbalik. Artinya, imbal hasil US treasury jangka pendek lebih tinggi jika dibandingkan dengan imbal hasil US treasury jangka panjang.

“Dari sebelas kali resesi yang dialami AS, delapan kali bisa diprediksi lewat yield curve ini,” urainya, Senin (14/10). Prediksi mengenai perlambatan ekonomi global terjadi sejak berlangsung perang dagang antara AS dan Tiongkok lebih dari setahun terakhir.

Di Indonesia pertumbuhan ekonomi pada kuartal II hanya 5,05 persen secara year-on-year (YoY), sedangkan pada kuartal I sebesar 5,07 persen (YoY). Menurut David, meski cenderung melambat, setidaknya pertumbuhan ekonomi Indonesia masih 5 persen. Juga jauh dari angka minus di bawah 0.

Pertumbuhan ekonomi tersebut masih cukup baik jika dibandingkan dengan negara-negara emerging market lainnya. Ada faktor blessing in disguise yang membuat ekonomi Indonesia masih cukup baik. Yakni, sedikitnya peranan perdagangan internasional terhadap PDB.

“Ini juga yang sebenarnya menolong Indonesia dari krisis 2008 dan 2 tahun setelahnya. Ketika itu harga komoditas masih tinggi sehingga kita cukup tertolong,” kata David.

Hari ini, Selasa (15/10) pasar tengah menunggu rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai kinerja neraca perdagangan. Sejumlah ekonom meramalkan neraca dagang September akan surplus. Secara kumulatif, sejak Januari hingga Agustus neraca perdagangan mengalami defisit USD 1,81 miliar.

“Pergerakan neraca dagang kita itu bukan didorong peningkatan ekspor, tapi lebih karena impor yang turun,” ujar Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal.

Menurut dia, struktur ekonomi Indonesia juga berbeda dengan negara-negara lain yang perlambatan ekonominya lebih dalam. Indonesia lebih banyak ditopang oleh konsumsi domestik. Peranannya mencapai 56 persen dari PDB.

Sayangnya, daya beli konsumen ke depan terancam menurun. Penyebabnya, inflasi administered prices berpotensi naik karena beberapa kebijakan. Di antaranya, pengurangan subsidi energi yang memengaruhi tarif listrik dan harga elpiji, kenaikan tarif tol dan penyeberangan laut, serta kenaikan tarif BPJS Kesehatan. Hal itu kurang tepat dilakukan ketika terjadi ancaman resesi.

“Sebaiknya konsumsi pemerintah dinaikkan untuk mendorong konsumsi rumah tangga. Tunda dulu kenaikan sejumlah tarif untuk menjaga daya beli,” kata Faisal.

Lantas, apa yang harus dilakukan bila terkena dampak resesi? Faisal menyarankan masyarakat agar pintar-pintar dalam berbelanja. Alihkan konsumsi ke hal-hal prioritas yang bersifat urgen.

Misalnya, pembayaran utang dan biaya kesehatan. Kemudian, sebisa mungkin jangan lupa menabung dan investasi. Pilih investasi yang likuid, yang lebih menyasar keuntungan jangka pendek atau menengah. Contohnya, reksa dana atau obligasi ritel.

Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Ahmad Erani Yustika mengatakan, kebijakan moneter dan fiskal di Indonesia sudah cukup antisipatif dalam menghalau dampak perlambatan ekonomi global. Sejumlah pelonggaran dan insentif juga sudah diberikan. Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan yang counter-cyclical agar industri tetap tumbuh, minimal selevel dengan pertumbuhan PDB.

RESESI VS DEPRESI

RESESI

Penurunan PDB ke arah negatif selama dua kuartal berturut-turut atau lebih dari setahun.

Gejalanya, terjadi deflasi atau inflasi secara tajam selama 6–18 bulan.

Dampaknya, meningkatkan PHK, penurunan investasi dan pendapatan, serta melambatnya kinerja korporasi.

DEPRESI

Penurunan kinerja PDB riil lebih dari 10 persen (lebih parah daripada resesi).

Gejalanya bila resesi terjadi selama bertahun-tahun (18–43 bulan atau lebih).

Dampak, kolapsnya ekonomi secara global, krisis multidimensi, dan kesulitan konsumsi pada masyarakat.

SIKLUS KRISIS EKONOMI GLOBAL

1978: Harga minyak dunia bergejolak

1988: Bursa saham AS, Asia, dan Eropa ambruk

1998: Krisis ekonomi di Asia. Indonesia paling terimbas.

2008: Krisis sub-prime mortgage di AS. Indonesia tertolong harga komoditas.

2018: Perang dagang AS-Tiongkok