Tugas Tim Juri Radar Malang Awards Kategori Properti, Pelototi Site Plan dan Izin Lokasi Perumahan

MALANG KOTA – Selama seharian kemarin (13/3), agenda Radar Malang Awards (RMA) 2018 adalah melakukan penjurian. Dalam sehari, tim RMA 2018 melakukan penjurian untuk dua kategori. Yaitu, rumah sakit dan properti.

Untuk kategori properti, panitia pelaksana RMA 2018 menghadirkan dua dewan juri. Yaitu, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Realestat Indonesia (REI) Tri Wediyanto dan perwakilan Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang Wibisono. Selama sehari, ada lima peserta RMA kategori properti yang dijuri. Yaitu, Perumahan Batu Panorama, Patraland, Primaland, Araya, dan Permata Royal Garden.

Di setiap kunjungan, dewan juri meminta pengembang perumahan menyiapkan kopian site plan dan izin lokasi.

”Ini penting sekali. Sebelum melakukan pembangunan, pengembang wajib memiliki dulu dua legalitas ini. Nah, dalam kesempatan ini, kami juga mengedukasi pengembang pentingnya memiliki legalitas yang jelas,” ucap Tri Wediyanto usai melakukan penjurian.

Lebih lanjut, salah satu tokoh properti di Malang Raya tersebut menjelaskan, dua izin itu dibutuhkan selain karena alasan legalitas, juga menjadi bukti kapabilitas pengembang dalam membangun sebuah proyek.



”Serta menjadikan warga yang tinggal di perumahan tersebut makin nyaman. Karena apa yang dipromosikan sesuai dengan apa yang dibangun oleh pengembang,” paparnya.

Direktur PT Kharisma Karangploso tersebut menjelaskan, selama ini di lapangan, beberapa kali ditemui fasilitas yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Salah satunya dengan membangun unit rumah di tanah yang seharusnya dijadikan fasilitas umum (fasum) atau fasilitas sosial (fasos).

”Karena itu, masyarakat juga perlu menggali informasi sedalam-dalamnya sebelum memutuskan melakukan pembelian properti,” tegasnya.

Masih menurut Tri, jika developer melakukan penyalahgunaan terhadap site plan, maka hukumannya bisa berupa pidana. Salah satunya dengan tuduhan penipuan. Sebagai informasi, hal tersebut juga bisa ditindak dengan Pasal 134 Jo Pasal 151 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Pemukiman (UU Perumahan) yang mengatur tentang ancaman pidana lain bagi developer yang membangun perumahan yang tidak sesuai dengan kriteria, spesifikasi, dan persyaratan.

Sementara itu, sejumlah pengembang peserta RMA 2018 sudah mempersiapkan dengan baik data-data yang diinginkan dewan juri. Salah satunya Araya. Dalam penilaian kemarin, tim RMA 2018 ditemui Marketing Manager Araya YV Teguh Widjajanto dan General Manager Araya Megah Abadi Golf (AMAG) Mohammad Arwan.

Yoyok–sapaan akrab YV Teguh Widjajanto– menjelaskan, pihaknya sudah melakukan penyerahan fasilitas umum secara bertahap kepada Pemkot Malang.

”Mulai proyek Pondok Blimbing Indah, kawasan Plaza Araya, hingga di jembatan dekat Taman Indie (yang masih masuk wilayah Kota Malang) semuanya sudah selesai dan sudah dilakukan verifikasi,” ungkap Yoyok.

Dalam kesempatan tersebut, Araya juga membeber site plan dan izin lokasi yang dimiliki Araya. Dalam salah satu file, tertulis bahwa Araya sudah melakukan penyerahan seluas 540.047.00 m2 atau sekitar 40,l4 persen dari luas total lahan yang terbangun. Penyerahan itu dilakukan pada 29 Juli 2011. Angka itu sudah sesuai, bahkan melebihi syarat adanya fasum dan fasos yang harus minimal 40 persen dari luasan lahan yang dibangun.

Sejumlah fasum dan fasos yang diserahkan, di antaranya prasarana perumahan dan pemukiman, sarana pertamanan, hingga utilitas perumahan dan pemukiman. Secara teknis, prasarana perumahan dan pemukiman meliputi sarana penjagaan, pelayanan umum dan pemerintahan, pendidikan, dan lain-lainnya.

”Sementara untuk utilitas perumahan dan pemukiman, di antaranya jaringan air bersih, jaringan listrik, jaringan telepon, hidran pemadam kebakaran, hingga sarana penerangan jalan umum,” beber Yoyok.

”Kami di Araya berkomitmen memberi layanan sebaik-baiknya bagi warga Araya dan berkontribusi positif kepada pemerintah dengan taat legalitas,” tandas penghobi sepeda dan fotografi ini.

Sementara itu, di Primaland, tim juri RMA 2018 ditemui personal in charge (PIC) Irfan. Dia menjelaskan, di perumahan yang mengusung konsep syariah dan tanpa riba tersebut, pihaknya juga menyediakan sejumlah fasum. Di antaranya, kolam renang untuk anak, sarana hafalan Alquran, hingga sarana berlatih memanah.

”Sarana latihan memanah ini kami siapkan dengan konsep portabel. Jadi, bisa digunakan di sejumlah tempat (latihan),” kata Irfan.

Sebagai informasi, hari ini, tim RMA 2018 juga masih akan melakukan penjurian untuk bidang properti. Rencananya, hari ini akan dilakukan penjurian untuk Atrani Residences, The OZ City Of Australia, Bridgetown, Greenland at Tidar, dan Austinville. Selanjutnya, akan dilanjutkan penjurian untuk Green Orchid Residences.

Sementara untuk penjurian kategori rumah sakit dilakukan di RS Universitas Muhammadiyah Malang dan RS Islam Aisyiyah (RSIA). Dalam penjurian kemarin, tim juri ditunjukkan sejumlah keunggulan dua rumah sakit tersebut. Di RS UMM misalnya, memiliki keunggulan bidang peralatan dan desain bangunan. Di antara peralatan yang dimiliki adalah mesin angiografi. Fungsinya untuk mendiagnosis penyakit jantung sekaligus pembuluh darah. Tidak banyak RS di Malang yang mempunyai mesin tersebut.

”Keunggulan RS UMM ini ya penanganan terhadap pasien penyakit jantung,” ujar Direktur RS UMM Prof Dr dr H. Djoni Djunaedi SpPD KPTI di sela-sela mempresentasikan fasilitas RS UMM kemarin.

Sedangkan terkait desain bangunan RS, pihaknya mengutamakan kenyamanan pasien. Dia mencontohkan desain lobi RS UMM yang tembus dari lantai I–V. Menurut Djoni, hal itu bisa membuat pasien nyaman.

”Pengunjung yang mencari kerabatnya juga gampang. Dari lantai I bisa melihat langsung kondisi di lantai V. Ada komunikasi visual,” kata dosen di UMM itu.

Selain itu, dia melanjutkan, sirkulasi udara juga lancar. Demi meyakinkan tim visiting dari Jawa Pos Radar Malang, Djoni mengajak berkeliling menyusuri hampir seluruh ruangan RS. ”Ruang pengunjung ini kami lebarkan agar nyaman,” kata dia.

Fasilitas ruang perawatan untuk kelas VVIP juga supermewah. Desainnya menyerupai apartemen. Selain terdapat ruangan khusus pasien, di kamar VVIP juga terdapat ruang tamu, ruang makan, dan dapur.
Sementara di RSI Aisyiyah, juga mengunggulkan peralatan untuk pasien jantung, seperti mesin angiografi. Namun, yang membuat RS di Jalan Sulawesi itu spesial adalah pelayanannya. Manajemen RSIA memprioritaskan kenyamanan pasien.

”Kami punya moto, layananku adalah ibadahku,” ujar Direktur RSIA dr H. Hartojo SpPK (K) di hadapan tim visiting.

Hartojo memaparkan jenis pelayanan yang dimiliki. Yakni, antar jemput pasien dalam kota secara gratis. Dia juga menjamin, pasien pengguna fasilitas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) tidak akan dipungut biaya.

”Kami ini gratis-tis. Makanya, 95 persen pasien kami ini berasal dari pasien BPJS,” katanya.

”Kami menerapkan budaya RAM. Yakni, ringkas, aman, dan melayani dengan hati,” tambah Hartojo.

Pewarta: Didik Harianto
Penyunting: Mahmudan & Abdul Muntholib
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Didik Harianto