Triliunan Dana Jiwasraya dan ASABRI Hanyut di Penangkaran Arwana

JawaPos.com – Penempatan investasi yang kurang hati-hati ditengarai menjadi salah satu faktor penyebab gagal bayar PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Dana nasabah diduga ditempatkan pada saham-saham yang tidak memiliki fundamental kuat.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo mengungkapkan, pada 2015 Jiwasraya ternyata pernah melakukan pembelian investasi reksadana saham di perusahaan penangkaran ikan arwana, yaitu PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP) sebesar Rp 6,39 triliun. Tak tanggung-tanggung, kata dia, Jiwasraya menempatkan investasinya sebanyak 90 persen.

Padahal IIKP hanya memiliki aset sebesar Rp 300 miliar dengan omzet hanya Rp 21 miliar. Perusahaan tersebut masuk pada jajaran saham terendah, yaitu Rp 50 alias saham gocap.

“Penangkaran ikan arwana, tapi bisa menerbitkan reksadana Rp 6 triliun dan profil investasi Jiwasraya 90 persen ada di saham dan reksadana yang berisiko tinggi,” katanya.

Tercatat, komposisi investasi pemegang saham berkode IIKP saat itu, paling besar merupakan instrumen reksadana sebesar 38,89 persen. Instrumen dimaksud terdiri dari reksasana DET I, TFI (X) – TRA Ordinary I, KFT, dan MRF III. Keempat reksadana itu dimiliki mayoritas oleh Jiwasraya.

Menurut data BPK, secara tidak langsung kepemilikan Jiwasraya atas saham IIKP adalah sebesar 49,26 persen atau dengan kata lain secara tidak langsung Jiwasraya menjadi pemegang saham terbesar IIKP.

Ternyata, tak hanya Jiwasraya yang menempatkan dananya di IIKP. Berdasarkan data RTI per 31 Desember 2019, Perusahaan Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI) juga memiliki portofolio saham di perusahaan tersebut sebanyak 1,82 miliar lembar saham atau setara 5,44 persen dari seluruh modal yang disetor perusahaan.

Pada 10 Mei 2019, perdagangan saham IIKP juga sempat dipelototi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi penurunan harga dan aktivitas saham perusahaan yang di luar kebiasaan (unusual market activity/UMA). Pasalnya pada triwulan pertama tahun lalu saja saham IIKP amblas 78 persen.

Mengutip laporan keuangan per Maret 2019, ASABRI memiliki portofolio saham terbesar IIKP sebesar 11,58 persen atau sebanyak 3,89 miliar saham senilai Rp 38,89 miliar. Padahal, September 2018 Asabri masih memiliki 14,74 persen atau 4,95 miliar saham senilai Rp 49,51 miliar. Artinya ASBRI sudah menjual 1,06 miliar saham IIKP.

Diketahui, pendapatan IIKP paling besar dari bisnis penjualan ikan arwana jenis super red. Penjualan di pasar ekspor untuk ikan jenis ini mencapai Rp 2,33 miliar per Maret 2019.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Romys Binekasri