Travel Bermasalah Tipu Jamaah di Kota Malang

Risa, asal Dusun Karanglo, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari Salah satu pelapor dugaan penipuan pemberangkatan ibadah umrah Ke Polresta kota Malang, kemarin (17/02). Perempuan 40 tahun ini seharusnya di jadwalkan Akan berangkat awal januari lalu, Namun sampai sekarang belum ada kabar pemberangkatan.

MALANG KOTA – Korban travel ”nakal” masih saja terjadi. Setelah penipuan bermodus tarif murah yang dilakukan First Travel, kini muncul korban lagi. Agen travel tersebut menerapkan tarif normal sehingga calon jamaah sulit mengidentifikasinya.

Dugaan penipuan tersebut terungkap kemarin (17/2) saat belasan calon jamaah yang gagal berangkat ngeluruk ke Mapolres (Markas Kepolisian Resor) Malang Kota di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Klojen.

”Saya semestinya dijadwalkan berangkat awal Januari 2018. Tapi reschedule terus, hanya dijanjikan saja,” ungkap Risa, salah satu pelapor asal Dusun Karanglo, Desa Banjararum, Kecamatan Singosari, ini saat ditemui usai melapor.

Perempuan berusia 40 tahun ini tidak curiga karena tarif yang dipatok tak murah. Bahkan tergolong mahal, yakni Rp 30 juta. Sejak mendaftar pada September 2017, Risa langsung melunasi biayanya. Bahkan, dia juga mendaftarkan salah satu anggota keluarganya. Hanya, pembayarannya tidak langsung lunas, tapi memberikan DP (down payment) sekitar Rp 10 juta. Dengan demikian, total uangnya yang digondol agen travel tersebut mencapai Rp 40 juta.

Risa menceritakan, mulanya dia akan diberangkatkan ke Tanah Suci pada 5 Januari lalu. Saat tiba masa keberangkatannya, pihak travel yang bermasalah tersebut menunda dengan alasan tertentu. Pada penjadwalan ulang, Risa dijanjikan berangkat pada 11 Januari lalu. Lagi-lagi, keberangkatannya ditunda lagi. Bahkan, pada penundaan kedua tidak ada kejelasan tanggal keberangkatannya.



”Saya dapat jawaban dari pimpinannya seperti itu (jadwal diatur ulang),” kata Risa.

Tak terima dengan jawaban tersebut, Risa langsung mendatangi kantor agen travel di kawasan Blimbing tersebut. Kemarahannya memuncak setelah mengetahui bahwa kantor travel tersebut sudah tutup. Informasinya, kantor itu tutup sejak 14 Februari lalu, diduga karena sudah tidak beroperasi lagi.

”Saya sudah ke sana (kantor travel di kawasan Blimbing), tapi kantornya tutup. Dia (pimpinan cabang Malang) bilang sudah dipindah ke Surabaya,” imbuhnya.

Selain Risa, ada belasan korban lain yang melapor ke Polres Malang Kota. Mereka berkumpul di ruang Satreskrim Polres Malang Kota sejak pukul 11.30. Namun, tidak satu pun dari mereka yang mau mengungkapkan laporannya tersebut.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Malang Kota AKP Ambuka Yudha Hardi Putra membenarkan adanya laporan dari calon jamaah korban travel ”nakal”. ”Memang ada yang laporan tentang itu (penipuan umrah, Red),” tegas Ambuka.

Dia menegaskan, saat ini sudah ada lima korban yang melaporkan tentang kegagalan pemberangkatan ke Tanah Suci. Rata-rata setiap orang telah membayarkan uang sebesar Rp 17 juta. Selain warga Malang, juga ada pelapor dari luar Kota/Kabupaten Malang.

”Sementara ini masih kami selidiki lagi,” pungkas perwira polisi dengan tiga balok di pundaknya ini.

Pewarta: NR1
Penyunting: Mahmudan
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Rubianto