topi kejujuran nur asyanto Sinergi Jawa Pos

Nur Asyanto punya cara ekstrem melatih kejujuran siswanya. Setiap ulangan harian, semua murid wajib memakai topi kejujuran berbahan kertas karton. Dengan begitu, mereka kesulitan untuk sekadar bertanya atau mencontek jawaban teman.

Pagi itu, ulangan harian matematika kelas XII di SMAN 1 Nganjuk (Smasa) akan dimulai. Nur Asyanto meminta para siswanya diam dan konsentrasi. Sebab, sebanyak 10 soal esai akan dibacakan. Murid pun mencatat setiap soal yang didikte.

          Setelah itu para siswa langsung mengerjakannya. Nur –sapaan Nur Asyanto- berdiri mengawasi sambil berkeliling. Dengan pengawasan ketat, kesempatan siswa untuk mencontek sangat kecil. Apalagi, saat itu setiap anak wajib memakai topi kejujuran. Karenanya, akan mustahil menoleh ke kanan-kiri.

          Ya, topi berbahan karton itu sengaja dikenakan di kepala. Bentuknya sekilas mirip toa atau corong. Dengan bentuk seperti itu, pandangan mata siswa semakin terbatas. Terutama untuk melihat sisi kanan dan kiri. Satu-satunya cara untuk menoleh adalah dengan membalikkan badan.

“Tapi itu tidak mungkin. Menoleh sedikit saja, saya sudah tahu,” kata Nur kepada ditemui di kediamannya Perumahan Jatirejo Indah B-7, Nganjuk, mengenai fungsi topi kejujuran.

          Topi kejujuran dipakai untuk mencegah kecurangan siswa saat ulangan harian. Dengan cara itu Nur ingin melatih siswanya berbuat jujur ketika ujian. “Saya dulu juga pernah berbuat tidak jujur. Karena itu, jangan sampai turun ke murid-murid saya,” ungkap pria 57 tahun ini sambil tersenyum.

          Untuk melatih kejujuran itu, Nur sudah mencoba beberapa kali. Sekitar dua tahun lalu, dia selalu menggelar ulangan harian matematika di luar kelas. Formasinya, setiap anak duduk lesehan di tepi lapangan basket sekolah. Diurutkan berdasar absen hingga siswa melingkari lapangan.

          Untuk menghindari kecurangan, jarak duduk diatur. Antara satu anak dengan anak lain jaraknya sekitar 15 kotak ubin. Kira-kira sekitar lima meter. Namun, upaya itu rupanya tidak berhasil. Selama ujian berlangsung, masih ada anak yang berusaha mencontek temannya.

          Nur bersikap tegas. Mereka yang ketahuan bertanya atau mencontek langsung dicoret. Awalnya, tidak semua anak mengakui. “Lalu saya bilang biar dihisab di akhirat. Anak-anak langsung berani jujur dan angkat tangan,” kenang bapak dua anak ini seraya tersenyum.

          Percobaan yang gagal itu tidak membuat Nur menyerah. Dia tetap berusaha membiasakan anak didiknya berbuat jujur. Meskipun itu dengan cara yang ekstrem sekalipun. Akhirnya, ide membuat topi kejujuran itu muncul beberapa bulan yang lalu. Dia mengadopsi metode yang sudah diterapkan di negara lain.

          Nur hanya memberlakukan topi kejujuran saat ulangan harian. Sebab, untuk ujian tengah semester (UTS) atau ujian akhir semester (UAS) peraturan dibuat dari sekolah. Sementara ulangan harian merupakan wewenang guru mata pelajaran (mapel).

          Nur mulai menerapkan topi kejujuran saat ulangan harian Oktober dan November lalu.  Ada enam kelas yang menerapkannya. Jumlah itu sesuai dengan kelas yang diajar pria kelahiran Bondowoso ini di kelas XII. “Sudah dipakai dua sampai tiga kali. Tergantung jumlah ulangan hariannya,” urainya.

          Sebelum ujian berlangsung, Nur menugaskan siswanya untuk membuat topi kejujuran. Sebagian besar dikordinir kelas sehingga bentuknya seragam. Agar sesuai standar yang diinginkan, ukuran kertas karton minimal berukuran 50 x 40 sentimeter.

          Untuk warna kertasnya diserahkan ke kelas masing-masing. Ada yang berwarna polos, ada pula yang warna-warni. Bentuknya juga bebas. Asalkan, bisa menutupi pandangan sisi kanan dan kiri. “Minimal sampai dagu panjangnya,” tandasnya.

          Sebelum dipakai saat ujian, Nur akan mengecek satu per satu topi yang dibuat. Jika tidak sesuai standar, dia meminta untuk membuat lagi. Dan, sejauh ini siswa tidak pernah keberatan.

          Begitu diterapkan, dia mengakui, ada perubahan siginifikan dibanding saat ujian di luar kelas. Dari enam kelas, hanya ada satu anak yang diketahui ingin berbuat curang. Ketika mengetahuinya, Nur langsung meminta sang anak duduk mengerjakan lesehan di lantai. “Saya memang tegas soal kejujuran. Ini demi mereka,” ungkap guru yang hobi touring bersepeda ini.

          Setelah melihat hasil ujiannya, memang ada perbedaan. Nilai tertinggi dengan terendah jaraknya semakin jomplang. Padahal, sebelumnya nilai lebih merata. Saat ujian dengan topi kejujuran, ada anak yang mendapat nilai 100. Namun nilai terendahnya 0. Sementara ketika ulangan di luar kelas, nilai terendahnya 30. “Saat pakai topi, sulit untuk mencontek. Tidak masalah nilai rendah, tapi anak-anak jujur. Itu yang ingin saya tanamkan,” bebernya.

          Ke depan, Nur masih akan menerapkan pemakaian topi kejujuran. Karena itu, topi tersebut saat ini disimpan di kelasnya masing-masing. Saat ujian berlangsung, topi bisa dipakai lagi.

Sampai kapan topi itu akan dipakai? Ditanya demikian, Nur tidak bisa menjawab waktunya secara pasti. Dia hanya mengatakan, siswa akan tetap diminta memakai topi kejujuran saat ujian hingga mereka bisa benar-benar jujur saat mengerjakan soal.

          Sementara itu, cara Nur melatih kejujuran siswa, disambut positif oleh anak didiknya. Seperti dikatakan Muhibbudin Asnawi.Siswa kelas XII itu mengaku senang dengan cara Nur melatih kejujuran siswa. “Tidak perlu lagi ujian di luar. Kami juga sulit berbuat curang,” kata pelajar 18 tahun asal  Pace ini.

(rk/baz/die/JPR)