Tolak Revisi MD3, PMII Usung Keranda

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi demo di depan gedung dewan kemarin (8/3). Mereka kembali menyuarakan penolakan revisi UU tentang MD3 (MPR, DPR, DPRD, dan DPD). Selain menggelar orasi, mereka juga melempari gedung dewan dengan pembalut sebagai simbol perlindungan terhadap kebebasan berdemokrasi.

MALANG KOTA – Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menggelar aksi demo di depan gedung dewan kemarin (8/3). Mereka kembali menyuarakan penolakan revisi UU tentang MD3 (MPR, DPR, DPRD, dan DPD). Selain menggelar orasi, mereka juga melempari gedung dewan dengan pembalut sebagai simbol perlindungan terhadap kebebasan berdemokrasi.

Sebelum menggelar demo, para mahasiswa terlebih dulu melakukan aksi long march dari Stadion Gajayana menuju gedung dewan di Jalan Tugu 1A Kota Malang. Aksi teatrikal hingga pembacaan puisi menolak hak imunitas dewan menjadi bagian dari aksi demo tersebut.

Sempat terjadi ketegangan antara mahasiswa dengan sejumlah petugas kepolisian yang menjaga aksi demo. Aksi dorong mulai terjadi saat mahasiswa berusaha meringsek masuk sambil membawa keranda jenazah. Para petugas tak mengizinkan keranda masuk ke gedung dewan dan berusaha menghalaunya agar tak sampai masuk pagar gedung dewan. Sempat terjadi gesekan antara mahasiswa dan polisi. Namun, mahasiswa memilih mundur karena desakan 108 personel korps baju cokelat itu.

Juru bicara aksi, Alfian Nafi dari PMII Kom UB, menyatakan, aksi tersebut menyuarakan penuh penolakan revisi UU MD3 Pasal 73, 122 huruf K, dan Pasal 245 yang dianggap mencederai demokrasi. ”Pasal direvisi bikin bungkam demokrasi. DPR menunjukkan sikap antikritik,” teriaknya. Pihaknya juga meminta Presiden RI Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-Undang (Perppu) sebagai pengganti UU MD3.

Dia menyatakan jika pihaknya sudah melakukan uji materi pasal-pasal yang dimaksudkan Mahkamah Konstitusi (MK) itu. ”Kami sudah lakukan judicial review melalui LBH PB PMII,” terangnya. Tak lama setelah berorasi, perwakilan aksi kemudian diterima anggota dewan menyampaikan tuntutannya langsung di dalam ruangan.



Para mahasiswa juga sempat melemparkan puluhan pembalut di depan gedung dewan. Pembalut tersebut disimbolkan sebagai perlindungan terhadap kebebasan berdemokrasi. Sambil tertawa, para mahasiswa saling melemparkan pembalut itu sebelum akhirnya membubarkan diri. 

Pewarta : Fajrus Shiddiq
Penyunting : Ahmad Yani
Copy Editor : Dwi Lindawati