Tim SMK Miftahul Huda Kepanjen, Ciptakan Alat Berat dari Barang Bekas

Dikerjakan selama Tiga Bulan, Empat Siswa Dilibatkan

Kepala proyek alat berat SMK Miftahul Huda Ismanto (kiri) bersama kedua siswanya.

Apa yang dilakukan SMK Miftahul Huda Kepanjen patut dijadikan contoh sekolah lain. Baru-baru ini, mereka berhasil membuat alat berat skid loader. Diklaim mampu menahan berat 2 ton, alat tersebut bakal ditampilkan dalam peringatan Hardiknas di Surabaya, Mei 2018.

Siswa SMK Miftahul Huda Kepanjen memiliki bengkel khusus untuk mengasah kreativitas. Ruangan dengan ukuran sekitar 4×6 meter itu ada di bagian belakang sekolah. Di sanalah peralatan lengkap tersaji. Saat didatangi koran ini beberapa waktu lalu, terlihat ada traktor mini yang dilengkapi dengan sekop.

Itulah alat terbaru hasil karya tim SMK Miftahul Huda. Namanya cukup panjang, Skid Steer Loader M018. Jenis alat berat itu di-plot sebagai variasi alat lain seperti backhoe, tracktor, dan buldoser.

”Kami pernah membuat backhoe pada 2017. Untuk tahun ini memang buat loader. Cari yang jarang digunakan di Indonesia,” terang kepala proyek Ismanto.

Guru teknik permesinan itu mengaku mendapatkan ide pembuatan alat dari YouTube. Di waktu yang hampir bersamaan, dia mendapat tantangan dari kepala sekolah untuk menghasilkan alat sendiri. Tantangan itu disampaikan karena pihak sekolah berniat membuka jurusan alat berat.



”Sebagai guru, saya siap saja dengan tantangan itu, kan sudah pernah buat backhoe,” sambung Ismanto.

Untuk membuat kendaraan skid loader, dia dibantu empat siswanya. Mereka adalah Robid Abdillah, M. Tauhid, Fahmi Maulana, dan Hendra Agung.

”Saya ajak siswa dari jurusan mesin dan otomotif untuk membantu. Mereka sekalian belajar karena sedang praktik kerja industri (prakerin),” ungkap bapak 2 anak tersebut.

Dikerjakan sejak akhir tahun lalu, Ismanto dkk butuh waktu tiga bulan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Yang menarik, semua komponen yang dia gunakan berasal dari bahan bekas. Mulai dari mesin, sistem hidrolis, ban, dan komponen elektrik.

”Ya, 75 persen itu bahan bekas, yang baru hanya besi, pelat, dan kabel-kabelnya. Jadi, yang lama itu membentuk rangka sekaligus menempatkan komponen,” jelasnya.

Untuk mesin, Ismanto menggunakan bekas mesin mobil Taft. ”Mesinnya itu sudah siap pakai, cuma perlu diperbaiki sedikit. Sama diganti semua untuk oli hidrolisnya,” ungkapnya.

Robid Abdillah, salah satu siswa yang ikut mengerjakan proyek tersebut mengaku sempat kerepotan. Itu terjadi karena dia juga belum banyak belajar tentang alat berat.

”Pengalaman menarik karena semua dibuat sendiri untuk rangkanya. Itu menarik, gak kalah dengan buatan dari pabrik,” kata dia.

Menurut dia, salah satu proses yang paling sulit yakni menyesuaikan gerak lengan. Sebab, loader biasa menggunakan lengan dengan gerak depan. Sedangkan yang dibuat timnya menggunakan penggerak di bagian belakang.

”Apalagi lengannya juga buat sendiri, jadi hitung-hitungannya tidak boleh salah,” sambung siswa kelas XI tersebut.

Siswa lain, yakni Fahmi Maulana, mengaku jika beberapa kali pengerjaan juga mengalami kegagalan. ”Gagal itu memang beberapa kali, karena kan ini proyek pertama. Jadi harus terus diperbaiki,” tambahnya.

Meski masih butuh proses penyempurnaan, terobosan dari SMK Miftahul Huda Kepanjen itu sudah didengar Pemprov Jatim. Secara khusus, mereka diundang dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2 Mei mendatang di gedung Grahadi Surabaya.

”Kami dapat undangan dari wakil gubernur (wagub) untuk pameran saat Hardiknas. Jadi, sekarang terus diperbaiki agar lebih baik lagi,” tutup Fahmi.

Pewarta: Hafis Iqbal
Penyunting: Bayu Mulya
Copy editor: Dwi Lindawati
Foto: Hafis Iqbal