Tim Mahasiswi UM Raih Juara I Lomba Video Internasional

Berbekal Kamera Pinjaman, Diapresiasi Menlu Jerman

Dari kiri, Rachma Meidinar, Ken Laksmi Muninggar, Hana Anggita, dan Cloudia Putri Sekarsari foto bareng dengan latar belakang Brandenburg Gate di Jerman.

Empat mahasiswa UM ini sejatinya tidak punya latar belakang sebagai filmmaker. Tapi, mereka sukses membuat film pendek yang menang dalam sebuah kompetisi di tingkat internasional.

”Ada sebuah peribahasa yang mengatakan, kalau hidup memberimu sebuah lemon, buat saja jus lemon!”

Penggalan kalimat itu menjadi pembuka narasi film pendek berjudul Wie Deutsch Mein Leben Verandert Hat. Seluruh narasi dalam film itu menggunakan bahasa Jerman. Namun, keberadaan subtitle bahasa Indonesia memudahkan mereka yang belum bisa berbahasa Jerman.

Video itu menampilkan karakter seorang perempuan muda yang punya minat tinggi terhadap bahasa Jerman. Dia menyebut banyak manfaat yang dirasakan setelah mempelajari bahasa Jerman.

Dimulai dari cerita soal lemon. Perempuan itu menyebut, bahasa Jerman membuat dia bisa bikin pai lemon yang lezat. Sebab, dia tak kesulitan untuk belajar dari buku-buku resep berbahasa Jerman.



Kemudian, dia juga mendapatkan pekerjaan berkat bahasa Jerman. Sebab, pewawancara kerja ternyata memiliki minat yang sama terhadap bahasa Jerman. Bagi dia, bahasa Jerman telah mampu mengubah hidupnya.

Ya, mengajak orang untuk tertarik dengan bahasa Jerman memang menjadi misi film pendek Wie Deutsch Mein Leben Verandert Hat. Sederhana, tapi mengena.

Berkat film pendek itu, empat mahasiswi UM, yakni Rachma Meidinar Latupono (jurusan sastra Indonesia), Ken Laksmi Muninggar, Hana Anggita, Cloudia Putri Sekarsari (ketiganya dari jurusan sastra Jerman) mendapatkan kesempatan untuk pergi ke Jerman.

Tak hanya untuk jalan-jalan, tapi menerima penghargaan bergengsi dari sebuah ajang yang digelar Sculen: Partner der Zukunft (PASCH) atau sekolah mitra federal Jerman.

Keempat mahasiswi UM itu meraih juara I lomba film pendek. Bahkan, piala serta piagam penghargaan mereka terima langsung dari Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas di West Haven Event & Convention Center (WECC) Berlin, 6 Juni lalu.

Maas bahkan sempat menyebut nama Cloudia dalam sambutannya. Sebab, tak hanya menjadi anggota tim pembuat video. Cloudia juga menjadi karakter utama dari film pendek Wie Deutsch Mein Leben Verandert Hat.

Cloudia menyatakan, tahap pembuatan film pendek itu dimulai pada Januari tahun ini. Yakni, setelah Cloudia dan tiga rekannya itu mendapatkan informasi dari website Goethe-Institut Indonesia. Yakni, sebuah lembaga bahasa Jerman yang bekerja sama dengan 32 SMA di tanah air.

Website itu memuat info soal kompetisi film pendek yang digelar PASCH. Cloudia dkk pun tertarik ikut serta.

Kebetulan, empat mahasiswi UM itu sama-sama tercatat sebagai alumnus PASCH saat masih SMA. Selain itu, mereka juga sama-sama memiliki waktu luang karena sudah memasuki semester akhir di bangku kuliah.

Tapi, tetap saja, mereka harus pintar-pintar membagi waktu. ”Jadi, kami semacam dikejar deadline. Sampai-sampai, kami sering menunda untuk bimbingan skripsi,” ujar Cloudia.

Berbekal kamera video pinjaman dari seorang rekan, mereka pun mulai menggarap film pendek.

”Karena bukan milik kami. Jadi, kami gak berani utak-atik. Kami pakai mode otomatis saja,” ujar Hana Anggita, perempuan yang tercatat sebagai mahasiswi fakultas sastra Jerman.

Hana menjelaskan, konsep film pendek dibuat pada bulan Januari. Lalu, pada bulan Februari, proses pengambilan gambar dilakukan. Sementara proses editing-nya dilakukan di bulan Maret.

Video itu pun akhirnya ter-upload pada 24 Maret. Sedangkan deadline untuk lomba itu adalah 31 Maret. ”Pokoknya serbaminim alat dan ndadak,” ujar dara penghobi bulu tangkis ini.

Kerja keras mereka seolah terbayar ketika akhirnya berhasil menang dan diundang untuk mengikuti prosesi pemberian penghargaan di Jerman. Pada ajang itu, mereka mampu unggul atas kontestan dari Brasil (juara II) serta Rusia dan India (juara III).

”Haduh, sangat terharu. Rasanya pengen nangis darah. Bayangkan saja, kontestannya dari berbagai negara. Bagaimana tidak bahagia!” sahut Cloudia.

Setelah berada di Jerman, mereka merasa sangat bahagia. Di samping karena diapresiasi betul oleh pihak Jerman, mereka bisa langsung belajar budaya dan penggunaan bahasa Jerman.

”Kalau di perkuliahan kan cuma terori saja. Tapi, sekarang seakan mimpi yang menjadi kenyataan. Bisa terbang langsung ke Jerman,” ucap Cloudia.

Selama hampir dua pekan berada di Jerman (2–14 Juni), mereka menyempatkan diri mengunjungi tempat-tempat ikonik di Jerman. Mulai dari Deutsches Historisches Museum, tembok Berlin, Brandenburg Gate, dan lain sebagainya.

”Kami juga sempatkan ke tempat yang dikunjungi artis Syahrini (Holocaust Memorial, Red),” ujar Cloudia, lalu tertawa.

Bagi Cloudia dkk yang punya minat terhadap bahasa Jerman, mengunjungi negara berbendera hitam-merah-kuning itu ibarat mimpi yang jadi kenyataan. Seperti judul film pendek yang mereka buat Wie Deutsch Mein Leben Verandert Hat. Yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya seperti ini: Bagaimana Jerman telah mengubah hidup saya.

Pewarta: Moh Badar
Penyunting: Indra Mufarendra
Copy Editor: Dwi Lindawati
Foto: Dokumentasi Tim