Tim Cured FK UB Raih Emas di Ajang Malaysia Technology Expo

Uji Coba ke Penderita Diabetes, Bikin Penasaran Ilmuwan Malaysia-Tiongkok

Obat luka bagi penderita diabetes memang sudah banyak. Tapi, para mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) ini membuat obat serupa dengan mengandalkan temulawak. Harganya yang murah serta kecepatannya dalam menyembuhkan luka menjadi poin lebih. Seperti apa inovasinya sehingga bisa meraih medali emas di Malaysia?

Perempuan berwajah lesu itu mencoba menembus keramaian di gedung Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Brawijaya (UB). Kamis lalu (17/5), dia seharian berada di ruang kuliah. Wajahnya kian tampak lesu karena ketika itu hari pertama puasa.

Wajah boleh lesu. Tapi semangatnya kalau berbicara tentang Cured (curcuma xanthorrhiza extract with nanoparticle ointment) tidak pernah kendor. Cured adalah obat berupa salep yang berfungsi untuk menyembuhkan luka bagi penderita diabetes.

Obat itu merupakan karya perempuan ini. Namanya Amareza Putriani, mahasiswi semester enam Program Studi (Prodi) Farmasi FK UB. Dia bersama tiga temannya, yakni Fatika Mauludiyah, Mohamad Fahmi, dan Ria Sherliana, berhasil meraih emas di Malaysia Technologi Expo Februari lalu.


”Kelompok kami memang masih satu fakultas, tetapi berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Fatika dan Fahmi dari prodi dokter, Ria perawat, dan saya farmasi,” ucap perempuan asli Kediri ini.

Obat salep yang mereka ciptakan itu berawal dari luka pada penderita penyakit diabetes. Sampai saat ini, masih sulit menyembuhkan luka penyakit diabetes. Juga, bisa menimbulkan infeksi jika tidak segera ditangani. Karena inilah muncul ide menciptakan Cured.

”Sebenarnya di pasaran sudah ada obat semacam itu, tetapi harganya masih mahal,” ucap mahasiswi angkatan 2015 tersebut.

Di pasaran, harga obat untuk luka diabetes mencapai Rp 120 ribu per 30 gram. Sementara Cured dibanderol Rp 75 ribu untuk 20 gram. Selain itu, yang membedakan produk ini dengan produk di pasaran adalah bahan dan partikel yang digunakan.

”Kami menggunakan bahan alami dari temulawak yang diambil ekstraknya kemudian dicampur dengan basis salep (bahan salep),” terang Arma, sapaan akrabnya.

Basis salep yang digunakan terbuat dari PEG (polyetilen gircol) 4.000 dan PEG 400. Serta, ditambahi bahan pengawet dari natrioum benzoat. ”Bahan-bahan dari herbal memang harus diberi pengawet agar tidak menimbulkan bau tengik,” ujar Arma.

Dari awal dia bersama timnya sudah mempertimbangkan menggunakan bahan dari temulawak. Sebab, temulawak mengandung curcuma yang bisa mengeringkan luka bakar. Selain temulawak, sebenarnya kunyit juga memiliki kandungan curcuma. Tapi, jumlah kandungannya lebih sedikit.

”Kandungan curcuma dalam temulawak yang bisa membuat luka menjadi kering,” papar dia.

Sementara itu, dia mengatakan, produk obat salep yang ada di pasaran partikelnya masih besar (nano) dan bahan-bahannya masih menggunakan bahan kimia. Itu membuat proses penyembuhan tidak terlalu cepat. Salep cenderung lambat menyerap ke dalam kulit. Menurutnya, salep lebih cepat menyerap yang partikelnya berukuran kecil.

”Ekstrak temulawak dikecilkan partikelnya. Itu yang membuat (obat ini) berbeda dengan yang lain,” papar alumnus SMAN 1 Kediri.

Selain itu, proses kerja salep yang dibuatnya sangat efektif untuk menyembuhkan luka bagi penderita diabetes. Nano partikel yang ada di dalam salep sengat cepat meresap ke dalam kulit.

”Proses kerja salep namanya fitosom (sistem penghantaran obat),” terangnya.

Tak hanya itu, percobaan juga sudah pernah dilakukan terhadap manusia. Kebetulan dosen pembimbingnya memiliki pasien penderita diabetes di tempat praktiknya.

”Sudah pernah dilakukan ke luka penderita diabetes. Hanya digunakan dalam waktu empat hari luka sudah mengecil. Kalau rutin selama satu minggu, insya Allah sudah sembuh,” Arma yakin.

Nah, perbedaan partikel itulah yang menjadi pembeda dengan produk berupa salep lainnya. Bahkan, dewan juri di Malaysia Technology Expo pun terinspirasi untuk mengembangkannya lantaran tumbuhan temulawak juga ada di Malaysia dan Tiongkok.

”Dari dewan juri merasa mendapat ide untuk mengembangkan juga. Karena tanaman temulawak juga ditemui di daerahnya (Malaysia dan Tiongkok),” imbuhnya.

Meski demikian, ada lika-liku dalam proses pembuatan obat ini. Salah satunya adalah perbedaan jurusan antaranggota tim. Itu membuat mereka sulit mengatur waktu. Tapi, tim ini cukup cepat juga membuat Cured karena semuanya baru dimulai pada awal 2018.

”Persiapannya sangat mepet. Namun yang ini hanya pengembangan inovasi dari lomba sebelumnya,” papar Arma.

Disebut pengembangan karena awalnya produk ciptaannya sudah pernah lolos dalam PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) 2017. Ketika itu, mereka dapat anggaran dari Kemenristekdikti. Namun, karena kesibukan perkuliahan, mereka tidak sempat mengembangkannya. Akhirnya, produk ini diikutkan dalam lomba yang berbeda.

Pewarta: Ali Afifi
Penyunting: Irham Thoriq
Copy Editor: Arief Rohman
Foto: Amareza Putriani