Tim Advokasi UB Sarankan Penghapusan Jalur Mandiri Untuk Minimalisir Calo

KOTA MALANG – Isu calo-calo di kampus ternama seperti Universitas Brawijaya (UB) tiap tahun memang selalu bertebaran. Seperti MA, 23, mahasiswa perguruan tinggi Surabaya yang ditangkap satpam UB di Gerbang Mayjen Panjaitan UB karena kedapatan menyebar amplop berisi brosur jalur belakang UB.

Para calo yang menebar informasi jalur belakang kebanyakan beraksi saat masa seleksi mandiri kampus atau usai pelaksanaan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Berdasarkan pengamatan itulah Ketua Tim Advokasi Hukum UB Prija Djatmika mengusulkan agar jalur masuk kuliah mandiri ditiadakan.

“Ya kalau bisa masuk kuliah tuh SBMPTN sama SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) aja. Kuota masing-masing 50 persen udah selesai nggak ada perkara kayak gini,” tegas Prija.

Sebab seleksi mandiri dilakukan oleh kewenangan kampus bukan pihak nasional. Alhasil ketika ada iming-iming masuk UB jalur belakang dengan orang dalam, banyak calon mahasiswa yang tergoda.

Padahal menurutnya selama ini sistem seleksi dan pengumuman mandiri sudah terstruktur dengan baik. Ada proses rapat antara dekan dan dosen ketika merencanakan kuota dan grade nilai. Ia mencontohkan di jurusan hukum ada kuota 600 mahasiswa, jalur mandiri 30 persen berarti sebanyak 180 saja yang akan diterima. Penentuan grade nilai pun sudah dibuat.

Meneruskan hal ini pula sebenarnya Menristekdikti dikatakannya telah menganjurkan untuk melaksanakan jalur mandiri dengan tolok ukur skor UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) yang dilakukan saat SBMPTN.

“Tapi kemarin kan Pak Kotok selaku kasubag humas saat rapat dengan forum rektor minta universitas menyelenggarakan ujian mandiri dengan kewenangan masing-masing. Ya ini akhirnya, harusnya ada 2 jalur ajalah. Atau kalau nggak ya bener pakai UTBK saja,” tambah dia.

Perlu diketahui, MA, 23, terduga pelaku penipuan menyebar amplop yang berisi brosur bersama 7 orang lain. Sementara 2 orang lain yakni sepasang suami istri disinyalir sebagai otak calo dan berdomisili di Surabaya. Saat ditangkap rekan MA sudah kabur dan hanya tersisa MA.

Pemuda asal Lamongan itu menyebar 4.000 brosur bersama rekannya dengan tulisan “Ada jalur belakang Selma UB 2019 sebelum pengumuman, mau? Dijamin LOLOS!! Pembayaran setelah pengumuman 081292071010”. Usai ditangkap ia digiring ke Lantai 7 Rektorat UB untuk diintrogasi dan diserahkan ke Polres Malang Kota.

Namun kemarin (16/7) MA dilepaskan dan hanya dikenai wajib lapor karena tidak terbukti melakukan tindak percobaan penipuan. Meskipun begitu, pihak UB berharap jaringan ini segera terkuak. Agar bisnis yang dikatakan MA bekerjasama dengan orang dalam UB ini bisa diketahui bisa diketahui oknumnya terutama yang berasal dari kampus.

“Kami berharap kasus ini bisa diungkap, apalagi katanya mereka ada kerjasama dengan orang dalam UB. Kami ingin tahu dan segera menindaklanjuti siapa orang dalam itu. Pak rektor ingin ini tuntas,” tukas Prija.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Rida Ayu