Tiga Hari Tenggelam, Jasad Erik Mengapung

KEPANJEN – Upaya pencarian Arif Dandi Darmawan alias Erik, 19, korban tenggelam di aliran Sungai Brantas menuju Bendungan Karangkates, akhirnya membuahkan hasil. Kemarin pagi (1/7), jasad pemuda asal Dusun Rekesan, Desa Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, itu ditemukan warga yang akan mencari ikan. Tubuh korban dalam kondisi mengapung tak jauh dari tempat tenggelam pada Rabu lalu (28/6).

Kapolsek Kalipare AKP Fatkhur Rahman menyatakan, setelah jasad korban ditemukan langsung dibawa ke rumah duka.

”Keluarga sudah menerima ini sebagai musibah sehingga tidak dilakukan visum,” ungkapnya. Dia melanjutkan, kejadian ini murni karena kecelakaan. Apalagi saat korban tenggelam, ada saksi yang melihat kejadian tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, Erik tenggelam usai memberi makan ikan di keramba apung yang ada di dekat rumahnya pada Rabu (28/6). Usai memberi makan ikan, diduga korban berniat menuju Sumber Kombang yang tak jauh dari lokasi keramba apung dengan menggunakan perahu kecil. Namun, nahas saat sudah berada di tengah aliran sungai, mendadak perahu yang dia naiki terbalik.

Tenggelamnya Erik sempat diketahui nelayan yang ada di tepi sungai. Meski sempat berusaha ditolong, korban sudah tenggelam dan tidak diketahui keberadaannya. Warga setempat, tim search and rescue (SAR) gabungan, badan penggulangan bencana daerah (BPBD), dan PMI Kabupaten Malang sempat melakukan pencarian. Tapi, derasnya arus air sungai menjadi kendala tersendiri.



Sarianto, anggota Tim SAR dari BPBD Kabupaten Malang, menyatakan, arus air cukup deras sehingga menyulitkan proses pencarian.

”Sebelumnya sudah dicoba masuk (menyelam) 5 meter, tapi gelap dan arusnya deras. Karena membahayakan penyelam, jadi tidak bisa berlangsung lama pencariannya,” ungkap dia. Pencarian pun lebih banyak melakukan penyisiran. ”Baru tadi pagi (kemarin) pukul 06.00 (jenazah korban, Red) ditemukan warga,” ungkapnya.

Sarianto menambahkan, sulitnya pencarian membuat warga setempat melakukan ritual selamatan dan membaca doa-doa agar jasad korban bisa ditemukan. ”Biasanya jasad tenggelam kalau sudah tiga hari mengapung,” katanya. Karena itu, ritual pembacaan doa-doa dilakukan warga sejak Sabtu dini hari.

Pewarta: Aris Dwi
Penyunting: Achmad Yani
Copy Editor: Dwi Lindawati