Tiga Hari, 24 Ekor Domba Mati Misterius

Selama tiga hari berturut-turut, 13–15 September, warga Malang Raya diresahkan dengan pembunuhan domba secara misterius. Kepolisian maupun perangkat kelurahan/desa sampai kini belum mengetahui penyebab pastinya.

MALANG KOTA – Selama tiga hari berturut-turut, 13–15 September, warga Malang Raya diresahkan dengan pembunuhan domba secara misterius. Kepolisian maupun perangkat kelurahan/desa sampai kini belum mengetahui penyebab pastinya. Namun, jika dilihat dari bekas luka, cara membunuhnya menyerupai ”vampir”. Yakni, menggigit leher, lalu menghisap darah domba.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, hingga kini ada 43 ekor domba yang menjadi korban si pembunuh misterius itu. Sebanyak 24 ekor domba tewas, sedangkan sisanya mengalami luka serius di bagian leher.

Terdapat empat lokasi terbunuhnya domba-domba secara misterius. Pada 13 September, sebanyak 28 ekor domba milik Muhammad Efendi, 46, warga Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, menjadi korban gigitan. Aksi yang dilakukan sekitar pukul 05.30 itu mengakibatkan ada 17 ekor domba yang mati.

Kemudian pada 14 September, ada dua lokasi di Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso, yang diserang. Pada pukul 03.00, si pembunuh menyerang sembilan ekor domba milik Mujiyat, 75. Akibatnya, empat ekor domba miliknya mati, lima ekor luka-luka. Dua jam kemudian, yakni pukul 05.00, enam ekor domba milik Mat Ali, 80 juga diserang. Ada enam ekor domba yang mati, sedangkan tiga domba luka-luka.

Kemarin (15/9), tiga ekor domba milik Sunari, 57, warga Jalan Akordion Utara, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, juga mati. Lukanya sama, yakni terdapat luka bebas gigitan di bagian leher.



Sunari menceritakan, sebelumnya dia sudah mengetahui ada puluhan domba mati di Desa Tegalgondo, Karangploso. Karena itu, dia bersama warga sekitar sudah waspada. Misalnya, patrol untuk menjaga kambing-kambing di kampungnya. ”Hingga pukul 02.00 dini hari, saya masih cek kandang. Kambing masih lengkap,” kata Sunari.

Merasa aman, Sunari kembali ke posko penjagaan di Jalan Arumba. Saat pulang sekitar pukul 05.30, dia kaget karena mendapati lima domba miliknya tergeletak. Tiga ekor di antaranya sudah mati, sedangkan 2 ekor lainnya luka serius. Berdasarkan pantauan wartawan koran ini, terdapat dua luka seperti bekas gigitan di leher.

Kabid Peternakan Drh Anton memaparkan, domba tergolong binatang pendiam. Meski tersakiti, tetap tidak banyak bersuara sehingga pemiliknya kerap kali tidak mengetahuinya. ”Karena meskipun berteriak, suaranya domba kan pelan,” ungkapnya.

Anton menambahkan, domba yang terkena gigitan, tapi tidak mati juga tetap berisiko. Yakni, rentan stres dan mengalami gangguan daya tahan tubuh. Karena itu, pihaknya terus mengobati domba yang terserang pembunuh misterius tersebut.

Dia menyatakan, sebelumnya peristiwa tersebut terjadi di Probolinggo. Anton tidak mengetahui penyebab terbunuhnya domba-domba tersebut. Pihaknya masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Hewan Provinsi Jatim terkait upaya menelusuri penyebab kematian domba. ”Kabid kesehatan hewan Provinsi Jatim akan datang ke Malang untuk meninjau,” katanya.

Camat Lowokwaru Imam Badri membenarkan bahwa warganya waswas akibat terbunuhnya domba secara misterius. Untuk itu, pengawasan dan patrol malam akan disiagakan, khusus menjaga domba di kandang. ”Intinya, kami sudah koordinasi dengan warga untuk meningkatkan penjagaan khusus,” kata Imam.

Pewarta: Fajrus Shiddiq & Ashaq Lupito
Penyunting: Mahmudan
Copy Editor: Indah Setyowati