Tiga Atlet Wushu Bersaudara Wakili Indonesia di Kejuaraan Dunia

Siapa sangka kalau masa kecil Ahmad Ghifari Fuaiz, Ahmad Ghozali Fuaiz, dan Aqila Ghaida Fuaizah yang hiperaktif dan kerap membuat rumah berantakan justru jadi latar belakang mereka mengukir prestasi. Pada Juni mendatang, ketiganya akan mewakili Indonesia dalam kejuaraan wushu internasional di Brasil.

PELUH masih membasahi tubuh mereka. Dengan napas tersengal-sengal, tiga bersaudara yang semuanya atlet wushu itu (Ahmad Ghifari Fuaiz, Ahmad Ghozali Fuaiz, Aqila Ghaida Fuaizah) menceritakan perjuangannya hingga dipercaya mewakili Indonesia dalam kejuaraan wushu internasional di Brasil pada Juni mendatang.

Sebelum mendapatkan tiket kompetisi di tingkat dunia, Ghifari, Ghozali, dan Aqila melewati proses panjang. Mereka bertiga harus mengantarkan kontingen Jawa Timur (Jatim) menjuarai Piala Presiden dan Piala Raja yang digelar di GOR Among Rogo, Jogjakarta, pada 29 Maret hingga 2 April lalu. Dari total 41 medali yang diraih kontingen Jatim, 7 di antaranya disumbang oleh ketiga bersaudara itu. Ghifari meraih 3 emas, Ghozali menyabet 1 emas dan 1 perak, sedangkan Aqila mendapatkan 2 emas.

”Selain latihan di sanggar wushu, setiap hari kami juga berlatih di rumah,” ujar Ghifari ketika ditemui usai berlatih di Gedung Wushu, Jalan Raya Candi, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Minggu lalu (15/4).

Ayah mereka, Ahmat Faizin, yang mendampingi ketiganya berlatih menceritakan, putra-putrinya mulai berlatih wushu sejak 2008. Kala itu, ketiganya masih bocah. Di rumah, mereka tergolong hiperaktif, hingga kerap membuat isi rumah berantakan.



Mulanya Ahmat pusing dan jengkel dengan tingkah anak-anaknya. Dia kemudian berpikir mencarikan aktivitas agar energi anaknya yang berlebihan itu tersalurkan. Akhirnya, ketiga anaknya dibawa ke sanggar wushu. ”Tujuannya agar bisa menyalurkan energi ke hal-hal yang positif,” kata ayah empat anak tersebut.

Karena usia Aqila masih terlalu kecil, Ahmat hanya membawa si sulung Ghifari dan adiknya, Ghozali. ”Mereka berdua kami ikutkan latihan wushu di gedung KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia),” tambah Ahmat.

Kala itu, Ghifari kecil masih kelas 2 SD, sedangkan Ghozali duduk di bangku TK B. Dua tahun berlatih, kedunya mulai ikut turnamen. ”Kejuaraan wushu yang diikuti kali pertama di Jakarta,” kata Ahmat.

Meski saat turnamen selesai dua anaknya berada di posisi buncit, Ahmat tetap memotivasi anaknya. Dia selalu menanamkan ke dalam pikiran anak-anaknya bahwa kalah merupakan hal biasa. ”Saya biarkan mereka ikut-ikut kompetisi lagi. Kami tetap support,” ujar dia.
Setelah itu, berangsur-angur kedua putranya mengikuti kejuaraan. Termasuk mengikuti kejuaraan Piala Wali Kota Surabaya pada 2011. Itu adalah titik awal moncernya prestasi Ghifari dan Ghozali di kejuaraan wushu. Aqila pun kepincut ingin menekuni wushu. ”Waktu itu Aqila menyaksikan kedua kakaknya dikalungi medali,” terangnya.

Sejak saat itu Aqila ikut berlatih wushu. Selang beberapa tahun kemudian, ketiga bersaudara itu turun bertiga untuk kali pertama di lapangan. Tepatnya, pada tahun 2013 dalam kejuaraan Piala Raja Hamengkubuwono IX di Jogjakarta.

Si sulung Ghifari menuturkan, saat kali pertama turun bersama kedua saudaranya, dia tidak membawa pulang medali. Tapi dari situ dia termotivasi dan ingin berlatih lebih keras lagi. ”Akhirnya kami termotivasi untuk meningkatkan speed, power, dan juga kuda-kuda,” terang siswa SMA Homeschooling Primagama itu.

Menu latihannya harus ditambah untuk menguatkan dasar-dasar itu. Pada saat itu, dia berlatih sebanyak dua kali dalam seminggu di sanggar wushu. Sementara di rumahnya, setiap hari ada menu latihan tambahan. ”Ada menu latihan setiap hari untuk tugas di rumah,” ujar pemuda kelahiran Malang, 29 Desember 2000, itu.

Untuk menggenjot kemampuannya, ada instruktur khusus yang didatangkan dari Surabaya. Akhirnya, saat mengikuti Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2015 lalu, mereka memboyong medali. Ghifari dan Ghozali meraih medali perak pada kategori Duillian (berpasangan), sedangkan Aqila meraih medali perunggu.

Lantas, apa yang membuat ketiganya tertarik menekuni wushu? Bagi Ghifari, gerakan-gerakan dalam wushu amat menarik. ”Gerakan seperti melompat tinggi, berputar, dan menendang, menurut saya itu keren,” ujarnya. (*/c1/dan)