Tidak Hanya Modeling, tapi Agamaku Makin Kuat

Peristiwa 26 Februari 2017 lalu masih melekat kuat di ingatan Hepy Mandiana Sari. Saat itu dia terpilih menjadi pemenang Duta Hijab Radar Malang (DHRM) 2017.

Tengah berada di kota kelahirannya Gresik ketika hendak diwawancarai oleh koran ini, tidak menyurutkan antusias Hepy Mandiana Sari dalam berbagi kisah suksesnya saat ini melalui saluran telepon. Perempuan kelahiran Gresik yang akrab disapa Hepy tersebut teringat dengan momen ketika namanya dipanggil master of ceremony (MC) ketika malam penganugerahan Duta Hijab Radar Malang (DHRM) di Mal Olympic Garden (MOG) 2017 lalu.

Hepy yang sebelumnya tidak pernah berpikiran akan menang, bahkan untuk masuk ke dalam 10 besar saja sudah menjadi kebanggaan tersendiri baginya. ”Saya sih nothing to lose saja waktu itu,” ungkapnya. Itu bukan tanpa sebab, DHRM adalah kontes pageant pertama yang dia ikuti di luar kota asalnya. Bahkan, jika ditarik ke belakang, perlu tekad yang kuat baginya untuk memutuskan mengikuti ajang ini. Menurut dia, bersaing dengan peserta asal Malang lainnya menjadi satu tantangan tersendiri baginya.

Sayang, kedua orang tua sedang tidak mendampinginya pada salah satu hari bersejarahnya itu, meski tanpa kehadiran orang-orang terdekat, Hepy tetap menunjukkan performa terbaik hingga akhirnya keluar sebagai pemenang DHRM 2017.

Kini setelah dua tahun berlalu, perempuan berusia 22 tahun itu semakin disibukkan dengan berbagai kegiatan. Dia melanjutkan kuliah master-nya di Universitas Negeri Malang (UM) dengan jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Dia juga tergabung sebagai crew di suatu wedding organizer (WO) bersama teman-teman yang lain. ”Saya juga masih aktif menjadi freelance MC dan freelance model,” imbuh dia.

Berbagai kegiatan itu sukses dia lakoni secara bersamaan. Itu tak terlepas dari pengalaman serta berbagai pembelajaran yang dia dapat selama tergabung di DHRM 2017. ”DHRM itu sangat berbeda dengan pageant yang lain, di sini kami tidak hanya mementingkan fisik, tapi juga karakter yang kuat,” tutur perempuan berhijab itu. Sebelumnya, dia juga sempat menjadi juara III Duta Wisata Yuk Gresik 2016.

Kegiatannya dalam WO menuntutnya untuk selalu bertemu dengan orang baru setiap harinya, pengalamannya selama di DHRM 2017 sangat berpengaruh untuk hal tersebut. Dia menjadi seseorang yang makin bisa menempatkan diri dan memiliki semakin banyak relasi. ”Relasi saya sangat berkembang setelah bergabung dengan DHRM,” pungkasnya.

Salah satu hal yang menurutnya mustahil pun tercapai dalam ajang ini. Yaitu, berkesempatan bertemu dengan Puteri Indonesia 2017, Bunga Jelita. Yakni, ketika Bunga–sapaan akrab dari Bunga Jelita– hadir dalam gelaran Malang Fashion Movement (MFM).

”Itu adalah momen yang tidak akan saya lupakan, saya bisa sharing dan belajar banyak dengan seorang Puteri Indonesia,” imbuhnya. Dia juga kerap diundang sebagai pemateri dalam acara talk show maupun seminar, hal itu dijadikannya sebagai wadah berbagi inspirasi serta pengalaman kepada perempuan lain.

Selain relasi yang semakin kuat, hal yang terus diterapkan hingga saat ini adalah ilmu keagamaan yang dia dapatkan di DHRM. Dia menjadi seseorang yang lebih baik lagi, utamanya dalam hal agama, akunya. Itu karena DHRM tidak hanya terfokus kepada hal modeling dan kecantikan saja, tapi juga kegiatan lain seperti menggelar pengajian serta bakti sosial.

Hepy yang dulunya masih senang memakai pakaian ketat, seusai menjadi bagian dari DHRM, dia mulai mengubah dirinya ke arah yang lebih baik lagi, termasuk dalam hal berbusana. Dia juga terus berusaha menginspirasi bahwa muslimah tetap bisa berprestasi dengan tetap berhijab.

Perempuan yang pernah menjadi ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) ketika di bangku SMP dan SMA itu juga banyak mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana peran menjadi muslimah dari penggagas DHRM, Belinda Ameliyah. Bahkan, setelah tidak lagi menjabat di DHRM, dia masih kerap mendapat banyak motivasi dari perempuan yang akrab dia sapa Bunda tersebut. ”Ada satu perkataan Bunda yang selalu saya ingat dan jadikan patokan,” tuturnya. Yakni, bahwa perempuan bisa melakukan apa pun, tapi jangan pernah melupakan kodrat sebagai seorang muslimah. ARLITA ULYA KUSUMA (*/c2/mas)