Tidak Ada Lebaran di Sudan, Hanya Pertumpahan Darah

Tidak Ada Lebaran di Sudan, Hanya Pertumpahan Darah - JPNN.COM

jpnn.com, KHARTOUM – Sudan masih bergolak. Hingga kemarin, Rabu (5/6), unjuk rasa massa anti dan pro pemerintah yang diwarnai bentrokan belum berakhir. Korban terus berjatuhan. Sejauh ini, tidak kurang dari 60 nyawa melayang dari dua kubu. Idulfitri alias lebaran yang biasanya diperingati dengan perayaan di jalanan ibu kota pun terpaksa batal.

“Kami tidak berani keluar rumah. Kami terlalu takut,” kata seorang penduduk Khartoum.

Di mana-mana personel paramiliter dan serdadu Sudan berjaga. Ada juga kelompok bersenjata yang bersiaga. “Mereka membawa senjata. Mereka mengancam dan menyiksa siapa saja yang mereka temui di jalanan,” kata Sulaima, salah seorang warga.

BACA JUGA: Paus Fransiskus Mendadak Cium Kaki Pemimpin Sudan dan Memohon

Komite Dokter Sudan, penggerak massa anti pemerintah, melaporkan bahwa aparat mengakibatkan sepuluh demonstran dari kubunya tewas kemarin. Pertumpahan darah terjadi di ibu kota dan Kota Omdurman. Bukan hanya permukiman atau lokasi unjuk rasa, kabarnya aparat juga menyerbu rumah sakit dan tempat-tempat yang seharusnya bebas serangan.

Ketegangan masih menyelimuti Khartoum pasca penembakan pengunjuk rasa dalam aksi protes Senin (3/6). Dewan Transisi Militer alias Transitional Military Council (TMC) melepaskan tembakan untuk membubarkan massa yang tidak bisa dikendalikan. Akibat aksinya, TMC panen kecaman dari masyarakat internasional.

Konflik aparat melawan sipil itu mengundang keprihatinan asosiasi dokter-dokter asal Sudan (Sudanese Doctors Union) di Inggris. “Mereka menyerang rumah sakit. Kekejian itu sudah berlangsung sekian lama di Darfur, Nuba Mountains, dan Blue Nile,” kata Hussam Almujammer dalam jumpa pers di Royal College of Pathologists, London, sebagaimana dilansir Agence France-Presse.

Dari lokasi yang sama, Hashim Mukhtar mengatakan bahwa tentara Sudan juga memerkosa sejumlah perempuan di markas utama mereka di Khartoum.

Sumber : Jawa Pos